Mencintai Para Sahabat dan Ahlul Bait Rasulullah

Posted on 2 Maret 2011. Filed under: Manhaj | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , |

Mencintai Para Sahabat dan Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tidak diragukan lagi bahwa para sahabat adalah orang-orang terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi mereka adalah generasi terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia, hal ini selaras dengan ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku” (yakni para sahabat, pent).

Adalah merupakan aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah mencintai para sahabat dan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa harus bersikap ekstrem dalam mencintainya, tetapi tidak juga bersikap merendahkan atau bahkan mencemoohkannya. Pendek kata, aqidah ahlussunnah wal jama’ah dalam hal para sahabat Nabi dan ahlul bait pertengahan antara ifrath dan tafrith, serta ghuluw dan jafaa’, antara rafidhah -semoga Allah menjelekkan mereka-, khawarij dan nawasib.

  • Kaum rafidhah (syi’ah) mengatakan, “Tidak ada loyalitas terhadap ahlul bait, kecuali dengan berlepas diri dari para sahabat, barangsiapa yang tidak berlepas diri dari para sahabat, maka ia tidak mencintai ahlul bait.”
  • Lain lagi dengan Khawarij, mereka mengkafirkan Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma beserta para sahabat lainnya yang bersamanya, menghalalkan darah dan harta-hartanya.
  • Adapun nasibi / nawasib, mereka adalah orang-orang yang menancapkan api permusuhan terhadap ahlul bait, mencelanya dan berlepas diri darinya.

Ahlussunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang Allah telah berikan hidayah padanya untuk mengetahui keutamaan-keutamaan para sahabat sehingga mereka mencintainya (para sahabat) karena kesetiaannya terhadap Rasulullah, kepeloporannya dalam hal itu, perjuangannya membela Islam, dan berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mereka menjaga diri dari membicarakan kesalahan-kesalahannya para sahabat karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Jika disebutkan para sahabatku maka tahanlah” (yakni dari membicarakan kesalahannya, pent) (HR Abu Nu’aim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

Ahlussunnah meyakini bahwa orang yang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian Umar bin Al-Khaththab lalu Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhum.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Kami sedang berbincang -dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di hadapan kami- bahwa sebaik-baik orang setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Nabipun mendengar hal itu dan beliau tidak mengingkarinya.” (HR Bukhari). Juga telah datang riwayat secara mutawatir bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata saat khutbah,

“Umat yang paling afdhal setelah Nabi adalah Abu Bakar lalu Umar…”

Setelah mereka yang terbaik adalah lima orang ahli syura yakni Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Saad, dan Thalhah. Kemudian setelah mereka adalah ahli Badar dari Muhajirin dan Ahli Badar dari Anshar dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya. Semoga Allah meridhai semuanya.

Para pembaca,

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mencintai muslim dan muslimah dari keturunan Abdul Muthalib, begitu pula mencintai seluruh istri-istri Rasulullah, memuji semuanya, dan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya yang paling tepat dengan adil dan inshaf, tidak dengan hawa nafsu dan kedengkian, mereka mengetahui keutamaan orang-orang yang Allah kumpulkan padanya kemuliaan iman dan kemuliaan nasab, siapa saja yang tergolong ahlul bait dari para sahabat Nabi, maka mereka mencintainya karena keimanannya, ketakwaannya, dan kesetiannya serta kekeluargaannya dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Mereka yakni ahlussunnah wal jama’ah mencintai ahlul bait Rasulullah dan berloyalitas padanya, mereka menjaga betul wasiat Rasulullah saat berkata, “Aku ingatkan kalian pada ahlul baitku.” Dan saat berucap, “Demi yang jiwaku ada di genggamanNya, kalian tidak beriman hingga kalian mencintai Allah dan keluargaku.” Mereka (ahlussunnah) mencintai istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ummahatul mu`minin, serta mengimani bahwa mereka adalah istri-istri beliau di akhirat…”

.

Keutamaan Ahlul Bait dalam Al Qur`an dan As Sunnah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا . وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا . يَا نِسَاء النَّبِيِّ مَن يَأْتِ مِنكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا . وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُّؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا . يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا . وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridha-an) Allah dan RasulNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. Hai istri-istri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan RosulNya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rizki yang mulia. Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkan perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al Ahzab: 28-33).

Makna firman Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya” ini menunjukkan keutamaan keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang diharamkan atasnya shodaqoh (menerimanya, red), yang terkhusus dari mereka adalah istri-istrinya dan keturunannya.

Dalam Shahih Muslim no 2276, dari Watsilah bin al Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“‘Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunannya Ismail dan memilih Quraisy dari Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim.”

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Al Hasan bin Ali datang lalu Nabi menyuruhnya masuk, kemudian datang Husain dan masuk bersamanya, lalu datang Fatimah dan Ali dan menyuruhnya masuk, kemudian beliau membaca (ayat), “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.'” (HR Muslim no 2424).

.

Keutamaan Ahlul Bait di Mata Para Sahabat

Telah diketahui secara umum bahwa para khulafa` ar rasyidin yang empat adalah mertua dan menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma memiliki kemuliaan yang lebih dimana Rasulullah menikahi putri-putrinya: ‘Aisyah dan Hafshah, sedang Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhuma juga mempunyai kemuliaan yang lebih dimana mereka menikahi putri-putri Rasulullah. Utsman menikah dengan Ruqayyah dan setelah ia (Ruqayyah) meninggal dunia kemudian menikah dengan saudaranya yakni Ummu Kultsum, sehingga Utsman digelari “Dzunnuraini”. Adapun Ali menikah dengan Fatimah radhiyallahu ‘anha.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ali, “Demi yang jiwaku ada di genggamanNya, aku lebih menyukai untuk menyambung (silaturrahmi) dengan keluarga Rasulullah daripada keluargaku sendiri.” (HR Bukhari no 3712).

Dalam riwayat lain no 3713, beliau berkata, “Jagalah Rasulullah dan ahli baitnya” bahkan pernah pada suatu hari setelah beliau menunaikan shalat ashar, ia melihat Hasan bermain dengan anak-anak seusianya lalu beliaupun memanggulnya di atas pundaknya. (HR Bukhori no: 3542).

Umar ibnul Khaththab ketika ditimpa kemarau ia mendatangi Abbas bin Abdul Muthallib bertawassul -meminta do’a darinya- (HR Bukhori no: 1010 dan 3710). Bertawassulnya beliau kepada Abbas adalah karena hubungan keluarganya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliaupun berkata dalam tawassulnya, “Sesungguhnya kami bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami.” Dalam kesempatan lain ia pernah berkata kepada Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Demi Allah, keislamanmu pada hari engkau masuk Islam lebih aku cintai / sukai daripada Islamnya Khattab jika dia masuk Islam, karena keislamanmu lebih disukai oleh Rasulullah daripada keislaman Khattab.” (Tafsir Al Qur`anul Adzim: 4/116).

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling mirip perangainya dengan Rosulullah, baik saat berdirinya maupun saat duduknya selain dari Fatimah binti Rasulullah.” (HR Abu Daud no 5217, Tirmidzi no 3872).

Para pembaca, sangatlah banyak riwayat-riwayat dan atsar para sahabat, para tabi’in, serta tabi’it tabi’in dan ahlil ilmi yang menunjukkan akan kecintaan, penghormatan, dan pengagungan mereka terhadap ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian kaum muslimin ahlussunnah wal jama’ah semua bersepakat untuk mencintai dan mengagungkan para sahabat dan ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berlepas diri dari sikap ekstremnya dan kezhalimannya kaum Syi’ah Rafidhah, Bathiniyah, Ismailiyah, dan Itsna Atsariyah dari kalangan Syi’ah serta Khawarij terhadap para sahabat dan ahlul baitnya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wal ‘ilmu ‘indallah.

 


Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.

sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=349

 

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Mencintai Para Sahabat dan Ahlul Bait Rasulullah”

RSS Feed for Maktabah Abi Humaid Comments RSS Feed

hati;hati terhadap ajaran syi’ah karena ajaran mereka adalah virus cinta.cinta kpd Allah,Rasulnya,ahli baitnya,sesama muslim,sesama manusia dan makhluk Allah yang lainnya.ajaran ini insya ALLAH akan menyesatkan DAN MENYERET anda kedalam Surganya Allah.tolong diteliti ajarannya disertai hati YANG BERSIH dan ikhlas dalam mencari kebenaran.INSYA ALLAH ditunjukkan.amien

Anda telah berdusta!

Anda mengatakan bahwa ajaran syi’ah “mengajarkan cinta kepada sesama muslim”???

Lalu bagaimana kalian (Syi’ah Rafidhah) mengkafirkan orang terbaik dari kaum muslimin yaitu Abu Bakar, Umar.. -radhiyallahu ‘anhuma-???

Sekali lagi Kadzabta!


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: