Usia dan Wafat Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه

Posted on 13 Februari 2011. Filed under: Abu Bakar Ash-Shiddiq | Tag:, , |

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata36, “Abu Bakar ash-Shiddiq wafat pada hari senin di malam hari, ada yang mengatakan bahwa Abu Bakar wafat setelah Maghrib (malam selasa) dan dikebumikan pada malam itu juga yaitu tepatnya 8 hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir tahun 13 H, setelah beliau mengalami sakit selama 15 hari. Pada waktu itu Umar menggantikan posisinya sebagai imam kaum muslimin dalam shalat. Ketika sakit beliau menuliskan wasiatnya agar tampuk pemerintahan kelak diberikan kepada Umar bin al-Khaththab, dan yang menjadi juru tulis waktu itu adalah Utsman bin Affan, Setelah surat selesai segera dibacakan kepada segenap kaum muslimin, dan mereka menerimanya dengan segala kepatuhan dan ketundukan.37

Masa kekhalifahannya berjalan selama 2 tahun 3 bulan38, dan beliau wafat pada usia 63 tahun39 persis dengan usia Nabi صلى الله عليه وسلم, akhirnya Allah mengumpulkan jasad mereka dalam satu tanah, sebagaimana Allah mengumpulkan mereka dalam kehidupan.

Sebelum wafat beliau telah mewasiatkan agar seperlima dari hartanya disedekahkan sembari berkata, “Aku akan menyedekahkan hartaku sejumlah yang Allah ambil dari harta fai’ kaum muslimin.40

Ketika beliau dalam kondisi sekarat, ada yang berkata kepadanya, “Maukah anda jika kami carikan seorang dokter?” Maka spontan dia menjawab, “Dia telah melihatku (maksudnya Allah) dan Dia berkata, “Sesungguhnya Aku akan berbuat apa-apa yang Kukehendaki”.41

Disebutkan bahwa sebab beliau jatuh sakit dan wafat bahwa beliau dan al-Harits -seorang dokter yang masyhur- pernah memakan khazirah42 yang dihadiahkan kepada Abu Bakar, maka setelah memakan daging itu berkata al-Harits, “Angkatlah tangan anda wahai Khalifah Rasulullah, demi Allah sesungguhnya daging ini telah beracun, maka Abu Bakar segera mengangkat tangannya, sejak itu keduanya selalu merasa sakit hingga akhirnya keduanya wafat satu tahun kemudian.43

Versi lain ada yang mengatakan bahwa sebab wafatnya beliau karena mandi pada waktu musim dingin yang bersangatan, yang membuat beliau demam lalu wafat karena itu.

Dalam keadaan sakit beliau melantunkan sebuah bait syair,

Engkau selalu memberikan kabar duka cita atas kematian kekasihmu

Hingga kini engkaulah yang akan merasakan kematian itu

Banyak orang memiliki cita-cita

Namun kematian jualah yang menghadang segalanya44.

Ketika sakaratul maut pertanda ajal yang akan menjemputnya datang, putrinya ‘Aisyah -Ummul mukminin- membacakan sebuah bait syair,

Sesungguhnya tidak guna kekayaan bagi seseorang

Ketika dada terasa sempit dan susah bernafas

Mendengar itu beliau memandang kepada ‘Aisyah رضي الله عنها seolah-olah marah dan berkata, “Jangan katakan demikian wahai Ummul mukminin, namun katakan,

وَجَاءتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

” Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (Qaf: 19).

Di antara wasiat beliau kepada ‘Aisyah, Aku tidak meninggalkan harta untuk kalian kecuali hewan yang sedang hamil, serta budak yang selalu membantu kita untuk membuat pedang kaum muslimin, karena itu jika aku  wafat tolong berikan seluruhnya kepada Umar. Ketika ‘Aisyah menunaikan wasiat itu kepada Umar maka Umar berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sesungguhnya dia telah membuat kesulitan (untuk mengikutinya) bagi orang-orang yang menjadi khalifah setelahnya.45

Ketika Salman al-Farisi datang menjenguknya, Salman berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah صلى الله عليه وسلم berikan aku wasiat, sebab kulihat engkau tidak akan dapat lagi melakukannya setelah hari ini.” Maka Abu Bakar menjawab, wahai Salman, pasti akan terjadi penaklukan (negeri-negeri kafir) tapi aku tidak pernah mengetahui apa-apa yang engkau peroleh dari bagianmu kecuali apa-apa yang dapat engkau makan dan engkau masukkan ke dalam perutmu, atau apa-apa yang dapat kau kenakan di atas punggungmu (pakaianmu), dan ketahuilah sesungguhnya barangsiapa yang mengerjakan shalat lima waktu, maka dia telah berada dalam lindungan Allah pada pagi hari maupun sore harinya, dan jangan sampai engkau membunuh seorang ahli dzimmah, maka kelak Allah pasti akan menuntutmu di hari kiamat dan mencampakkan dirimu dalam keadaan tersungkur dengan wajahmu ke dalam neraka.46

Ibn Sa’ad menyebutkan dengan sanadnya dari al-Qashim bin Muhammad dia berkata, “Abu Bakar dikafankan dalam dua kain, kain yang berwarna putih, dan satu lagi berwarna lain, beliau berpesan, ‘Sesungguhnya orang yang masih hidup lebih membutuhkan kain dari orang yang telah mati, sebab kain kafan hanyalah menutup apa-apa yang akan keluar dari hidung maupun mulutnya’.”47

Beliau dimakamkan bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam kamar (‘Aisyah) dan beliau dishalatkan oleh Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه.

Beliaulah yang pertama kali diangkat oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai amir dalam pelaksanaan ibadah haji pertama dalam Islam yaitu pada tahun 9 H, dan pada tahun berikutnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم baru melaksanakan ibadah haji Wada’. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk menjadi amir haji pada tahun 11 H, dan tahun berikutnya barulah beliau berangkat haji.48

________________________________________________________________________________________________

36 Al-Bidayah wan Nihayah, 7/18.

37 Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/202, Tarikh ath-Thabari, 3/420.

38 Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/202, Tarikh ath-Thabari/3/420 dan dia menambahkan masa kekhalifahannya lebih sepuluh hari, adapun Ibnu Katsir menghapuskan hitungan malam hari, dan Ibnu Sa’ad ada juga menyebutkan pendapat lainnya.

39 Ibnu Sa’ad, dan ini disepakati 3/202.

40 Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/194.

41 Ibid, 3/198.

42 Yaitu daging yang telah lewat satu hari, yang dicampur dengan tepung setelah dimasak . (Al-Lisan, 4/237).

43 Ath-Thabaqat al-Kubra, 3/198.

44 Ibid

45 Ibid, 3/192 dengan sanad yang shahih.

46 Ibid, 3/193 dengan sanad la ba’sa bihi (tidak mengapa)

47 Ibid, 3/204 dengan sanad yang shahih. Dan dia menyebutkan riwayat lain seputar masalah ini

48 Ibid, 3/177.

Disalin dari :
ترتيب وتهذيب كتاب البداية والنهاية
Judul Asli: Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah
Penulis: al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir
Pennyusun: Dr.Muhammad bin Shamil as-Sulami
Penerbit: Dar al-Wathan, Riyadh KSA. Cet.I (1422 H./2002 M)
Edisi Indonesia: Al-Bidayah wan-Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin
Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari
Muraja’ah: Ahmad Amin Sjihab, Lc
Penerbit: Darul Haq, Cetakan I (Pertama) Dzulhijjah 1424 H/ Pebruari 2004 M.

 

Qadhi, Sekretaris dan Pemungut Zakat di Masa Kekhalifahan Abu Bakar رضي الله عنه <- Daftar Isi

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: