Archive for Maret 18th, 2011

Surat Al-Fajr سورة الفجر

Posted on 18 Maret 2011. Filed under: Al-Qur'an | Tag:, , , , , |

AL-FAJR
(Fajar)

 

MUQADDIMAH

Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Lail. Nama “Al-Fajr” diambil dari kata “Al-Fajr” yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya “fajar”.

Pokok-pokok isinya:

Allah bersumpah bahwa azab terhadap orang-orang kafir tidak akan dapat dielakkan; beberapa contoh dari umat-umat yang sudah dibinasakan; kenikmatan hidup atau bencana yang dialami oleh seseorang, bukanlah tanda penghormatan atau penghinaan Allah kepadanya, melainkan cobaan belaka; celaan terhadap orang orang yang tidak mau memelihara anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin; kecaman terhadap orang yang memakan harta warisan dengan campur aduk dari orang yang amat mencintai harta; malapetaka yang dihadapi orang-orang kafir di hari kiamat; orang-orang yang berjiwa muthmainnah (tenang) mendapat kemuliaan di sisi Allah.

سورة الفجر
(FAJAR)
Surat ke 89 : 30 ayat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

MEREKA YANG MENENTANG NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM PASTI BINASA SEPERTI UMAT-UMAT DAHULU YANG MENENTANG RASULNYA.

وَالْفَجْرِ
1. Demi fajar,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ
2. dan malam yang sepuluh[1],

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
3. dan yang genap dan yang ganjil,

وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
4. dan malam bila berlalu.

هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ
5. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ
6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ’Aad?,

إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ
7. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi[2],

الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ
8. yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,

وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ
9. dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah[3],

وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
10. dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak),

الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلاَدِ
11. yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,

فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ
12. lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ
13. karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab,

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
14. sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

KEKAYAAN DAN KEMISKINAN ADALAH UJIAN TUHAN BAGI HAMBA-HAMBANYA.

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاَهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
15. Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”[4].

كَلاَّ بَل لاَّ تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
17. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim[5],

وَلاَ تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
18. dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلاً لَّمًّا
19. dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
20. dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

PENYESALAN MANUSIA YANG TENGGELAM DALAM KEHIDUPAN DUNIAWI DI HARI KIAMAT.

كَلاَّ إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا
21. Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut,

وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
22. dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى
23. dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
24. Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shaleh) untuk hidupku ini.”

فَيَوْمَئِذٍ لاَّ يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ
25. Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya[6],

وَلاَ يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ
26. dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.

PENGHARGAAN ALLAH TERHADAP MANUSIA YANG SEMPURNA IMANNYA.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
27. Hai jiwa yang tenang.

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

وَادْخُلِي جَنَّتِي
30. dan masuklah ke dalam surga-Ku.

 

PENUTUP
Surat Al Fajr mengemukakan contoh umat yang ditimpa azab dan beberapa sifat manusia yang tercela, serta menegaskan kemuliaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang yang berjiwa tenang.

HUBUNGAN SURAT AL-FAJR DENGAN SURAT AL-BALAD:

1.      Dalam surat Al-Fajr terdapat celaan kepada orang yang amat mencintai harta, yang memakan harta warisan dengan campur aduk dan tidak membantu orang-orang miskin, sedang pada surat Al-Balad dijelaskan penggunaan harta yang terpuji di sisi Allah yaitu memerdekakan hamba sahaya, memberi makan anak yatim dan anak-anak miskin.

2.      Pada akhir surat Al-Fajr manusia dibagi kepada ahli neraka dan ahli surga. Sedang pada akhir surat Al-Balad disebutkan bahwa manusia dibagi kepada golongan kanan dan golongan kiri.


(1) Malam sepuluh itu ialah malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Dan ada pula yang mengatakan sepuluh yang pertama dari bulan Muharram termasuk di dalamnya hari Asyura. Ada pula yang mengatakan bahwa malam sepuluh itu ialah sepuluh malam pertama pada bulan Zulhijjah.

(2) Iram ialah ibu kota kaum ’Aad.

(3) Lembah ini terletak di bagian utara jazirah Arab antara kota Madinah dan Syam. Mereka memotong-motong batu gunung untuk membangun gedung-gedung tempat tinggal mereka dan ada pula yang melubangi gunung-gunung untuk tempat tinggal mereka dan tempat berlindung.

(4) Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliayaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. Tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.

(5) Yang dimaksud dengan “tidak memuliakan anak yatim” ialah tidak memberikan hak-haknya dan tidak berbuat baik kepadanya.

(6) Maksudnya: kekerasan azab Allah sesuai dengan keadilan-Nya.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Surat Al-Balad سورة البلد

Posted on 18 Maret 2011. Filed under: Al-Qur'an | Tag:, , , , , |

AL-BALAD
(Negeri)

 

MUQADDIMAH

Surat Al-Balad terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Qaaf.
Dinamai “Al-Balad” diambil dari perkataan “Al-Balad” yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah kota Makkah (Tanah haram).

Pokok-pokok isinya:

Manusia diciptakan Allah untuk berjuang menghadapi kesulitan; janganlah manusia terpedaya oleh kekuasaan dan harta benda yang banyak yang telah dibelanjakannya; beberapa peringatan kepada manusia atas beberapa ni’mat yang telah diberikan Allah kepadanya dan bahwa Allah telah menunjukkan jalan-jalan yang akan menyampaikannya kepada kebahagiaan dan yang akan membawanya kepada kecelakaan.

سورة البلد
(NEGERI)
Surat ke 90 : 20 ayat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

HIDUP MANUSIA PENUH DENGAN PERJUANGAN.

لاَ أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ
1. Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah),

وَأَنتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ
2. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini,

وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ
3. dan demi bapak dan anaknya.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ
5. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?

يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًا
6. Dia mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”.

أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ
7. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ
8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata,

وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
9. lidah dan dua buah bibir.

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan[1].

فَلاَ اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ
11. Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ
12. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?

فَكُّ رَقَبَةٍ
13. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
14. atau memberi makan pada hari kelaparan,

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,

أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
16. atau orang miskin yang sangat fakir.

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
17. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ
18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
19. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.

عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ
20. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.

 

PENUTUP
Surat At-Balad mengutarakan bahwa manusia haruslah bersusah-payah mencari kebahagiaan dan Allah sendiri telah menunjukkan jalan yang membawa kepada kebaikan, dan jalan yang membawa kepada kesengsaraan. Tuhan menggambarkan bahwa jalan yang membawa kepada kebahagiaan itu lebih sulit menempuhnya daripada yang membawa kepada kesengsaraan.

HUBUNGAN SURAT AL-BALAD DENGAN SURAT ASY-SYAMS:

1.      Kedua surat ini sama-sama menerangkan bahwa Allah telah menunjukkan kepada manusia dua buah jalan yaitu jalan yang pada surat Asy-Syams disebut jalan kefasikan dan jalan ketakwaan.

2.      Pada surat Asy-Syams ditegaskan bahwa orang yang menjalani jalan ketakwaan itu akan berbahagia dan orang yang menjalani jalan kefasikan itu akan merugi.

 


(1) Yang dimaksud dengan “dua jalan” ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Surat Asy-Syams سورة الشمس

Posted on 18 Maret 2011. Filed under: Al-Qur'an | Tag:, , , , , |

ASY SYAMS
(Matahari)

 

MUQADDIMAH

Surat Asy-Syams terdiri atas 15 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Qadr.
Dinamai “Asy-Syams” (matahari), diambil dari perkataan Asy-Syams yang terdapat pada ayat permulaan surat ini.

Pokok-pokok isinya:

Kaum Tsamud telah dihancurkan Allah karena kedurhakaannya. Tuhan menegaskan bahwa hal ini adalah mudah bagi-Nya, sebagaimana mudahnya menciptakan benda-benda alam, siang dan malam dan menciptakan jiwa yang tersebut dalam sumpah-Nya; Allah memberitahukan kepada manusia jalan ketakwaan dan jalan kekafiran; manusia mempunyai kebebasan memilih antara kedua jalan itu.

سورة الشمس
(MATAHARI)
Surat ke 91 : 15 ayat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

MANUSIA DIILHAMI ALLAH JALAN YANG BURUK DAN YANG BAIK.

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا
1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,

وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا
2. dan bulan apabila mengiringinya,

وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا
3. dan siang apabila menampakkannya,

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا
4. dan malam apabila menutupinya[1],

وَالسَّمَاء وَمَا بَنَاهَا
5. dan langit serta pembinaannya,

وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا
6. dan bumi serta penghamparannya,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا
11. (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,

إِذِ انبَعَثَ أَشْقَاهَا
12. ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,

فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا
13. lalu Rasul Allah (Shaleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”.

فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا
14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah),

وَلاَ يَخَافُ عُقْبَاهَا
15. dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu.

 

PENUTUP
Surat Asy-Syams berisi dorongan kepada manusia untuk membersihkan jiwanya agar mendapat keberuntungan di dunia dan akhirat dan menyatakan bahwa Allah akan menimpakan azab kepada orang-orang yang mengotori jiwanya seperti halnya kaum Tsamud.

HUBUNGAN SURAT ASY-SYAMS DENGAN SURAT AL-LAIL:
Surat Asy Syams menerangkan bahwa orang menyucikan jiwanya akan memperoleh keberuntungan dan orang yang mengotori jiwanya akan diazab Allah, sedang surat Al-Lail menerangkan perbuatan yang menyucikan jiwa itu sehingga menghasilkan keuntungan dan perbuatan yang mengotorkan jiwa sehingga menghasilkan kerugian.


(1) Maksudnya: malam-malam yang gelap.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Surat Al-Lail سورة الليل

Posted on 18 Maret 2011. Filed under: Al-Qur'an | Tag:, , , , , |

AL-LAIL
(Malam)

 

MUQADDIMAH

Surat Al-Lail terdiri atas 21 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al-A’laa.
Surat ini dinamai “Al Lail” (malam), diambil dari perkataan “Al-Lail” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Pokok-pokok isinya:

Usaha manusia itu berlainan, karena itu balasannya berlainan pula; orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat, harta benda tidak akan memberi manfa’at kepadanya; orang yang bakhil merasa dirinya cukup dan mendustakan adanya pahala yang baik.

سورة الليل
(MALAM)
Surat ke 92 : 21 ayat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

USAHA MANUSIA ADALAH BERMACAM-MACAM YANG TERPENTING IALAH MENCARI KERIDHAAN ALLAH.

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
1. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),

وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى
2. dan siang apabila terang benderang,

وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى
3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan,

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى
4. sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.

فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى
5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,

وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى
6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى
7. maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى
8. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup[1],

وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى
9. serta mendustakan pahala yang terbaik,

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى
10. maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.

وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى
11. Dan hartanya tidak bermanfa’at baginya apabila ia telah binasa.

إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى
12. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,

وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَى
13. dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.

فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى
14. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.

لاَ يَصْلَاهَا إِلاَّ الْأَشْقَى
15. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,

الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى
16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى
17. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,

الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى
18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,

وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى
19. padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya,

إِلاَّ ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى
20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.

وَلَسَوْفَ يَرْضَى
21. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

 

PENUTUP
Surat Al-Lail menerangkan bahwa amalan-amalan yang dikerjakan dengan tulus ikhlas semata-mata mencari keridaan Allah itulah yang membawa kebahagiaan di akhirat kelak.

HUBUNGAN SURAT AL-LAIL DENGAN SURAT ADH-DHUHAA:
Pada surat Al-Lail diterangkan bahwa orang yang takwa akan dimudahkan Allah mengerjakan perbuatan takwa sehingga memperoleh kebahagiaan. Sedang pada surat Adh Dhuhaa diterangkan bahwa keberuntungan di akhirat lebih baik dari keberuntungan di dunia.

 


(1) Yang dimaksud dengan “merasa dirinya cukup” ialah tidak memerlukan lagi pertolongan Allah dan tidak bertakwa kepada-Nya.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Surat Adh-Dhuhaa سورة الضحى

Posted on 18 Maret 2011. Filed under: Al-Qur'an | Tag:, , , , , |

ADH-DHUHAA
(Waktu Matahari Sepenggalahan Naik)

 

MUQADDIMAH

Surat ini terdiri atas 11 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturunkan sesudah surat Al-Fajr. Nama “Adh-Dhuhaa” diambil dari kata “Ad-Dhuhaa” yang terdapat pada ayat pertama, artinya: waktu matahari sepenggalahan naik.

Pokok-pokok isinya:

Allah subhanahu wa ta’ala sekali-kali tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, isyarat dari Allah subhanahu wa ta’ala bahwa kehidupan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan dakwahnya akan bertambah baik dan berkembang; larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut ni’mat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.

سورة الضحى
(WAKTU MATAHARI SEPENGGALAHAN NAIK)
Surat ke 93 : 11 ayat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

BEBERAPA NI’MAT YANG DIANUGERAHKAN KEPADA NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM.

وَالضُّحَى
1. Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى
2. dan demi malam apabila telah sunyi,

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى
3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu[1],

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَى
4. dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan[2].

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى
5. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.

وَوَجَدَكَ ضَالاًّ فَهَدَى
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung[3], lalu Dia memberikan petunjuk.

وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَى
8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلاَ تَقْهَرْ
9. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلاَ تَنْهَرْ
10. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
11. Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

 

PENUTUP
Surat Adh-Dhuhaa, menerangkan tentang bimbingan dan pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dengan cara yang tak putus-putusnya dan mengandung pula perintah kepada Nabi supaya mensyukuri segala nikmat itu.

HUBUNGAN SURAT ADH-DHUHAA DENGAN SURAT AL-INSYIRAAH:

1.      Kedua surat ini amat erat hubungannya karena sama-sama ditujukan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

2.      Kedua surat ini sama-sama menerangkan nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala dan memerintahkan kepada Nabi untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu.

 


(1) Maksudnya: ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam terhenti untuk sementara waktu, orang-orang musyrik berkata: “Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya”. Maka turunlah ayat ini untuk membantah perkataan orang-orang musyrik itu.

(2) Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan “akhirat” dengan “kehidupan akhirat” beserta segala kesenangannya dan “ula” dengan arti “kehidupan dunia”.

(3) Yang dimaksud dengan “bingung” di sini ialah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Surat Asy-Syarh سورة الشرح

Posted on 18 Maret 2011. Filed under: Al-Qur'an | Tag:, , , , , |

ALAM NASYRAH
(Bukankah Kami Telah Melapangkan)

 

MUQADDIMAH

Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturunkan sesudah surat Adh-Dhuhaa. Nama “Alam Nasyrah” diambil dari kata “Alam Nasyrah” yang terdapat pada ayat pertama. yang berarti bukankah Kami telah melapangkan. Ayat ini juga dinamakan “Asy-Syarh” dan “Al-Insyiraah” (Melapangkan).

Pokok-pokok isinya:

Penegasan tentang ni’mat-ni’mat Allah s.w.t. yang diberikan kepada Nabi Muhammad s.a.w., dan pernyataan Allah bahwa di samping kesukaran ada kemudahan karena itu diperintahkan kepada Nabi agar tetap melakukan amal-amal saleh dan bertawakkal kepada-Nya.

سورة الشرح
(MELAPANGKAN)
Surat ke 94 : 8 ayat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

PERINTAH ALLAH KEPADA MUHAMMAD SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM AGAR TERUS BERJUANG DENGAN IKHLAS DAN TAWAKKAL.

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
2. Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,

الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ
3. yang memberatkan punggungmu?[1]

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
4. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu[2].

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain[3],

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

 

PENUTUP
Surat Alam Nasyrah ini merupakan tasliyah (penghibur hati) bagi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

HUBUNGAN SURAT ALAM NASYRAH DENGAN SURAT AT-TIIN:
Dalam surat Alam Nasyrah, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan perintah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam selaku manusia sempurna. Maka dalam surat At-Tiin, diterangkan bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang mempunyai kesanggupan baik lahir maupun batin. Kesanggupannya itu menjadi kenyataan bilamana mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.


(1) Yang dimaksud dengan “beban” di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dalam menyampaikan risalah.

(2) Meninggikan nama Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam di sini maksudnya ialah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan ta’at kepada Nabi termasuk ta’at kepada Allah dan lain-lain.

(3) Maksudnya: sebagian ahli Tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berda’wah, maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, maka kerjakanlah urusan akhirat.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Surat At-Tiin سورة التين

Posted on 18 Maret 2011. Filed under: Al-Qur'an | Tag:, , , , , |

AT-TIIN
(Buah Tin)

MUQADDIMAH

Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Buruuj. Nama At-Tiin diambil dari kata “At-Tiin” yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya buah tin.

Pokok-pokok isinya:

Manusia makhluk yang terbaik rohaniah dan jasmaniah, tetapi mereka akan dijadikan orang yang amat rendah jika tidak beriman dan beramal shaleh; Allah adalah Hakim Yang Maha Adil.

سورة التين
(BUAH TIN)
Surat ke 95 : 8 ayat

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

MANUSIA DICIPTAKAN DALAM BENTUK YANG SEBAIK-BAIKNYA.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1],

وَطُورِ سِينِينَ
2. dan demi bukit Sinai[2],

وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
3. dan demi kota (Makkah) ini yang aman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

YANG MENJADI POKOK KEMULIAAN MANUSIA IALAH IMAN DAN AMALNYA.

إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

PENUTUP
Surat At-Tiin menerangkan kedudukan manusia dan keadilan Allah subhanahu wa ta’ala.

HUBUNGAN SURAT AT-TIIN DENGAN SURAT AL-’ALAQ:

1.      Surat At Tiin menerangkan bentuk kejadian manusia dan surat Al ’Alaq menerangkan bahwa manusia dijadikan pada permulaannya dari segumpal darah.

2.      Pada surat Al ’Alaq dijelaskan lagi beberapa sifat-sifat manusia yang menjadikan mereka hina dan sengsara, dan sifat-sifat manusia yang menjadikan mereka berbahagia.


(1) Yang dimaksud dengan “Tin” oleh sebagian ahli Tafsir ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak tumbuh pohon Tin; dan “Zaitun” ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh zaitun.

(2) “Bukit Sinai” yaitu tempat Nabi Musa ‘alaihissalam menerima wahyu dari Tuhannya.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...