Sambutan para Ulama’ tentang buku kesesatan Qaradhawi

Posted on 28 Desember 2010. Filed under: Manhaj | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , |

Sambutan Syaikh Al ‘Allamah Muhaddits Ad Diyar Al Yamaniah Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah

Segala puji bagi Allah. Kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan, ampunan, dan perlindungan dari kejelekan diri dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim yahudi dan rahib-rahib nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. At Taubah : 34)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengingatkan bahayanya ulama su’ :

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini dan berkata : ‘Kami akan diberi ampun.’ Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?” (QS. Al A’raf : 169)

Dalam satu riwayat yang shahih, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Yang paling aku khawatirkan dari hal-hal yang sangat aku khawatirkan kepada umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah.”

Dalam Sunan Abu Daud diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radliyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Pada hari kiamat ada seorang lelaki yang dihadapkan lalu dilemparkan ke dalam neraka sampai terburai isi perutnya. Lalu ia berputar-putar laksana keledai yang berputar-puter mengelilingi penggiling gandum. Maka para penghuni neraka berkerumun kepadanya dan bertanya : ‘Hai Fulan, mengapa kamu masuk di sini, bukankah kamu dulu orang yang memerintahkan kami kepada kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’ Ia menjawab : ‘Dulu saya memang memerintahkan kalian kepada kebaikan namun saya tidak menjalankannya dan saya melarang kalian dari kemungkaran namun saya melakukannya.’”

Alhamdulillah. Tiada seorang pun dai penyeru kepada kesesatan dari kalangan ulama jahat melainkan ada panah Ahlus Sunnah yang membidiknya sampai dia tersungkur dan tersingkap kebobrokannya. Para dai Ahlus Sunnah senantiasa memperingatkan kaum Muslimin dari kebathilan dan kesesatan ulama jahat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil lalu yang hak itu menghancurkannya maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap.” (QS. Al Anbiya’ : 18)

Di antara sekian banyak dai dhalalah yang menyeru kepada kesesatan pada jaman sekarang ini adalah Yusuf Al Qaradhawi, mufti Qatar. Sungguh dia telah menjadi amunisi baru bagi musuh-musuh Islam. Dia telah mencurahkan pena dan lisannya guna menyerang agama Islam.

Da’i Ahlus Sunnah tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mengarahkan anak panah kepadanya dan menghabisi argumennya sebagaimana mereka telah menghabisi da’i-da’i sesat lainnya. Di antara da’i Ahlus Sunnah yang melakukan demikian adalah Syaikh Al Fadhil Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini. Dia telah banyak meneliti sepak-terjang kesesatan Qaradhawi. Pokok-pokok kesesatan Qaradhawi itu dipatahkannya berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah.

Jazahullah Khairan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan ganjaran yang lebih baik dan memberkahi ilmunya. Semoga Allah menjaganya supaya dia bisa menjaga dien (agama) ini agar bermanfaat bagi Islam dan kaum Muslimin. Amiin.

Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al Wadi’i

Sambutan Syaikh Al Muhaddits Al Faqih Ahmad bin Yahya An Najmi hafidhahullah

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah beserta keluarga dan shahabatnya. Amma Ba’du.

Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini Al Yamani hafidhahullah menyodorkan kepadaku sebuah kitab berjudul Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalafatil Qaradhaawii Li Syarii’atil Islam yang ditulisnya. Setelah menelaahnya, ternyata berisi bantahan terhadap berbagai kesesatan dan penyimpangan Qaradhawi yang tersebar dalam berbagai kitab, wawancara, dan fatwa yang banyak bertebaran di berbagai koran dan majalah. Sejumlah kebathilan Qaradhawi yang dibantah antara lain :

1. Seruannya untuk mencintai yahudi dan nashrani.

2. Propaganda terhadap gerakan pendekatan (penyatuan) berbagai agama dan sering menghadiri muktamar gerakan tersebut.

3. Pendapat bahwa jihad hanya disyariatkan untuk bertahan saja, bukan untuk memerangi orang-orang kafir.

4. Pendapat bahwa demokrasi adalah syura dan telah dibahas secara luas dalam fiqih Islam.

5. Membolehkan wanita untuk bergabung bersama laki-laki di parlemen bahkan memiliki hak untuk memilih dan dipilih.

6. Membolehkan banyaknya hizb (golongan) dan firqah (kelompok) dengan beragam pemikiran dan manhaj yang berbeda, sama halnya dengan banyaknya madzhab dalam bidang fiqih. Karena banyaknya kelompok dan golongan adalah solusi damai bagi umat.

7. Berusaha mencampuradukkan sufi dengan Salafi serta upayanya dalam mensufikan Salafiyah dan mensalafikan sufi dan masih banyak lagi kejahilan dan kesesatan Yusuf Al Qaradhawi yang menghancurkan agama dari dasarnya, bagaikan meruntuhkan bangunan dari pondasinya.

Jazahullah Khairan. Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al’Udaini telah membantahnya dengan menggunakan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah serta atsar dari Salaful Ummah (umat shalih yang terdahulu) dengan bantahan yang membungkamkan lawan. Jazahullah Khairan wa Baaraka fiih. Semoga Allah membalas dan memberkahinya.

Saya sangat menganjurkan kepada para thalabul ‘ilmi (penuntut ilmu) untuk membaca kitab ini. Dalam kitab ini telah dijelaskan secara detail penyakit Islam beserta penawarnya.

Semoga kita mendapatkan pertolongan dan taufik-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beserta keluarga dan shahabatnya.

Jaizan, Shamithah ~ Yaman, 17 Jumadil Tsani 1420 H.

Ahmad bin Yahya An Najmi

Sambutan Syaikh Al Muhaddits Al Fadhil Abu Ibrahim Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washabi hafidhahullah

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Nabi pamungkas yang tidak ada Nabi sesudahnya, beserta keluarga dan shahabatnya. Amma Ba’du.

Saya telah menelaah Kitab Raf’ul Litsaam min Makril Qaradhaawii bi Diinil Islam karya Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini. Kitab ini adalah sebuah risalah yang baik dan bermanfaat bagi orang yang Allah kehendaki untuk mendapat kebaikan dan hidayah.

Jazahullah Khairan Jazaa. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan ganjaran yang sangat baik atas pengorbanan yang telah dicurahkan untuk menasihati Yusuf Al Qaradhawi dan juga umat Islam umumnya. Wajib hukumnya bagi kaum Muslimin untuk menerima kebenaran yang datang kepadanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Yunus : 32)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. Al Mukminun : 71)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengarahkan kita semua kepada jalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan shahabatnya. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Yaman, 12 Rajab 1420 H.

Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washabi Al ‘Abdali

Sambutan Syaikh Al Fadhil Ad Da’iyah Abu An Nashr Muhammad bin Abdullah Al Imam hafidhahullah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan shahabatnya. Amma Ba’du.

Saya sudah menelaah Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalafatil Qaradhaawii Li Syarii’atil Islam karya Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini. Di dalamnya disingkap tirai kebobrokan Yusuf Al Qaradhawi. Barangsiapa yang tidak menututp aib dirinya dengan adanya malam maka aibnya tidak akan tertutup sama sekali pada siang harinya.

Dalam buku ini, penulis juga mengungkap sekilas tentang khurafat Qaradhawi. Bagi orang yang mengutamakan kebenaran, dengan mengetahui perilaku khurafat Qaradhawi ini saja sudah cukup baginya untuk menilai jati diri Qaradhawi yang sebenarnya.

Sebelumnya para ulama telah membabat habis pemikiran Muhammad Al Ghazali ketika ia terperosok ke dalam berbagai penyimpangan yang sangat besar. Kini Yusuf Al Qaradhawi menjadi penerusnya. Al Qaradhawi adalah Al Ghazali kedua pada jamannya.

Ikutilah kelana yang diberkahi ini dan reguklah ilmunya untuk membasahi dahaga dan menghilangkan penyakit. Bagi orang yang adil, tak ada yang patut dilakukan selain bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan para pembela agama ini. Adapun orang yang sombong, walaupun pegunungan dilebur dalam kedua tangannya, dia tetap tak mau mengakui kebenaran.

Semoga kitab ini bisa diterima dan bermanfaat serta mengembalikan Yusuf Al Qaradhawi kepada kebenaran. Amiin.

Muhammad bin Abdullah Al Imam

Sambutan Syaikh Ad Da’iyah Al Muhannik Abu Dzar Abdul Aziz bin Yahya Al Bura’i rahimahullah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan shahabatnya. Amma Ba’du.

Saya telah membaca Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalafatil Qaradhaawii Li Syarii’atil Islam karya Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini. Kitab ini sangat berharga dan bermanfaat. Penulisnya membongkar berbagai perkara yang sebelumnya saya tidak mengira kalau perkara sebathil itu disampaikan oleh Yusuf Al Qaradhawi.

Penulis buku ini telah mencurahkan perhatian yang sangat besar bagi para thalabul ilmi yang lain. Datanya akurat, karena dia mengumpulkan referensi dari berbagai kitab, tulisan, dan risalah Qaradhawi, dilengkapi dengan kliping dari berbagai koran dan majalah.

Kita memuji Allah yang telah menakdirkan salah seorang thalabul ilmi menjadi benteng sunnah dan membantah kebathilan pelakunya. Upaya yang dilakukan oleh penulis buku ini sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah di setiap masa. Kitab-kitab Al Jarh wat Ta’diil (kitab-kitab yang berisi celaan dan pujian terhadap rawi) dan kitab-kitab aqidah senantiasa mengungkap para pelaku kebathilan, kedustaan, dan hawa nafsu.

Sebagian kitab fiqih juga ditulis dengan metode bantahan dan analisa menurut gaya bahasa pengarang yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang keras, tapi ada pula yang sopan-santun dan lemah-lembut.

Tentang Qaradhawi, manhaj ikhwanul muslimin telah mendarah daging dalam dirinya. Sudah pernah saya katakan dan akan selalu saya katakan bahwa ikhwanul muslimin tidak mempunyai seorang alim pun yang layak menjadi referensi dalam ilmu syariah. Jika memang ada seorang alim dalam bidang syariah maka pasti dia telah mendapatkan ilmunya dari luar jamaah ikhwanul muslimin. Sedangkan yang mendapat ilmu dari sesama anggota ikhwanul muslimin lalu menjadi ulama pasti akan melahirkan berbagai penyimpangan. Contoh yang nyata adalah Yusuf Al Qaradhawi dan Muhammad Al Ghazali.

Propaganda penyatuan agama yang dilakukan oleh Al Qaradhawi sebelumnya telah dipelopori oleh Az Zindani dan Hasan At Turabi. Seluruh ikhwanul muslimin mengakui keduanya bahkan keduanya mewakili mereka dalam muktamar Wihdatul Adyan (penyatuan agama) di Sudan.

Propaganda untuk mencintai orang-orang yahudi dan nashrani tidak dilakukan oleh Qaradhawi sendiri tapi dilakukan juga oleh Makmun Al Hudhaibi, tokoh ikhwanul muslimin lainnya. Dalam wawancara di koran Al Muharrir edisi 267, Senin 29 Agustus 1994, Makmun Al Hudhaibi mengatakan :

Bila ada orang Qibthi (nashrani) yang menerima prinsip-prinsip kami maka kami akan segera mencalonkannya untuk menjadi pemimpin-pemimpin kami dan kami tidak akan menuntutnya menjadi seorang Muslim … .

Lalu sang wartawan menimpali : “Kalau begitu kalian tidak mempunyai larangan untuk mencalonkan orang-orang Qibthi –nama suku di Mesir yang mayoritas nashrani– menjadi pemimpin-pemimpin kalian secara langsung?” Al Hudhaibi menjawab :

Bukan hanya itu saja, bahkan kami tidak mempunyai larangan bagi orang Qibthi untuk menjadi anggota ikhwanul muslimin … .

Dalam masalah emansipasi wanita. Di koran yang sama, Al Hudhaibi juga membolehkan perempuan untuk menjadi pemimpin di selatan Mesir selain negeri As Sha’id. Hal itu tidak haram bagi penduduk As Sha’id hanya saja masyarakat tidak mau menerimanya. Ia juga membolehkan perempuan menjadi qadhi (hakim) di beberapa bidang.

Demikian pula Az Zindani. Secara terang-terangan dia mengajukan usulan untuk membuat majelis khusus bagi syaikhah (syaikh wanita/wanita alim) Yaman. Padahal seluruh masyarakat Yaman tidak satu kaum pun yang menjuluki wanita dengan sebutan syaikhah. Untuk menyukseskan idenya, dia menulis buku berjudul Al Mar’atu wa Huquuquhas Siyaasah fil Islaam (perempuan dan hak-hak politiknya dalam Islam).

Hal ini saya jelaskan secara detail agar pembaca mengetahui bahwa Qaradhawi bermanhaj ikhwanul muslimin.

Oleh karena itu, saya sarankan kepada para thalabul ilmi yang sudah mumpuni untuk mengkaji kehidupan Hasan Al Banna secara obyektif, baik sebelum maupun pasca mendirikan ikhwanul muslimin sampai dia meninggal dunia. Bacalah buku-buku tulisan Hasan Al Banna, buku-buku biografi dan perjalanan dakwah yang ditulis oleh para pengagumnya. Perhatikanlah orang-orang yang berpengaruh pada diri Hasan Al Banna dan amati keterkaitannya dengan Madrasah Aqliyah (rasional). Maka akan ditarik kesimpulan bahwa orang-orang ikhwanul muslimin adalah para aqlaniyun (rasionalis).

Jika ada orang datang kepada Hasan Al Banna dengan nash Al Qur’an dan As Sunnah yang sangat terang seperti terangnya matahari di siang bolong, ia akan berkilah, namun kenyataannya begini dan masyarakatnya bagini, juga kemaslahatannya begini, dan seterusnya.

Perhatikan pula hubungan antara tokoh-tokoh ikhwanul muslimin dengan mu’tazilah. Ternyata mereka serupa dalam mendahulukan akal daripada naql (dalil/wahyu). Pembaca juga akan menjumpai di antara mereka ada yang menolak hadits ahad. Mereka juga sepakat terhadap prinsip khuruj (keluar/memberontak) kepada pemerintah Muslim yang dhalim. Ini adalah salah satu prinsip dari prinsip mu’tazilah yang mereka katakan sebagai amar ma’ruf nahi munkar.

Setelah mengkajinya, pembaca akan memahami hakikat ikhwanul muslimin. Maka pembaca harus bersikap adil tanpa menyimpulkan suatu hukum dari nas (Al Qur’an dan As Sunnah) melebihi dari yang ditunjukkan oleh nash tersebut. Jangan berlebihan dan salah dalam menguraikannya lalu menguak hakikat sesuatu yang telah berlalu dalam ketersembunyiannya. Demi Allah, jika bisa melakukan hal ini dengan sempurna maka pembaca akan menjadi penulis yang sangat brilian dan memukau. Maka saat itu kita sudah tidak tersibukkan oleh perilaku ikhwanul muslimin lagi. Bukan berarti kita menunggu agar mereka ridha kepada kita karena kita dan mereka telah seperti yang dikatakan oleh penyair :

Allah mengetahui bahwa kami tidak mencintai kalian

Kami tak mencela jika kalian tidak mencintai kami

Mereka telah menghalalkan dari kami segala sesuatu yang haram bagi mereka, yakni menggunjing, mendustakan, dan lain-lainnya.

Sekadar contoh, di Shan’a, Yaman, ada seorang lelaki yang biasa dipanggil Abdullah Sha’tar (Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i dalam salah satu acara taklim, Abdullah Sha’tar adalah seorang lelaki yang tidak punya ilmu agama sedikit pun. Dia manusia yang paling jahil terhadap Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.) Dia disyaikhkan oleh orang-orang ikhwanul muslimin dan jam’iyah al hikmah. Dia mengeluarkan kaset berjudul asbaabu tafawwuqil yahudi ‘alal muslimiin (sebab-sebab yahudi mengungguli kaum Muslimin).

Dalam kaset tersebut dia sangat melecehkan Ahlus Sunnah :

Sesungguhnya mereka (Ahlus Sunnah) dan orang-orang freemasonry itu bersaudara. Mereka semua adalah intel amerika, yang ini berjenggot dan yang itu tidak berjenggot namun semua menunaikan peranannya masing-masing.

Setelah itu, dia bersumpah atas ucapannya. Dan kaset tersebut masih aku simpan dengan baik. Sampul kaset tersebut bergambar parabola dan jam. Begitulah ia mengatakan. Semoga Allah memberikan sanksi yang seadil-adilnya kepada Abdullah Sha’tar.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga pernah dituduh oleh orang-orang musyrik sebagai intelnya orang-orang ‘ajam (orang-orang di luar Arab) seperti yang dilakukan oleh orang ini (terhadap dai Ahlus Sunnah, pent.).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘ajam sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. (QS. An Nahl : 103)

Alangkah serupanya dua keadaan ini. Benar, ia telah berbicara tanpa memakai perasaan karena telah terbuai oleh budaya barat. Dan orang yang butuh dikasihani ini lupa bahwa salah satu sebab orang kafir lebih unggul daripada kita adalah karena kita kagum terhadap apa yang ada pada mereka. Sedangkan Ahlus Sunnah sepakat bahwa mengajar manusia dengan perkara-perkara dien yang diawali dengan perbaikan aqidah adalah inti keunggulan kaum Muslimin terhadap orang-orang kafir.

Saya tidak sedang membantah Abdullah Sha’tar, namun ini sekedar informasi agar diketahui khalayak khususnya bagi orang-orang yang sudah terpengaruh oleh pemikirannya bahwa dia berseberangan dengan kebenaran. Juga tidak saya kutip ucapan para ulama supaya tidak menambah panjang, karena para ulama juga tidak dipercaya oleh Abdullah Sha’tar.

Perlu juga saya kutipkan di sini perkataan Sayyid Quthub (Sayyid Quthub adalah orang yang memiliki kesesatan yang besar. Dia telah mencela shahabat, antara lain Amirul Mukminin Utsman bin Affan dan Mu’awiyah radliyallahu ‘anhuma. Bahkan dia juga mencela Nabi Musa ‘Alaihis Salam. Dan ia memiliki kesesatan-kesesatan lainnya. Penyimpangan dan kekeliruan Sayyid Quthub telah dibongkar oleh Syaikh Al ‘Allamah Al Muhaddits Rabi’ bin Hadi Al Madkhali –pengibar panji ilmu Al Jarh wat Ta’diil jaman ini– dalam beberapa kitab beliau, antara lain Mathaa’in Sayyid Quthub Fii Ashhaabi Rasuulillah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (Celaan Sayyid Quthub Terhadap Para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), Adhwaa Islamiyah ‘Alaa ‘Aqiidati Sayyid Quthub (Pandangan Islam Terhadap Aqidah Sayyid Quthub), dan Al ‘Awaashim Mimmaa Fii Kutubi Sayyid Quthub Minal Qawaashim (Bantahan Keras Terhadap Penyimpangan Kitab-Kitab Sayyid Quthub). Penulis sarankan kepada para thalabul ilmi untuk membaca kitab-kitab tersebut.) , salah seorang tokoh ikhwanul muslimin dalam kitabnya Ma’aalim fii Ath Thariiq (penerbit Daarus Syuruuq, halaman 9) :

Sesungguhnya sekarang ini umat tidak memiliki –dan memang tidak diperlukan– kemampuan untuk bisa maju dan unggul dalam kehidupan manusia. Keunggulan dalam menciptakan inovasi teknologi yang bisa mengatur manusia dan mengendalikan dunia. Namun, sejak lama sekali kecanggihan Eropa telah jauh lebih unggul pada bidang ini dan sulit untuk bisa diungguli dalam beberapa abad sekarang ini. Maka dari itu harus ada keahlian lain yang telah hilang dari peradaban ini … .

Oleh karena itu, selain keahlian materi, harus ada keahlian lain untuk mengendalikan kemanusiaan namun bukan bersifat aqidah dan manhaj.

Wahai Abdullah Sha’tar dan para tokoh ikhwanul muslimin, sudah berapa banyak kedustaan dan talbis (pemutarbalikan) yang kalian tebarkan kepada umat? Sekarang ada orang yang mengungkapnya dan pada suatu hari akan nampaklah hakikatnya. Maka sungguh celakalah bagi para pendusta. Kaum Muslimin dan pemukanya, yakni para ulama dan para thalabul ilmi, baik yang masih hidup maupun yang belum dilahirkan (semuanya mendoakan kecelakaan bagi mereka). Suatu hari akan terungkaplah hakikat tipu dayanya dan tiada yang menanggung akibat makar jahat kecuali pelakunya sendiri.

Sesama ashhaabul baathil (pelaku kebathilan), mereka saling bahu membahu dalam menghadapi para penentangnya. Saya pernah menulis sebuah buku untuk mengomentari kaset ceramah Abdul Majid Az Zindani yang berjudul AL Hizbiyah. Lalu Muhammad Al Mahdi mengeluarkan kaset untuk membantah buku saya tersebut. Karena merasa belum puas maka dia menulis buku bantahan terhadap buku saya tersebut. Kemungkinan besar, bantahan itu dibantu oleh Az Zindani.

Saya sangat menyambut kritikan yang konstruktif dan nasihat yang baik. Hanya saja, konsep penulisan Muhammad Al Mahdi ini berlarut-larut. Apabila terus mengikuti tulisannya dengan bantahan maka akhirnya kita akan terseret keluar dari tataran akhlak yang mulia.

Demi Allah, sesungguhnya kami menyayangi Muhammad Al Mahdi. Dan betapa indahnya jika dia mau merenungi dan menyayangi dirinya dari penat yang mengantarkan kepada penyesalan akan ilmu, dakwah, dan politiknya.

Demi Allah, wahai saudaraku Al Mahdi. Seandainya aku mengetahui bahwa nasihat bisa membawa manfaat kepada mulutmu pasti akan aku sampaikan ke rumahmu. Namun aku melihat kamu menaiki kepalamu dan meniti jalan dengan serampangan. Semoga Allah memberi hidayah kepadamu.

Akhirnya aku memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas karunia-Nya terhadap Ahlus Sunnah. Dakwah mereka adalah keberkahan yang dicintai oleh masyarakat Muslim seluruhnya. Ini adalah dakwah ilmiyah sedangkan dakwah-dakwah lainnya telah redup. Sekadar contoh, dakwah ikhwanul muslimin di Yaman telah redup. Demikian pula dengan para pendukung Abdurrahman Abdul Khaliq, pendukung Muhammad bin Surur, Jamaah Jihad, dan lain-lainnya. Mereka sudah tidak punya kenangan lagi. Memang masih tersisa sedikit pengikut Sururiyin, hal ini karena kemunculan mereka memang belakangan. Setiap yang baru memang mempunyai kelezatan tersendiri dan sebentar lagi akan terbongkarlah hakikat mereka.

Sehingga yang tinggal bagi umat hanyalah dakwah Ahlus Sunnah yang berumur panjang. Ahlus Sunnah telah menelan masa berabad-abad, tetapi tetap langgeng tidak binasa seperti bulan. Ada yang mengatakan :Telah lewat berabad-abad namun senantiasa nampak kepada kami dengan wajah muda belia.

Ini yang bisa aku sampaikan. Wallhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

16 Rajab 1420 H.

Abdul Aziz bin Yahya Al Bura’i

PO. Box. 94 Mafriq Jaisy, Yaman.

(Sumber : Kitab Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam, Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini, edisi Indonesia Membongkar Kedok Al Qaradhawi, Bukti-bukti Penyimpangan Yusuf AL Qardhawi dari Syari’at Islam. Penerbit Darul Atsar Yaman. Diambil dari http://www.assunnah.cjb.net)

sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=630

 

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Bahaya Pemikiran Takfir Sayyid Quthb

Posted on 28 Juni 2008. Filed under: Akidah, IM (Ikhwanul Muflisin), Manhaj, Nasehat, Tokoh Sempalan | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Bukan riwayat hidup beliau yang akan saya tulis dalam kertas ini. Sudah terlalu banyak orang yang menuliskannya dengan indah, bahkan kadang berlebihan. Bukan pula perhitungan amal dan perbandingan antara kebaikan dan kejelekan yang akan saya terangkan karena perhitungan amal dan hisab akan Allah tegakkan di hari perhitungan kelak dengan teliti dan akan Allah balas dengan seadil-adilnya.

Saya hanya menukilkan nasihat untuk seluruh kaum muslimin agar berhati-hati dari pemikiran Sayid Quthb yang berbahaya dan telah dituangkan kepada kaum muslimin dengan berbagai macam bahasa. Pemikiran beliau ini laku keras di pasaran karena kekaguman kaum muslimin kepada gerakan, keberanian dan digantungnya beliau oleh tirani Mesir. Sehingga ketika mereka mendengar peringatan Ahlus Sunnah dari bahaya pemikiran Sayid Quthb, mereka tersentak kaget. Jantung mereka seakan berhenti sesaat. “Seorang pejuang Islam yang mati syahid di tiang gantungan tirani Mesir dikatakan sesat?” Seakan-akan orang yang mati di tiang gantungan tidak mungkin memiliki penyelewengan dan bahaya pemikiran.

Maka untuk Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian untuk kebaikan dan keselamatan manhaj kaum muslimin serta untuk kebaikan Sayid Quthb sendiri yaitu agar penyelewengan dan kerancuan pemikirannya tidak diikuti oleh orang yang lebih banyak yang berarti menambah dosanya, kami akan jelaskan beberapa pemikiran beliau yang sangat berbahaya khususnya dalam masalah pengkafiran kaum muslimin. Semoga dapat bermanfaat bagi kita dan dapat berhati-hati darinya. Untuk membongkar kesesatan pemikiran Sayid Quthb, maka saya memakai kitab Adlwa’ Islamiyah ‘ala Aqidah Sayid Quthb oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah sebagai rujukan utamanya.

KERANCUAN PEMAHAMAN SAYID TERHADAP “LA ILAAHA ILLALLAH”

Pemikiran takfir Sayid Quthb merupakan akibat dari akidah dan keyakinan yang salah terhadap makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Dia menafsirkan kata ilah dengan al-hakim (yang menghukumi). Penafsiran ini persis seperti pemikiran Abul A’la Al-Maududi yang ternyata mengambil pemahaman ini dari seorang ahli filsafat barat, yaitu Haigle dalam bukunya Al-Hukumah Al-Kulliyah (Pemerintahan yang Menyeluruh). Syaikh Nadzir Al-Kasymiri (seorang ulama salaf di India) berkata: “Syaikh Maududi menampilkan pemikiran filsafat barat dari buku Al-Hukumah Al-Kulliyah dengan dibungkus pemikiran Islam.” (Adlwa’ Islamiyah hal. 59)

Sebagai contoh, kita nukilkan di sini terjemahan ucapan Sayid dalam bukunya Al-Adalah Al-Ijtima’iyah (Keadilan Sosial) hal. 182 cet. 12: “Sesungguhnya perkara yang menyakinkan dalam Dien ini adalah bahwasanya tidak akan tegak di hati ini akidah dan tidak pula dalam kehidupan dunia, kecuali dengan mempersaksikan bahwasanya laa ilaha illallah, yaitu laa hakimiyata illa lillah (tidak ada kehakiman kecuali untuk Allah), hakimiyah yang berujud qadla dan qadar-Nya sebagaimana terwujud dalam syariat dan perintahnya.”

Demikian pula ucapannya dalam menafsirkan surat Al-Qashash: Huwallahulladzi la ilaha illahuwa. Dia berkata: “Yaitu tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan dan ikhtiar.” (Fi Dhilalil Qur`an 5/2707)

Bahkan lebih jelas lagi dia berkata dalam tafsir surat An-Nas bahwa Al-ilah adalah al-musta’li, al-mustauli, al-mutasallith. (Fi Dhilal 6/4010) yang semuanya itu bermakna kurang lebih sama yaitu “Yang Menguasai”.

Demikianlah Sayid mempersempit makna ilah hanya kepada rububiyah dan melalaikan makna yang hakiki dari kata ilah yang mengandung makna uluhiyah yaitu “yang berhak untuk diibadahi”. Penafsiran Sayid ini jelas bertentangan dengan penafsiran para ulama Ahlus Sunnah.

Ibnu Jarir berkata dalam menafsirkan ayat dalam surat Al-Qashash di atas: “Allah yang Maha Tinggi sebutannya, Rabb kamu –wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam— adalah yang berhak untuk diibadahi yang tidak layak peribadatan itu diberikan kecuali kepadaNya dan tidak ada yang boleh diibadahi kecuali Dia.” (Tafsir At-Thabari 20/102)

Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan: “Yaitu yang menyendiri dengan uluhiyah dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia. Sebagaimana tidak ada penguasa yang menciptakan apa yang dikehendakinya dan memilih sekehendaknya kecuali Dia.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/398)

Demikianlah para ulama Ahlus Sunnah memahami kalimat tauhid seperti pemahaman para pendahulunya dari kalangan salafus shalih, yaitu tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah (uluhiyah) yang terkandung di dalamnya makna rububiyah dan asma wa sifat. Adapun pemahaman Sayid bahwa al-ilah adalah al-hakim atau al-musta’li, al-mustauli dan al-mutasallith (penguasa), maka perlu dipertanyakan dari mana dia mendapatkan pemahaman seperti ini. Siapa yang memahami demikian dari kalangan shahabat atau para ulama salaf?

Pemahaman ini jelas menyimpang karena Ahlus Sunnah secara umum telah memahami bahwa tauhid rububiyah –yaitu mengakui bahwa Allah penguasa dan pencipta— telah diakui oleh sebagian besar orang-orang musyrik jahiliyah.

Allah berfirman tentang mereka:

قُلْ لِمَنِ الأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلاَ يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapa pemilik langit yang tujuh dan pemilik ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’ (Al-Mukminun: 84-89)

Lupakah Sayid tentang ayat-ayat Allah yang menjelaskan makna kalimat tauhid dengan tauhidul ibadah, mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya? Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ (Al-Anbiya: 25)

Kita sama-sama mengetahui betapa luasnya makna ibadah yang mencakup keyakinan, kecintaan, ketaatan, pengabdian, pengagungan, ketundukan, kekhusyu’an, ketakutan, harapan dan juga mencakup amalan badan seperti sujud, ruku’, thawaf, doa, istighatsah, isti’anah, serta mencakup puji-pujian lisan seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan lain-lain. Semua itu dilakukan oleh hamba karena rasa butuh hamba kepada Allah dalam rangka (menghambakan diri) dan beribadah kepada Allah. Tidak diberikan jenis-jenis peribadatan ini kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Anehnya Sayid Quthb membawa nama Arab dan bahasa Arab dalam “pemahaman”nya itu. Dia berkata:

“…bahwasanya mereka (orang-orang Arab) dahulu telah mengetahui dengan bahasa mereka apa makna ilah dan makna laa ilaha illallah.… Mereka mengetahui bahwa uluhiyah adalah hakimiyah yang paling tinggi.” (Fi Dhilal 2/1005).

Dia juga berkata pada halaman berikutnya:

“Laa ilaha illallah sebagaimana yang dipahami oleh orang Arab yang mengerti apa-apa yang ditunjukkan oleh bahasanya yaitu: Tidak ada hakimiyah kecuali untuk Allah dan tidak ada syariat kecuali dari Allah serta tidak ada kekuasaan seseorang atas seseorang karena kekuasaan seluruhnya milik Allah.” (Fi Dhilal 2/1006).

Syaikh Rabi’ dalam membantah ucapan ini berkata:

“Sesungguhnya apa yang dinisbahkan oleh Sayid kepada bahasa Arab yaitu tentang makna uluhiyah adalah hakimiyah, tidak dikenal oleh orang Arab dan tidak pula dikenal oleh pakar-pakar bahasa Arab ataupun selain mereka. Bahkan al-ilah menurut orang-orang arab adalah al-ma’bud (yang diibadahi) yang para hamba mendekatkan diri kepadaNya dengan ibadah disertai ketundukan, penghinaan diri, kecintaan dan ketakutan, … Bukan bermakna sesuatu yang mereka berhukum kepadanya.” (hal. 63)

Orang-orang Arab jahiliyah dahulu memiliki tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin yang mereka berhukum kepadanya, tetapi mereka tidak menamakannya dengan ILAH (sesembahan). Bahkan sebaliknya, mereka memiliki berhala-berhala yang mereka namakan ILAH-ILAH. Seperti LATTA yang berbentuk kuburan. UZZA yang berbentuk tempat keramat, serta patung-patung lainnya yang mereka bertawasul, berkurban dan beribadah kepadanya, tetapi mereka tidak menamakan perbuatan mereka dengan berhukum, bertahkim, atau HAKIMIYAH!

Demikian pula di masa mereka terdapat raja-raja di timur dan di barat, tetapi mereka tidak menamakannya dengan ILAH.

Ingat! Yang kita bantah di sini bukan kewajiban bertahkim kepada Allah, melainkan pemahaman sempit Sayid dengan mengatasnamakan bahasa Arab dan orang-orang Arab. Padahal sama sekali tidak dikenal dalam bahasa Arab bahwa makna ILAH adalah HAKIM.

.

KABURNYA PEMAHAMAN SAYID TERHADAP RUBUBIYAH DAN ULUHIYAH

Kadang-kadang Sayid menafsirkan makna uluhiyah dengan rububiyah. Terkadang pula sebaliknya. Sayid berkata dalam tafsir Surat Ibrahim ayat 52:

“Makna al-ilah adalah Dzat yang berhak untuk menjadi RABB yaitu yang menghakimi, Yang memiliki, Yang berbuat, Yang membuat syariat dan Yang mengarahkan.” (Fi Dhilal 4/2114)

Bahkan dia berkata bahwa pertikaian antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum musyrikin jahiliyah adalah dalam masalah rububiyah. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh seluruh ulama ahlus sunnah. Dia mengatakan:

“…perkara uluhiyah sedikit sekali menjadi bahan pertikaian pada kebanyakan orang-orang jahiliyah, khususnya jahiliyah Arab. Hanya saja yang selalu menjadi bahan pertikaian adalah masalah rububiyah. Yaitu masalah penerapan Dien pada kehidupan dunia ini, berupa amal nyata yang mempengaruhi kehidupan manusia.” (Fi Dhilal)

Dari ucapan ini terlihat bahwa Sayid tidak dapat membedakan antara uluhiyah dan rububiyah. Kemudian apakah akibat dari kerancuan pemahaman Sayid terhadap rububiyah dan uluhiyah dan sempitnya pandangan Sayid terhadap laa ilaha illallah ini?!

.

PENGKAFIRAN SAYID TERHADAP KAUM MUSLIMIN

Akibatnya sungguh mengerikan! Dia mengkafirkan seluruh kaum muslimin dan umat Islam secara tersirat dan tersurat dan meremehkan kesyirikan dalam masalah ibadah. Perhatikanlah ucapannya:

“…termasuk dalam lingkup masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang mengaku dirinya muslim. Masyarakat tersebut masuk ke dalam lingkungan ini bukan karena meyakini uluhiyah kepada selain Allah dan tidak pula karena menghadapkan syiar-syiar ibadah kepada selain Allah, tetapi mereka masuk ke dalam masyarakat jahiliyah ini karena tidak beragama dengan ‘peribadatan’ kepada Allah dalam undang-undang kehidupan mereka. Maka yang demikian –walaupun mereka tidak meyakini uluhiyah seorang pun kecuali Allah— tetapi mereka telah memberikan yang paling istimewa dari keistimewaan-keistimewaan ketuhanan kepada selain Allah dan beragama dengan HAKIMIYAH kepada selain Allah….” (Fi Dhilal)

Tampak dari ucapannya bahwa masyarakat Islam hanya pengakuan, padahal sebenarnya mereka adalah masyarakat jahiliyah. Terkesan pula bahwa memberikan syiar-syiar ibadah kepada selain Allah adalah masalah sepele, bahkan sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali bahwa hampir pada semua tulisan Sayid dalam Fi Dhilalil Qur`an dan yang lainnya tidak memperdulikan para penyembah kubur, orang-orang yang melampaui batas terhadap ahlul bait dan para wali, serta orang-orang yang memberikan sifat uluhiyah dan ubudiyah kepada mereka. Dia tidak menghukumi manusia kecuali dengan penyelisihannya terhadap hakimiyah. Dan penafsiran Sayid terhadap la ilaha illallah tidak keluar dari HAKIMIYAH, KEKUASAAN dan KEPEMIMPINAN semata.

Juga ucapan Sayid ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 106:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُونَ
Tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan musyrik. (Yusuf: 106)

Setelah Sayid menyebutkan syirik yang samar dia mengatakan:

“Dan di sana ada syirik yang tampak jelas yaitu tunduk kepada selain Allah dalam salah satu urusan kehidupan dan tunduk kepada aturan syariat yang dijadikan (oleh manusia) sebagai hukum. Hal ini merupakan asas dalam kesyirikan yang tidak bisa dibantah. Demikian pula tunduk kepada adat-adat kebiasaan seperti mengadakan perayaan-perayaan, musim-musim yang diatur oleh manusia padahal tidak disyariatkan oleh Allah, tunduk kepada aturan pakaian yang menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah untuk ditutupi dan membuka aurat-aurat yang syariat Allah telah menetapkan untuk ditutup1. Urusan seperti ini lebih dari sekedar pelanggaran dan dosa penyelisihan syariat, karena urusan itu merupakan ketaatan dan ketundukan kepada pemahaman yang umum pada masyarakat berupa ciptaan hamba dan meninggalkan perkara jelas yang muncul dari penguasa para hamba….

Sesungguhnya ketika itu bukan lagi dia sebagai dosa melainkan pensyariatan karena yang demikian merupakan ketundukan kepada selain Allah dalam perkara yang menyelisihi perintah Allah….” (Fi Dhilal 4/2023)

Dalam ucapan Sayid di atas terdapat dua bahaya besar: Pertama, pengkafiran kaum muslimin karena dosa-dosa seperti mengikuti adat kebiasaan, berpakaian yang menyelisihi syariat dan lain-lain. Kedua, penafsiran Al-Qur`an tidak seperti apa yang dikehendaki Allah, khususnya dalam masalah kesyirikan.

Hal ini terjadi karena Sayid bersikap ghuluw pada masalah hakimiyah sampai-sampai dia berkata:

“Sesungguhnya kesyirikian mereka (jahiliyah) yang asasi bukan dalam keyakinan tetapi pada masalah hakimiyah.” (Fi Dhilal 3/1492)

Sungguh aneh pemahaman Sayid ini. Bagaimana kira-kira dia menghukumi raja Najasyi yang masuk Islam dengan keyakinannya dan belum sempat mempraktekkan hukum-hukum Islam dan belum menerapkan al-hakimiyah di negerinya? Kalau menurut pemahaman Sayid berarti dia tetap kafir karena –menurutnya— kesyirikan yang hakiki adalah pada penerapan hakimiyah dan bukan keyakinan!

Adapun pemahaman Ahlus Sunnah adalah pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda kepada para shahabat ketika mendengar Raja Najasyi meninggal:

قَدْ تُوُفِّيَ الْيَوْمَ رَجُلٌ صَالِحٌ مِنَ الْحَبَشَةِ فَهَلُمَّ فَصَلُّوْا عَلَيْهِ
Telah meninggal hari ini seorang yang shalih dari Habasyah. Marilah kemari! Shalatkanlah dia! (HR. Bukhari dengan Fathul Bari 3/1320)

Bagaimana pendapat anda kalau raja Najasyi menerapkan hakimiyah tetapi tidak meyakini aqidah tauhid dan beribadah kepada kuburan-kuburan? Apakah Rasulullah akan menganggap dia sebagai muslim?!

ANGGAPAN SAYID BAHWA UMAT ISLAM TELAH LENYAP

Saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya Sayid Quthb tidak menganggap keberadaan kita sebagai muslimin. Dia menganggap umat Islam telah lenyap dengan lenyapnya kekhilafahan! Lihatlah dia berkata dalam bukunya Hadlirul Islam wa Mustaqbaluh (Islam kini dan esok):

“Kami mengajak untuk mengembalikan kehidupan yang islami dalam masyarakat yang islami dengan hukum aqidah Islam dan pandangan yang islami, sebagaimana dihukumi pula oleh syariat Islam dan aturan yang islami. Kita telah mengetahui bahwa kehidupan Islam seperti ini telah berhenti sejak lama di seluruh permukaan bumi. Dan keberadaan Islam pun telah berhenti….”

Tenanglah sebentar! Jangan tergesa-gesa menafsirkan dengan tafsiran pembelaan, karena Sayid akan berkata lebih jelas lagi, yaitu:

“…kami menampakkan kenyataan yang terakhir ini walaupun akan menyebabkan munculnya benturan keras dan keputus asaan dari orang-orang yang masih tetap menginginkan untuk menjadi muslimin.”

Lihatlah dia menyebut kaum muslimin dengan ungkapan: “Orang-orang yang ingin menjadi muslimin!”

Ucapan yang hampir sama ia ucapkan pula dalam bukunya Al-Adalah Al-Ijtima’iyah, setelah dia membawakan ayat-ayat tentang hakimiyah:

“Ketika kita memperhatikan seluruh permukaan bumi hari ini, di bawah cahaya ketetapan ilahi terhadap pemahaman Dien ini, kita tidak mendapatkan keberadaan Dien ini…. Sesungguhnya keberadaan Dien telah lenyap sejak kelompok terakhir dari kaum muslimin melepaskan pengesaan Allah dalam hakimiyah dalam kehidupan manusia. Yang demikian adalah ketika mereka meninggalkan berhukum dengan syariat Allah semata dalam segala aspek kehidupan.

Kita harus mengakui kenyataan pahit ini dan harus menampakkannya. Janganlah kita khawatir munculnya “putus harapan” dalam hati-hati kebanyakan orang-orang yang suka untuk menjadi muslimin. Mereka seharusnya meyakini bagaimana mereka dapat menjadi muslimin.

Sesungguhnya musuh-musuh Dien ini telah menjalankan usaha sejak beberapa abad dan masih tetap melaksanakan usaha-usaha maksimal yang menipu dan jahat untuk merampas kehendak kebanyakan orang yang ingin menjadi muslimin?” (Al-Adalah hal. 183-184)

Di sini terlihat pemikiran-pemikiran Sayid yang berbahaya di antaranya anggapan beliau bahwa:

1. Kehidupan Islam telah tiada.

2. Bahkan wujud Islam telah berhenti.

3. Anggapan bahwa kaum muslimin adalah orang-orang kafir jahiliyah yang menginginkan Islam.

4. Inti Islam yang hakiki adalah tauhid hakimiyah.

5. Dia mengharuskan dan menegaskan untuk mengumumkan pengkafiran umat Islam.

Adakah pengkafiran yang lebih jelas daripada pengkafiran Sayid Quthb ini?! Mana yang dinamakan pengkafiran kalau ucapan seperti ini tidak dinamakan pengkafiran? Perhatikanlah wahai orang-orang yang memiliki pandangan!

.

UMAT ISLAM TELAH MURTAD DAN ADZAB BAGI MEREKA LEBIH KERAS DARIPADA ORANG KAFIR LAINNYA

Sayid Quthb berkata:

“Telah bergeser jaman, kembali seperti keadaan pada hari datangnya Dien ini kepada manusia (yaitu masa jahiliyah, pent). Telah murtad manusia menuju peribadatan kepada hamba-hamba dan menuju kerusakan agama-agama. Mereka telah berpaling dari la ilaha illallah, walaupun sekelompok dari mereka masih tetap mengumandangkan di menara-menara adzan la ilaha illallah tanpa memahami maksudnya, tanpa mengerti apa konsekwensinya, padahal dia mengulang-ulangnya. Juga tanpa menolak pensyariatan hakimiyah yang diaku oleh para hamba untuk diri-diri mereka. Hal ini sama dengan penuhanan (uluhiyah). Sama saja, apakah diaku oleh pribadi-pribadi atau team pensyariatan ataupun oleh masyarakat….” (Fi Dhilal 2/1057)

Bahkan lebih kejam lagi dia berkata:

“…yaitu kemanusiaan seluruhnya, termasuk di dalamnya mereka yang mengulang-ulang di menara-menara adzan di timur atau di barat bumi ini kalimat laa ilaha illallah tanpa maksud dan tanpa kenyataan….

Mereka paling berat dosanya dan paling keras adzabnya karena mereka telah murtad kepada peribadatan para hamba setelah jelas baginya petunjuk dan karena mereka sebelumnya berada dalam Dien Allah.” (Fi Dhilal 2/1057)

Lihatlah betapa beraninya Sayid mengkafirkan kaum muslimin dan menganggap mereka orang-orang murtad yang paling keras adzabnya. Padahal mereka masih mengumandangkan adzan dan masih shalat. Lantas apa anggapan dia tentang peribadatan mereka di masjid-masjid?

.

MASJID MENURUT SAYID ADALAH TEMPAT PERIBADATAN JAHILIYAH

Bertolak dari pengkafiran dia terhadap masyarakat Islam, maka Sayid menganggap masjid-masjid mereka sebagai tempat-tempat peribadatan jahiliyah. Dia berkata ketika menafsirkan ucapan Allah dalam surat Yunus:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat sembahyang dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman. (Yunus: 87)

Dia berkata:

“…inilah pengalaman yang Allah tunjukkan kepada kelompok mukmin agar menjadi teladan. Bukan khusus bagi Bani Israil. Tapi ini adalah pengalaman iman yang murni. Kadang-kadang orang-orang beriman mendapati diri-diri mereka terusir pada suatu hari dari masyarakat jahiliyah, karena fitnah telah merata, thaghut telah bertambah sombong dan manusia telah rusak, serta lingkungan telah membusuk. Demikian pula keadaan di jaman Fir’aun pada masa kini. Di sini Allah mengarahkan kita pada beberapa perkara:

1. Memisahkan diri dari masyarakat jahiliyah, busuknya, rusaknya dan kejelekannya sebisa mungkin. Dan mengumpulkan “kelompok mukmin” yang baik dan bersih dirinya untuk mensucikan, membersihkan dan melatih serta menyusun mereka hingga datang janji Allah untuk mereka.

2. Menghindari tempat-tempat peribadatan jahiliyah dan menjadikan rumah-rumah “kelompok muslim” sebagai masjid yang di sana mereka dapat merasakan keterpisahan mereka dari masyarakat jahiliyah. Kemudian di sana mereka melangsungkan peribadatan kepada Rabb mereka dengan cara yang benar. Dan melanjutkan dengan ibadah tersebut menuju semacam keteraturan (tandhim) dalam lingkungan suasana ibadah yang suci.” (Fi Dhilal 3/1816)

Apa yang terjadi kalau dakwah Sayid yang seperti ini dibiarkan?!

Jelas penafsiran yang batil ini akan mengakibatkan ditinggalkannya masjid-masjid dan munculnya Khawarij-Khawarij gaya baru yang memisahkan diri dari masyarakat Islam dan mengkafirkan mereka. Kemudian siapa yang dimaksud “kelompok mukmin”, “kelompok muslim” dalam masyarakat jahiliyah ini? Tentu pembaca dapat menebak dengan melihat akidah dan pemikiran Sayid yang telah dijelaskan. Ya tentunya yang dia maksud adalah dirinya dan orang-orang yang mengikuti pemikirannya.

.

JALAN KELUAR MENURUT SAYID

Islam telah lenyap, muslimin telah murtad, masyarakat muslim telah kembali menjadi jahiliyah. Masjid-masjid telah menjadi tempat-tempat peribadatan jahiliyah….

Lalu apa yang harus kita perbuat? Dan bagaimana jalan keluar bagi yang ingin menjadi “kelompok muslim”? Dengarlah apa kata Sayid Quthb berkenaan dengan pertanyaan ini:

“Sesungguhnya tidak ada keselamatan bagi ‘kelompok muslim’ di seluruh dunia dari adzab yang Allah sebutkan:
أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ
…atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan sebagian kamu keganasan sebagian yang lain…. (Al-An’am: 65)

kecuali jika mereka memisahkan keyakinan, perasaan dan juga prinsip hidup mereka dari masyarakat jahiliyah dan memisahkan diri dari kaumnya. Hingga Allah mengijinkan bagi mereka untuk mendirikan negara Islam yang mereka berpegang padanya. Kalau tidak, maka hendaknya mereka merasakan dengan seluruh perasaannya bahwa mereka sendirilah umat Islam dan merasakan bahwa apa dan siapa yang di sekelilingnya yang tidak masuk kepada apa yang mereka masuki adalah jahiliyah dan masyarakat jahiliyah….” (Fi Dhilal 2/1125)

Inilah jalan keluar menurut Sayid, yaitu dengan menjadi Khawarij, mengkafirkan dan memisahkan diri dari umat Islam! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Tidakkah Sayid melihat dakwah Ahlus Sunnah dan para ulamanya di jazirah Arab, Yaman, India atau yang lainnya? Tidakkah dia melihat perjuangan dakwah mereka dalam memurnikan ajaran Islam? Bahkan apakah Sayid tidak melihat di sampingnya seorang ulama yang berjuang membela tauhid dan sunnah, yaitu Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib rahimahullah?!

.

PEMIKIRAN TAKFIR SAYID DIAKUI TOKOH-TOKOH IKHWAN SENDIRI

Sesungguhnya pemikiran takfir Sayid Quthb tidak mungkin dipungkiri lagi. Bahkan telah diakui pula oleh beberapa tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri. Berikut ini kita dengar beberapa ucapan mereka:

1. Berkata Yusuf Al-Qardlawi dalam bukunya Awlawiyat Al-Harakah Al-Islamiyah:

“Dalam fase ini muncul buku-buku As-Syahid Sayid Quthb yang merupakan fase terakhir dari pemikirannya yang mengkafirkan masyarakat dan menunda dakwah sampai kepada keteraturan Islam dengan pembaharuan fikih dan perkembangannya. Menghidupkan ijtihad serta mengajak untuk memisahkan diri secara perasaan dari masyarakat, memutus hubungan dengan orang lain, mengumumkan jihad fisik melawan seluruh manusia….” (Awlawiyat hal. 110)

2. Berkata Farid Abdul Khaliq, salah seorang tokoh besar Ikhwan dalam kitabnya Ikhwanul Muslimun fi Mizanil Haq hal. 115:

“Kita mengetahui dari apa yang telah lewat bahwa munculnya pemikiran takfir (pengkafiran) di kalangan beberapa ikhwan bermula dari penjara Qanathir di akhir tahun lima puluhan dan awal enam puluhan. Mereka terpengaruh oleh Sayid Quthb dan pemikiran-pemikirannya. Mereka mengambil pemahaman darinya bahwa masyarakat ini dalam keadaan jahiliyah dan bahwasanya dia telah mengkafirkan pemerintah yang merasa asing dengan hakimiyah Allah karena tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah. Juga mengkafirkan rakyatnya karena mereka ridla dengan hal itu.”

3. Berkata Ali Gharisah –juga salah seorang tokoh besar Ikhwan— sebagai berikut:

“Dalam kejadian ini, terpecah satu kelompok dari kelompok Islam yang besar ketika keberadaan mereka di penjara-penjara… bersamaan dengan itu kelompok tersebut bertameng dengan pengkafiran kelompok Islam yang besar. Mereka masih tetap dalam pendapatnya tentang pengkafiran pemerintah, penolong-penolongnya serta masyarakat seluruhnya. Kemudian kelompok tersebut berpecah kembali menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing mengkafirkan yang lain….” (Lihat kembali kitab beliau Al-Ittijahat Al-Fikriyah Al-Mu’ashirah hal. 279)

Ucapan-ucapan mereka ini menunjukkan bahwa pemikiran takfir Sayid Quthb telah dikenal oleh kawan dan lawannya. Hanya saja ketika bantahan itu dari “kawan” satu harakah, selalu diiringi basa-basi atau penyamaran agar tidak terlihat seakan-akan permasalahan ini adalah permasalahan besar. Seperti Qardlawi setelah ucapan di atas dia berkata: “…Dan buku-buku beliau tersebut memiliki keutamaan-keutamaan dan pengaruh-pengaruh positif yang besar di samping pengaruh-pengaruh negatif.” (hal. 110)

Atau seperti ucapan Ali Gharishah yang tidak menyebutkan siapa atau buku apa atau jamaah apa, dia hanya mengatakan “kelompok kecil” dan “kelompok besar”.

Saudara-saudaraku kaum muslimin, bisa jadi sikap basa-basi dan penyamaran yang menyebabkan terasa kecilnya bahaya-bahaya besar ini adalah karena mereka satu hizb. Mereka menjaga persatuan dan kesatuan Hizibnya dengan prinsip mereka yang terkenal:

“KITA SALING TOLONG MENOLONG ATAS APA YANG KITA SEPAKATI DAN SALING TOLERANSI ATAS APA YANG KITA BERBEDA”.

Kalau begitu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah, salafiyah tetapi memiliki prinsip yang sama dengan mereka?

.

SIKAP SAYID TERHADAP UTSMAN BIN AFFAN radhiyallahu ‘anhu

Ikhwani fiddien a’azzakumullah, sesungguhnya pemikiran takfir Sayid Quthb bukan permasalahan sepele. Sikap mengkafirkan seluruh manusia hanya karena dosa-dosa sungguh sangat berbahaya. Tidakkah kita mendengar bagaimana Ali bin Abi Thalib menyikapi Khawarij, kemudian memerangi mereka? Tidakkah kita mendengar ucapan beberapa shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka (kaum Khawarij) sejelek-jelek makhluk?

Pemikiran Sayid yang berbahaya ini juga mengakibatkan celaan dan tuduhan kepada para shahabat Nabi seperti para pendahulunya dari kalangan Khawarij dan Syiah, khususnya terhadap Utsman bin Affan dan Muawiyah radliallahu ‘anhuma.

Sayid Quthb tidak mengakui keberadaan khilafah Utsman radliallahu ‘anhu, padahal masa kekhilafahannya paling panjang. Dia berkata:

“Kami condong kepada anggapan bahwa khilafah Ali radliallahu ‘anhu adalah kelanjutan dari khilafah dua syaikh sebelumnya (Abu Bakar dan Umar, pent). Adapun masa Utsman merupakan celah antara keduanya.” (Al-Adalah, hal. 206). Mengapa?

Hal ini setelah Sayid mengatakan pada halaman sebelumnya tentang Utsman sebagai berikut:

“Sesungguhnya di antara kejelekan yang muncul adalah bahwa Utsman mencapai khilafah dalam keadaan tua, telah lemah semangat Islamnya dan lemah keinginannya untuk tetap tegar menghadapi tipu daya Marwan dan tipu daya Bani Umayah di dalamnya.” (Al-Adalah dalam terjemahan terbitan pustaka hal. 270)

Bahkan dengan terang-terangan dia meragukan ruh Islam yang ada pada Utsman, yaitu setelah Sayid menyebutkan cerita-cerita tentang Utsman yang membagi-bagikan harta pada keluarga dan kerabatnya (korupsi). Juga setelah menceritakan bahwa Utsman mengangkat gubernur-gubernurnya dari keluarganya sendiri, seperti Muawiyah dan Al-Hakam radliallahu ‘anhum…dst. Kemudian dia berkata:

“…Dan bahwasanya para shahabat mengetahui penyelewengan dari ruh Islam ini. Maka mereka saling memanggil untuk menyelamatkan Islam dan menyelamatkan khalifah dari bencana ini. Khalifah –dengan ketuaan dan kepikunannya— tidak dapat memegang urusannya dari Marwan. Sesungguhnya sangat susah meragukan ruh Islam di dalam hati Utsman. Tetapi juga sangat sulit memaafkan kesalahan-kesalahannya yang merupakan kesalahan fatal mengenai wilayah dan khilafahnya. Sedangkan dia seorang tua renta yang dikelilingi oleh jajaran orang-orang jelek dari Bani Umayah….” (Al-Adalah hal. 187, cet kelima dan secara makna pada cet. ke 12 hal 159, dan dalam terjemahan PUSTAKA hal. 272)

Sebaliknya Sayid Quthb justru memuji dan membela para pemberontak yang membunuh Utsman. Dia berkata:

“…akhirnya, terjadilah pemberontakan atas Utsman. Tercampur padanya kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejelekan. Tetapi bagi yang memandang perkara ini dengan “kaca mata Islam” dan merasakan urusan ini dengan ruh Islam, pasti dia akan menetapkan bahwa pemberontakan tersebut secara keumuman lebih dekat kepada ruh Islam dan arahannya daripada sikap Utsman atau lebih tepatnya sikap Marwan dan orang-orang yang di belakangnya dari Bani Umayyah.” (Al-Adalah hal. 189 cet. ke 5 dan hal. 161, 162 cet. ke 12 dengan beberapa perubahan tetapi intinya sama, hanya pada cetakan terakhir ini dia menyebut bahwa hal itu karena pengaruh tipu daya Ibnu Saba’ dan dalam terjemahan, hal. 275)2

Seharusnya dia mengucapkan: “Barangsiapa memandang dengan kacamata saya dan merasakan dengan ruh saya….” Karena kesimpulan dan pandangan seperti itu sama sekali bukan dari Islam. Dan saya (penulis) sudah menulis pada edisi ke-4 tentang pembelaan terhadap Utsman dan sekaligus pembelaan para shahabat terhadap Utsman. Silahkan simak kembali tulisan tersebut. Adapun pandangan Sayid adalah pandangan Khawarij, Syiah dan Ahli Bid’ah!

Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari penyelewengannya dan membuka mata kaum hizbiyah agar melihat bahayanya serta menghilangkan sikap fanatik mereka kepadanya. Amin.

Sumber: SALAFY edisi XVI/Dzulhijjah/1417/1997


[1] Lantas bagaimana dia menghukumi dirinya yang mengikuti kebiasaan orang-orang kafir barat dengan memotong habis jenggotnya dan memakai jas dan berdasi?

[2] Terjemahan buku ini diterbitkan oleh pustaka (Salman) Bandung dengan judul Keadilan Sosial dalam Islam cet. I th. 1984M/1404 H. Semua apa yang kami nukil di sini ada dalam terjemahan ini. Walaupun kadang-kadang sedikit berbeda terjemahan dengan apa yang saya tulis. Tetapi pada intinya sama. Wallahu A’lam.

Oleh : Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

sumber : http://darussalaf.org/stories.php?id=82

Mu’tazilah, Sekte Sesat Pemuja AkalAqidahHikmah Ilahi di Balik Musibah yang Melanda

 

 

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dr. Yusuf al-Qaradhawi Da’i Sesat Perusak Syari’at

Posted on 23 Juni 2008. Filed under: IM (Ikhwanul Muflisin), Manhaj, Tokoh Sempalan | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Sesungguhnya bencana yang tengah menimpa umat dewasa ini adalah menjamurnya kelompok-kelompok orang yang berani memanipulasi (memalsukan) “selendang ilmu” dengan mengubah bentuk syari’at Islam dengan istilah “tajdidi” (pembaharuan), mempermudah sarana-sarana kerusakan dengan istilah “fiqih taisiir” (fiqih penyederahanaan masalah), membuka pintu-pintu kehinaan dengan kedok “ijtihad” (upaya keras untuk mengambil konklusi hukum Islam), melecehkan sederet sunnah-sunnah Nabi dengan kedok “fiqih awlawiyyat” (fiqih prioritas), dan berloyalitas (menjalin hubungan setia) dengan orang-orang kafir dengan alasan “memperindah corak (penampilan) Islam”.

Tokoh yang menjadi pentolannya adalah seorang tukang fatwa lewat parabola, Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi, yang berusaha keras menyebarkan gagasan-gagasan pemikiran di atas lewat tayangan-tayangan parabola, jaringan-jaringan internet, konfrensi-konfrensi, studi-studi keislaman, ceramah-ceramah, dan lain-lain.

Lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapan pembaca ini memuat ringkasan dari beberapa ide pemikiran tokoh ini (Qaradhawi) yang dengan berbagai cara berusaha melariskan ide-ide pemikiran tersebut. Sengaja penulis tampilkan gagasan-gagasan Qaradhawi ini sebagai upaya memberi nasehat kepada umat Islam, dan sebagai pernyataan berlepas diri, serta memberi peringatan kepada umat Islam agar selalu waspada terhadap tokoh ini (Qaradhawi) dan tokoh-tokoh lain yang seide dengannya.

Bagi orang yang ingin mengetahui secara rinci uraian tentang gagasan-gagasan pemikiran Qaradhawi berikut sanggahan-sanggahannya, semuanya telah tercantum di dalam kitab “Al-I’laam binaqdi Al-Kitab Al-Halal wa Al-Haram” (“Kritik terhadap kitab ‘Halal dan Haram’ “Qaradhawi) karya Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan Al-Fauzan[1], juga “Ar-Raddu ‘Ala Al-Qaradhawi” karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah[2], Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al-‘Udainiy, serta kitab-kitab lainnya .

Kemudian, kami mendapati dalam artikel-artikel M. Shodiq Mustika banyak menukil pernyataan Yusuf Qaradhawi ini. Sejauh pengamatan kami, kami mendapati 2 (dua) artikel yang mana beliau (baca: M.Shodiq) menukil secara keseluruhan dari buku terjemahan karya Yusuf Qaradhawi –Allahu Ta’ala A’lam-.

Sebagaimana kami kemukakan di atas, maka pada kesempatan ini kami hanya akan membahas tentang penyelewengan-penyelewengan Yusuf Qaradhawi dengan berbagai bukti yang kami miliki. Adapun kesesatan-kesesatan Yusuf bin Abdillah Qaradhawi Al-Mishriy diantaranya adalah sbb;

Berusaha Menyatukan Antara Sunni dan Syi’ah

Pada acara “Hiwar Maftuh” yang diadakan pada tanggal 18/1/1425 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 9/3/2000 Masehi Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi berkata:

”Yakni, saya mengetahui hal ini (penyatuan antar madzhab islamiy) sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.Saya mulai mengetahuinya semenjak di kota Kairo, diantara orang-orang yang menyerukan hal ini adalah Syaikh Abdul Majid Saliim, Mahmud Saltut, Abdul ‘Aziz ‘Isa, Syaikh Muhammad Al-Madaniy serta Hasan Al-Banna bersama mereka. Dan Syaikh Taqiyuddin Al-Qummiy[3] pergi ke markaz Ikhwanul Muslimin dan Syaikh Hasan Al-Banna menerima beliau. Beliau (baca:Syaikh Hasan Al-Banna) adalah mursyid pertama (Ikhwanul Muslimin, pent)…”.

Fatwa Ulama Tentang Penyatuan Madzhab Antara Ahlus Sunnah Dan Syia’h

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah ditanya: Dari apa yang Anda ketahui tentang sejarah Rafidhah (Syi’ah), bagaimana sikap Anda terhadap orang-orang yang menyeru terhadap penyatuan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah (Syi’ah)?

Maka Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah menjawab sbb:

التقريب بين الرافضة وبين أهل السنة غير ممكن؛ لأن العقيدة مختلفة ، فعقيدة أهل السنة والجماعة توحيد الله وإخلاص العبادة لله سبحانه وتعالى ، وأنه لا يدعى معه أحد لا ملك مقرب ولا نبي مرسل وأن الله سبحانه وتعالى هو الذي يعلم الغيب ، ومن عقيدة أهل السنة محبة الصحابة رضي الله عنهم جميعا والترضي عنهم والإيمان بأنهم أفضل خلق الله بعد الأنبياء وأن أفضلهم أبو بكر الصديق ، ثم عمر ، ثم عثمان ، ثم علي ، رضي الله عن الجميع ، والرافضة خلاف ذلك فلا يمكن الجمع بينهما ، كما أنه لا يمكن الجمع بين اليهود والنصارى والوثنيين وأهل السنة ، فكذلك لا يمكن التقريب بين الرافضة وبين أهل السنة لاختلاف العقيدة التي أوضحناها

“Penyatuan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah adalah suatu hal yang tidak mungkin, dikarenakan aqidah yang berbeda. Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepadanya semata, serta mereka tidak menyembah seorangpun dalam beribadah kepada-Nya, tidak dengan (wasilah) para malaikat maupun dengan para rasul yang diutus-Nya, dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Dan termasuk aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, meridhai mereka, dan mengimani bahwa mereka adalah sebaik-baiknya makhluk (manusia, pent) setelah para nabi. Orang yang paling mulia di antara mereka (para sahabat, pent) adalah: Abu Bakr Ash-Shidiq, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhilallahu anhum. Sedangkan aqidah Rafidhah (Syi’ah) menyelisihi hal ini, maka tidak mungkin menyatukan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nashara, para penyembah kubur dan Ahlus Sunnah. Demikian juga tidak mungkin menyatukan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah dikarenakan perbedaan dalam masalah aqidah sebagaimana yang nampak jelas bagi kita”[4]

Tahukah pembaca apa yang menyebabkan beliau dan orang-orang mengikuti beliau berusaha keras untuk mewujudkan hal ini?, insyaAllah Anda akan mendapatkan jawabannya pada poin berikutnya.

.

Kaidah “Emas” Ikhwanul Muslimin dan Yusuf Qaradhawi

Berkata Yusuf Qaradhawi pada acara yang sama sbb:

وموقف الإخوان واضح من زمن طويل أنهم يحاولون تجميع الأمة الإسلامية كلها، وكانت قاعدتهم هي القاعدة الذهبية التي أقامها الشيخ رشيد رضا رحمه الله وتبناها الشيخ حسن البنا نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضا في ما اختلفنا فيه
“Dan sikap ikhwan (Al-Muslimin, pent) sangatlah jelas dari dahulu kala bahwasannya mereka berusaha untuk menyatukan seluruh umat islam. Dan sesungguhnya kaidah mereka ini adalah “kaidah emas” yang mana kaidah ini pertama kali diusung oleh Syaikh Rasyid Ridha rahimahullah kemudian diikuti oleh Syaikh Hasan Al-Banna (kaidah itu adalah, pent): “Kita saling bekerjasama dengan apa-apa yang telah kita sepakati dan kita saling memaafkan dengan apa-apa yang kita saling berbeda pendapat padanya’”.

Maka janganlah Anda heran apabila dalam tubuh Ikhwanul Muslimin akan terdapat banyak golongan, ada Nashara, Kuburiyin, Syi’ah, Asy’ariyyah, Jama’ah Tabligh dll hal ini dikarenakan “kaidah emas” mereka di atas. Dan sebab kaidah inilah Yusuf Qaradhawi mengucapkan kalimat seperti di atas.

.

Yusuf Qaradhawi Menolak Hadits Perpecahan Umat

Dari Halaqah program “Syari’a Wal Hayaah” tertanggal 28/09/2003 Masehi dengan judul Halaqah “At-Taqrib Bainal Madzahib Islamiyyah” berkata Yusuf Qaradhawi:

أولاً: أنا يعني لست ممن يُصَحِّح هذا الحديث، يعني الحديث دا هناك من العلماء من رده ومنهم الإمام ابن الوزير الذي يعني رد هذا الحديث وخصوصاً الزيادة التي تقول يعني “كلها في النار إلا واحدة”، قال احذر هذه الزيادة فإنها من دسيس الملاحدة
Pertama: Saya adalah termasuk orang yang tidak menshahihkan hadits ini (perpecahan umat, pent). Di sana ada beberapa ulama yang menentangnya (tentang kshahihan hadits, pent) dan di antara orang yang menentang keshahihan hadits ini adalah Al-Imam Ibn Al-Wazir terutama ia menolak penambahan pada kalimat “semuanya masuk Neraka kecuali satu”. Ia berkata:’Hati-hatilah dari penambahan ini, karena penambahan ini berasal dari tipuan orang-orang atheis’.

.

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Tentang Hadits Perpecahan Umat

فتوى للشيخ الفقيه بن عثيمين حول هذا الحديث
السؤال: له سؤال أخير يقول وجدت في تفسير ابن كثير حديثاً يقول فيه الرسول صلى الله عليه وسلم ما معناه ستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة فهل هذا الحديث صحيح وما هي الفرق الضالة من هذه الفرقة الناجية؟
هذا الحديث صحيح بكثرة طرقه وتلقي الأمة له بالقبول فإن العلماء قبلوه وأثبتوه حتى في بعض كتب العقائد وقد بين النبي عليه الصلاة والسلام أن الفرقة الناجية هي الجماعة الذين اجتمعوا على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه من عقيدة وقول وعمل فمن التزم ما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم من العقائد الصحيحة السليمة والأقوال والأفعال المشروعة فإن ذلك هو الفرقة الناجية ولا يختص ذلك بزمن ولا بمكان بل كل من التزم هدي الرسول عليه الصلاة والسلام ظاهراً وباطناً فهو من هذه الجماعة الناجية وهي ناجية في الدنيا من البدع والمخالفات وناجية في الآخرة من النار

Soal: Saya mendapati dalam kitab Tafsir Ibn Katsir beberapa hadits, ia menyebutkan bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya “akan terpecah belah umat ini (Islam) menjadi 73 golongan semuanya akan masuk Neraka kecuali satu” apakah hadits ini shahih, dan siapakah golongan yang sesat dari golongan yang selamat ini?

Jawab: “Hadits ini shahih dengan berbagai jalan (sanad) dan umat menerima hadits ini. Sesungguhnya para ulama menerima dan menetapkan (keshahihan hadits ini, pent) sampai-sampai dalam beberapa kitab aqidah membahas hal ini. Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita tentang golongan yang selamat adalah “al-jama’ah” yang mana mereka itu adalah orang-orang yang menetapi apa-apa yang mana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada padanya dalam masalah aqidah, perkataan, serta perbuatan. Barangsiapa yang beriltizam dengan apa-apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada padanya dalam masalah aqidah yang shahih dan selamat, perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan yang ditentukan oleh syari’at, maka mereka itu adalah golongan yang selamat. Golongan ini (baca:Al-Firqatun Najiyyah, pent) tidaklah dikhususkan oleh zaman dan tempat, bahkan barangsiapa yang beriltizam dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam baik secara zhahir maupun bathin maka dia termasuk golongan yang selamat ini. Golongan ini di dunia selamat dari perkara-perkara bid’ah serta perselisihan dan di akhirat selamat dari siksa api Neraka”. (Fatawa Nuur ‘alal Darb).

Kami berkata: Sesungguhnya kabar tentang perpecahan umat ini telah diterangkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah[5], dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran: 103).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Ali Imron: 105).

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” (QS. Asy-Syura: 13).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa” (QS. Al-An’am: 153).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An-Nisa’: 115).

Sedangkan untuk pembahasan keshahihan hadits perpecahan umat, silakan Anda milihat langsung di kitab Zhilalul Jannah Takhrij Kitabus Sunnah oleh Al-Muhadits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ternyata Yusuf Qardhawi tidak hanya menolak hadits perpecahan umat ini saja, beliau pun menolak hadits-hadits lainnya yang tidak sesuai dengan akal beliau. Di antaranya hadits-hadits tersbut adalah sbb:

a. Di dalam “Shahih Muslim” terdapat hadits marfu’ (hadits yang rangkaian perawinya sampai kepada Nabi) yang shahih:

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu masuk nereka”.

Dan para ulama telah sepakat tentang kepastian hal itu (yaitu bahwa ayah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) masuk Neraka, pent.)

Berkata Qaradhawi mengomentari tentang hadits di atas :

”Dosa apakah yang diperbuat Abdullah bin Abdul Muthalib sehingga ia berada di neraka sedangkan dia adalah ahli fatrah (orang yang hidup di masa kekosongan wahyu antara kurun Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan masa kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, peny.) dan yang shahih ialah bahwa mereka selamat dari azab”.

Kemudian ia menyebut kemungkinan yang terbersit olehnya yaitu ia mengartikan kalimat Abi (ayahku) dalam hadits di atas sebagai Abu Thalib karena ia adalah paman nabi dan paman adalah ayah. Kemudian ia membuangnya jauh-jauh seraya berkata:

”Akan tetapi itu adalah kemungkinan yang terlemah menurutku karena ia bertentangan dengan yang tersurat dari satu sisi. Dari sisi lain, apa dosa ayah laki-laki yang bertanya (sehingga ia masuk neraka). Yang tampak ialah karena ayahnya itu mati sebelum Islam. Oleh karena itu aku ber-tawaqquf terhadap hadits ini hingga jelas bagiku sesuatu yang menyejukkan dada. Adapun syaikh kami, Muhammad Al Ghazali telah menolak hadits tersebut secara terang-terangan … .”

Sampai perkataannya :

”Akan tetapi terhadap hadits shahih aku lebih memilih untuk bersikap tawaqquf tanpa menolaknya secara mutlak, khawatir apabila terdapat makna yang belum aku ketahui”. (Kaifa Nata’aamalu Ma’as Sunnah An Nabawiyah, halaman 97-98)

b. Di dalam “Shahih Bukhari” dan “Shahih Muslim” tercantum hadits marfu’ yang shahih:

يُوْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ
“Maut (kematian) akan didatangkan (pada hari kiamat) dalam bentuk seekor domba jantan berwarna sangat biru”. (H.R. Bukhari – Muslim)

Qaradhawi berkata:

“Telah dapat diketahui dengan yakin (pasti) yang kepastiannya telah ditetapkan oleh akal dan wahyu bahwa kematian itu bukan seekor domba jantan atau sapi jantan atau salah satu jenis binatang”.

c. Di dalam “Shahih Bukhari” tercantum hadits marfu’ yang shahih:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
“Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) yang menguasakan urusan (pemerintah) mereka kepada wanita”. (H.R. Bukhari)

Qaradhawi berkata:

“Ketentuan ini hanya berlaku di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di mana hak untuk menjalankan pemerintahkan ketika itu hanya diberikan kepada kaum laki-laki sebagai sikap kesewenang-wenangan. Adapun di zaman sekarang ini ketentuan ini tidak berlaku”.

4. Disebutkan di dalam hadits yang shahih:

مَا رَأَيْتُ مِن ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَسْلَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ
“Aku tidak pernah melihat makhluk yang kurang sempurna akalnya dan kurang sempurna ketaatan mengamalkan agamanya yang lebih mampu menggoyahkan hati seorang laki-laki yang teguh sekalipun daripada masing-masing orang di antara kalian (kaum wanita)”.

Qaradhawi berkata :

“Sesungguhnya pernyataan ini terlontar dari ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk bergurau”.

5. Disebutkan dalam hadits shahih:

لاَ يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ
“Seorang muslim tidak dijatuhi hukuman bunuh (hukum qishash) disebabkan membunuh orang kafir”.

Setelah Qaradhawi menyatakan bahwa seorang muslim harus dijatuhi hukum bunuh (qishash) disebabkan ia membunuh orang kafir – suatu pernyataan yang bertentangan dengan ketentuan yang terkandung di dalam hadits di atas – Qaradhawi berkata:

“Sesungguhnya pendapat ini (pendapat yang mengatakan bahwa seorang muslim harus dijatuhi hukuman qishash lantaran membunuh orang kafir, pent.) adalah pendapat yang benar, yang tidak layak pendapat yang lainnya diterapkan di zaman kita ini. Dan dengan memperkuat pendapat ini, berarti kita telah membatalkan semua argumen (alasan) pendapat lain. Dengan begitu berarti kita telah mengibarkan bendera syari’at Islam yang putih cemerlang (terang-benderang)”.

Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat Qaradhawi yang meyimpang (sesat) dalam mensikapi Sunnah Nabi di samping pendapat-pendapat Qaradhawi yang telah diutarakan di atas.

.

Yusuf Qaradhawi dan Israel (Yahudi)

Berkata Yusuf Al-Qaradhawi:

نحن لا نقاتل إسرائيل من أحل الإسلام, ولكن نقاتلها من أجل الإحتلام
“Kami tidaklah memerangi Israel di karenakan Islam, akan tetapi kami memerangi Israel di karenakan perebutan masalah tanah”[6].

Yaa Qaradhawi, dimanakah pemahaman Anda terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang menerangkan kepada kita bahwa kaum muslimin memerangi ”para penentang-Nya” dikarenakan masalah agama (Baca: agar mereka memeluk Islam, pent).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran: 85).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al-Baqarah: 120).

Na’am, apakah dalam ayat di atas disebutkan “sampai mereka mengembalikan tanah kalian !!!?” .Tidaklah mereka ridho kepada kita sampai kita mengikuti millah (agama) mereka wahai saudaraku.

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu:

إنك ستأتي قوم من أهل الكتاب؛ فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله الا الله, و أن محمد رسول الله
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlil Kitab; maka hendaklah hal yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah ‘persaksian bahwasannya tidak ada ilah yang berhaq di sembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.

Hal yang pertama kali di dakwahkan adalah kalimat Tauhid (Kalimat Laa Ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah, pent) bukan masalah negera atau tanah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah: 24).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أمرت أن أقتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله, و أن محمد رسول الله, ويقموا الصلاة, ويؤتوا الزكاة, فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم و أموالهم إلا بحق الإسلام, وحسابهم على الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia agar mereka mengucapkan syahadat bahwasannya tidak ada ilah yang berhaq disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka melakukan hal yang demikian maka tidak halal bagi kami darah dan harta mereka kecali karena haq Islam, dan perhitungannya hanya pada Allah”.

Dalam Shahihain dari hadits Ibnu ‘Umar dan hadits Buraidah dalam shahih Muslim disebutkan bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

ادعهم إلى الإسلام, فإن أبوا فالجزية, فإن أبوا فالقتال
“Serulah mereka (untuk memeluk, pent) Islam, apabila mereka enggan/menentang maka baginya Jizyah, dan apabila mereka (masih) menentang maka perangilah mereka”.[7]

Demikianlah hakikat permusuhan kita dengan para penentang agama Allah.

.

Yusuf Qaradhawi dan Kebebasan Wanita

Qaradhawi berusaha mengoyak tabir (hijab) yang menutupi kaum wanita dengan berbagai cara yang dapat ia lakukan. Berulangkali Qaradhawi menyatakan bahwa memisahkan tempat kaum wanita dari tempat kaum pria hukumnya adalah bid’ah dan tergolong tradisi yang tidak berasal dari ajaran Islam[8], dan bahwa sekat (pembatas) yang memisahkan tempat kaum wanita dari tempat kaum pria harus dilenyapkan.

Qaradhawi berkata dengan redaksi berikut ini:

“Dalam usiaku yang telah mencapai 70 tahun aku pernah pergi ke Amerika untuk menghadiri konfrensi-konfrensi Islam. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa ceramah-ceramah yang disampaikan dalam konfrensi-konfrensi Islam tersebut diikuti oleh para peserta wanita yang berada di suatu tempat (ruangan), sedang ceramah-ceramah yang diikuti oleh para peserta pria disampaikan di tempat (ruangan) yang lain. Suasana yang serba kaku tampaknya meliputi audiens (hadirin) dan terkesan bahwa mereka meniru-niru tradisi Barat, sehingga mereka berpegang pada pendapat yang kaku dan meninggalkan pendapat yang kuat. Akibatnya para peserta pria ditempatkan di ruang pertemuan yang terpisah dari ruang pertemuan para peserta wanita.[9]

Mengenai acara yang sama, Qaradhawi berkata :

“Padahal konfrensi-konfrensi semacam ini merupakan kesempatan bagi seorang pemuda untuk menatap seorang pemudi sehingga hatinya menjadi tertarik, lalu si pemuda dapat leluasa menanyakan tentang identitas si pemudi yang dengan sebab itu Allah bukakan pintu hati muda-mudi tersebut, dan di belakang pertemuan itu terbentuklah keluarga yang islamiy”.

Pada acara yang sama pula (Konfrensi Islam), ketika Qaradhawi dihampiri oleh seorang laki-laki yang ditugaskan untuk memberikan kata sambutan sebelum Qardhawi menyampaikan ceramah khusus di hadapan para peserta wanita, Qaradhawi berkata :

“Telah saya katakan kepada orang laki-laki yang ditugaskan untuk memberikan kata sambutan : ‘Apa peran Anda dalam acara ini ? Seharusnya peran Anda ini digantikan oleh salah seorang akhwat, karena pokok pembahasan yang akan diutarakan dalam ceramah adalah khusus untuk mereka (akhwat). Oleh karena itu salah seorang di antara akhwat itulah yang seharusnya memberikan kata sambutan sebagai pengantar ceramahku, mengucapkan sepatah kata, dan mengajukan pertanyaan-pernyataan, yang dengan cara ini berarti kita melatih mereka (akhwat) dalam bidang leadhersheap (kepemimpinan). Tatapi sayangnya sikap sewenang-wenang dari kaum laki-laki masih saja menimpa kaum wanita sampai-sampai sikap sewenang-wenang ini terjadi dalam urasan-urusan khusus kaum wanita’.”

Qaradhawi mengatakan bahwa wanita-wanita yang berhijab pun harus tampil dalam acara-acara televisi dan tayangan-tayangan parabola,[10] dan para wanita harus ikut serta dalam acara-acara pementasan drama dan sandiwara.[11]

Bahkan Qaradhawi menuturkan bahwa dia mempunyai dua orang puteri yang telah menamatkan studinya di beberapa universitas di Inggris – di sini sebenarnya Qardhawi ingin mengajak orang untuk mendukung budaya ikhtilath (campur-baur laki-laki dengan para wanita di satu tempat), budaya yang tak tahu malu – sehingga kedua puteri Qaradhawi tersebut mandapat gelar doktor, yang satu orang di bidang fisika nuklir dan yang lainnya di bidang biokimia.[12]

Demikian catatan kecil kami terhadap da’i sesat Yusuf bin Abdillah Al-Qoradhawi Al-Mishriy.

.

Ditulis Oleh Seorang Hamba yang Selalu Mengharap Ampunan-Nya

Abu Muhammad Abdurrahman bin Sarijan

Jahra, Kuwait: Sabtu, 01 Dzul Qo’dah 1428 H – 11 November 2007 M

 


Catatan Kaki:

1) Anggota Kibar Ulama (Persatuan Ulama-ulama besar) Saudi Arabia.

2) Ahli Hadits abad 20, berasal dari Yaman.

3) Seorang Ulama Syi’ah.

4) Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, jilid: 5.

5) Makna tali Allah dalam ayat ini adalah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhaailul Qur’an, hal: 75; Ad-Darimi 2/43; Ibn Nashir dalam As-Sunnah no. 22; Ibn Ad-Dhurais dalam Fadhaailul Qur’an, 74; Ibn Jarir dalam Tafsir-nya no. 7566 (Tahqiq: Syaikh Ahmad Syakir Al-Mishriy); At-Thabari dalam Tafsir-nya 9/9031; Imam Al-Ajuri dalam Asy-Syari’ah, hal: 16; Ibn Baththah dalam Al-Ibaanah no. 135. Riwayat ini Shahih.

6) Dinukil dari kitab Raad ‘alal Qordlowi, hal: 17. Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wada’iy rahimahullah. Cet: Daarul Atsar, Shona’a-Yaman.

7) Idem, hal: 17-18 dengan sedikit perubahan.

8) Qardhawi mengutarakan pernyataan ini di beberapa kitab karangannya, dan diberbagai acara serta di berbagai seminar yang Qardahwi ditunjuk menjadi pembicaranya. Di antaranya kitab “Awlawiyyaat Al Harakah Al Islaamiyyah” halaman 67, kitab “Malaamih Al Majtama’ Al Muslim” halaman 3, dan kitab “Markaz Al Mar’ah” halaman 41-130.

9) Qardhawi mengemukakan pernyataan ini pada pertemuan yang bertemakan “Tahaddiyaat Al Mar’ah Al Muslimah Fi Al Gharbi” yang merupakan bagian dari acara “Asy Syari’ah wa Al Hayaah” yang diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 1999M.

10) Qardhawi mengemukakan perkataan ini dalam pertemuan yang bertemakan “Al Fadhaa’iyyaat” (“Tayangan-tayangan Parabola”) yang merupakan bagian dari acara “Asy-Syari’ah wa Al Hayaah” yang diadakan pada tanggal 13 Juni 1999M.

11) Majalah “Al Mujtama’” Edisi no. 1319 tanggal 9 Jumada Ats Tsaaniyah 1419H.

12) Tabloid “Akhbaar Al Usbuu’” Edisi no. 401, hari Sabtu, 5 Maret, 1994M. Lihat majalah “Sayyidatuhum” Edisi 678, tanggal 5 Maret 1994M.Sumber: http://www.muslimah-salafiyah.blogspot.com

sumber: http://abdurrahman.wordpress.com/2007/11/10/membungkam-suara-para-perusak-syariat-pembebek-dai-sesat-yusuf-qardlowi/
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 7 so far )

Membongkar Kedok Sufi : Tasawuf & Sholawat Nabi

Posted on 15 Juni 2008. Filed under: Sufi / Tasawuf | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bukanlah amalan yang asing bagi seorang muslim. Hampir-hampir setiap majlis ta’lim ataupun acara ritual tertentu tidak pernah lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’)

Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi petunjuknya Shallallahu ‘alaihi wassallam. Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya, yaitu:

اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam . Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka.

Beberapa Shalawat ala Sufi

1. Shalawat Nariyah
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:

اللهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تآمًا عَلَى سَيِّدِنَا مًحَمَّدٍ الَّذِي تُنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ عَدَدَ كَلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.”

Para pembaca, bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya. Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih?!

Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188)

Dan juga firman-Nya :

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً

“Katakanlah (wahai Muhammad): Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)

Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam , lalu mengatakan: مَا شَاءَ اللهَُ وَ شِئْتَ
“Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ لِلَّهِ نِدًّا ؟!
“Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Ucapkanlah: مَا شَاءَ اللهَُ وَحْدَهُ “Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228, Muhammad Jamil Zainu)

Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta’ala. Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.

2. Shalawat Al Faatih (Pembuka)
Nash shalawat tersebut adalah:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ

“Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka segala yang tertutup ….”

Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah – secara dusta – : “….Kemudian beliau (Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.” (Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)

Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam , karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta’ala.

Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً

“Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An Nisaa’:122)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an),sebagai kalimat yang benar dan adil.”(Al An’am:115)

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya (artinya):

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah “. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani)

Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini.

3. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)
Nash adalah sebagai berikut:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”.

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut.

4. Shalawat Burdatul Bushiri
Nashnya adalah sebagai berikut:

يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia.

Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya.

Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits: تَوَسَّلُوا بِجَاهِي “Bertawasullah dengan kedudukanku”, merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85)

Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)

Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar).

5. Nash shalawat seorang sufi Libanon:


اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ الأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ

“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”

Padahal Allah Ta’ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari).

Wallahu A’lam Bish Shawab

Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat
Hadits Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ عَامًا

“Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”

Keterangan:
Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215)

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 50/II/IV/1426, diterbitkan Yayasan As Salafy Jember. Judul asli “Tasawuf & Sholawat Nabi”. Dikirim oleh al Al Akh Ibn Harun via email.)
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=947

Artikel Terkait:

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

Firqah Tabligh Dihujat

Posted on 14 Juni 2008. Filed under: JT (Jama'ah Tabligh) | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Berpenampilan zuhud. Berjalan ke sana kemari. Bergerombol. Ada yang menenteng kompor. Ada yang berjalan telanjang kaki. Mengajak orang-orang ke masjid. Mereka jama’ah (firqah) Tabligh [1]. Ada apa lagi dengan mereka?
Berpenampilan zuhud. Berjalan ke sana kemari. Bergerombol. Ada yang menenteng kompor. Ada yang berjalan telanjang kaki. Mengajak orang-orang ke masjid. Mereka jama’ah (firqah) Tabligh [1]. Ada apa lagi dengan mereka? Tidakkah cukup satu edisi membicarakan tentang mereka? Tidakkah merasa bosan? Apakah orang yang berdakwah, mengajak ke masjid dan rajin beribadah itu dikatakan sesat? Beranikah engkau menyatakan mereka sebagai orang yang sesat?! Itulah permasalahannya! Apakah kita tega untuk menyatakan sesat orang yang memang telah dikatakan sesat oleh para ulama kaum muslimin?! Apakah kita tetap lebih mendahulukan perasaan kita daripada ilmu yang menerangkan siapa mereka sebenarnya di balik baju kezuhudannya?! Apakah kita ragu mengatakan sesat orang yang memang sesat tetapi menutupi kesesatannya dengan berpura-pura zuhud??

Apakah kita ragu untuk membela agama Allah dari kerusakan yang mereka lakukan melalui baju tadi? Ataukah kita malah menyalahkan orang yang menerangkan tentang kesesatan mereka?Di edisi ini kita akan menambah ilmu tentang kesesatan mereka, bukan untuk mengikuti mereka. Tapi untuk berhati-hati. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:

Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengikutinya.
Akan tetapi untuk berhati-hati!
Karena siapa yang tidak mengetahui kejahatan,
dia akan terperosok ke dalamnya.

Setelah Anda mempelajari ‘aqidah ahlus sunnah yang benar, akan tampak kesalahan besar yang mereka lakukan. Kalau anda belum mempelajarinya, maka anda akan menganggapnya enteng dan biasa-biasa saja.

Sebelum kita berbicara tentang kesalahan-kesalahan Firqah Tabligh, maka kita akan memaparkan dulu sekilas sejarah mereka.

SELAYANG PANDANG TENTANG FIRQAH TABLIGH
Firqah ini berdiri di India melalui usaha Muhammad Ilyas Al Kandahlawi [2], kemudian menyebar di India, Pakistan hingga menembus negeri-negeri Arab dan di sana berdiri markas-markas mereka dan muncul para da’inya. Dan juga menembus negeri-negeri non Islam. Pusat kepemimpinannya ada di kampung Nizamuddin di kota Delhi. Dan dari sana juga bersumber segala perintah dan maklumat kelompok ini.

TUJUAN-TUJUAN KELOMPOK INI
Tujuan mereka berkisar untuk merealisasikan enam dasar (ushulus sittah) yang selalu mereka dengang dengungkan siang malam, yaitu:

1. Merealisasikan syahadat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah. Yang mereka maksudkan dengannya adalah: mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan keyakinan yang benar terhadap dzat Allah dengan meyakini bahwa Allah adalah dzat yang pencipta, pemberi rezki, pemberi manfaat, pemberi bahaya, memuliakan, menghinakan, menghidupkan, mematikan, pemberi, dan penahan. Mereka memahami kalimat tauhid sebatas makna tauhid Rububiyyah saja. Adapun makna secara uluhiyyah, maka itu disepelekan mereka secara ilmu dan amalan dan sikap menyepelekan tauhid uluhiyah yang berkembang di kalangan mereka, sangat tampak khususnya di kalangan pengikut mereka yang berasal dari non arab.” (Waqafat Ma’a Jama’atit Tabligh, Nazar Al Jarbu’ hal 5-6).

Tentang pemaknaan Laa Ilaaha Illallah dengan: Mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan yang benar terhadap dzat Allah, pernah ditanyakan kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hafizhahullah dan beliau menjawab dengan: “Ini adalah penafsiran yang batil. Salafush shalih tidak pernah mengenalnya. Dan bukan maksudnya engkau meyakini Allah dan mengeluarkan keyakinan dari selainNya, karena ini tidak mungkin. Karena keyakinan bisa terjadi pada selain Allah, sebagaimana dalam ayat (yang artinya): “Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahannam, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan pandangan yang menimbulkan keyakinan.” (At Takatsur: 6-7).

Meyakini sesuatu yang terjadi bisa dirasakan tidaklah menghapus tauhid, maka menurut keterangan ini, tafsiran seperti itu tertolak. (Ta’liqat ‘ala Kitab Kasyfusy Syubhat, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin hafizhahullah hal. 19).

2. Shalat dengan khusyu’. Mereka sangat memperhatikan penunaian shalat walau bagaimanapun sibuknya demikian juga kekhusyu’annya, selalu memperhatikan shaf pertama, dan berbuat amalan sunnat. Perkara ini memang dituntut kepada setiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah, akan tetapi mereka meremehkan sisi mempelajari rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya dan hukum-hukumnya.” (Waqafat… hal 6).

Syaikh Al Albani dalam kasetnya yang berjudul Nasehat untuk Jama’ah Tabligh mengatakan bahwa mereka mendapatkan ilmu tentang tauhid, shalat dan yang lainnya tidak dari jama’ah mereka, tapi dari berbagai tempat karena memang dalam kelompok mereka tidak memperhatikan bidang-bidang ilmu tersebut.

3. Ilmu. Dan yang mereka maksudkan adalah ilmu fadhail dan ilmu tentang keorganisasian jama’ah tabligh, permasalahan-permasalahannya, tarekat-tarekat Sufiyah para syaikhnya dan ilmu tentang permisalan-permisalan yang mereka buat. Adapun ilmu tentang hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka tidak mereka perhatikan dan hargai.[3]

4. Memperbaiki niat agar amal bersih dari riya’ dan ingin dikenal orang.

5. Menghormati kaum muslimin dan bersikap lembut kepada mereka. Mereka keterlaluan dalam hal ini hingga meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan alasan untuk menyatukan hati.

6. Khuruj di jalan Allah. Mereka membatasinya dengan khuruj bersama mereka untuk berdakwah.” (Waqafat… hal 6-7 dengan beberapa ringkasan).

ULAMA TABLIGH
Tidak diketahui adanya ulama di kalangan mereka yang mereka jadikan sebagai rujukan. Bahkan hampir-hampir penuntut ilmu yang terpandang keilmuannya tidak ada di kalangan mereka. Itu terjadi karena mereka jauh dari ilmu dan para ulama.” (Waqafat… hal 10).

Perkara-perkara yang Terlarang di Kalangan Jama’ah Tabligh
Termasuk dasar kelompok ini adalah melarang pengikutnya untuk membicarakan masalah keyakinan (masalah tauhid) atau masalah fiqh, karena hal itu membuka pintu-pintu kejelekan dan membuat kaum muslimin menjadi terpecah. Bahkan bisa membuat ganjalan dalam dakwah. Dan menuntut ilmu juga terlarang di barisan mereka. Kalau ada yang menuntut ilmu [4], maka tokohnya akan melarang sebagaimana yang terjadi pada beberapa orang teman yang mengingkari kemungkaran dan bid’ah yang dilakukan orang bahkan lebih luas dari itu. Tapi orang-orang Tabligh tidak memandang itu sebagai suatu dasar untuk mengingkari kemungkaran dan hanya mencukupkan dengan menyuruh orang berbuat yang baik saja.” (Waqafat… hal 13).

Ini adalah bahaya yang besar karena melarang orang untuk menerangkan mana yang benar dan mana yang salah dengan alasan takut timbul perpecahan. Karena termasuk manhaj salafus shalih adalah Al ‘Ardh (memaparkan kebenaran) dan Ar Radd (membantah kesalahan itu).

KESALAHAN-KESALAHAN KELOMPOK TABLIGH DAN PENYIMPANGANNYA DARI MANHAJ YANG SYAR’I
Pertama: menggunakan manhaj sufi dalam bidang aqidah, dakwah, ibadah, cara para pengikutnya, amirnya dan syaikhnya. Sehingga terjadi pada individu-individu kelompok ini, khususnya non arab, bid’ah-bid’ah, kesyirikan-kesyirikan, jimat-jimat dan lain-lain. Jimat itu pernah dibuka dan saya melihat di dalamnya tertulis dengan bentuk segi tiga, segi empat, ayat-ayat yang terpotong-potong dan tulisan-tulisan yang tidak difahami. Dan berisi panggilan kepada nama-nama yang asing seperti Ya Baduh, Ya Syaddad. Demikian juga, mereka beribadah kepada tempat-tempat yang dianggap keramat dan kubur-kubur. Mereka berdo’a dan memohon berkah kepadanya…

Kedua: berbai’at kepada sang amir dan sebagian para syaikhnya bagi arab dan non arab dengan berdasarkan empat tarekat: Jistiyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan Sahrawardiyyah. Di jazirah arab mereka menampakkan diri banyak melakukan sunnah-sunnah. Dan ketika ketahuan kesesatan mereka, mereka berdalih bahwa keempat tarekat itu yang tersebar di India. Dan kalau mereka (para pengikut Tabligh) tidak dibai’at, mereka akan dicaplok dan berbai’at oleh kelompok-kelompok lain yang dianggap sesat oleh mereka. Dari mana mereka menghukumi dengan membolehkan manusia berbai’at kepada mereka menurut empat tarekat ini hingga manusia tidak bersandar kepada tarekat-tarekat yang lebih sesat darinya. Maka mereka harus membawakan dalil tentang hal itu dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Ketiga: Mereka mengakui dan berpegang dengan buku Tablighi Nishab karya Muhammad Zakaria Al Kandahlawi sebagai manhaj dan patokan dalam dakwah.

Buku itu sendiri di dalamnya mengandung bid’ah-bid’ah, kesyirikan-kesyirikan dan kesufian. Demikian juga dengan buku Hayatush Shahabah karya Muhammad Yusuf Al Kandahlawi yang penuh dengan kisah-kisah palsu dan hadits-hadits dha’if (lemah) dan palsu…

Keempat: mereka membatasi pengertian Islam hanya dengan sebagian amalan Islam seperti: ibadah praktis, dzikir-dzikir, memuliakan kaum muslimin, bersikap lembut kepada mereka, zuhud di dunia, dan mengajak manusia kepadanya. Mereka menganggap dengan itu telah menegakkan Islam menurut bentuk yang paling sempurna, padahal mereka berpaling dari firman Allah (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh.” (Al Baqarah: 208).

Yaitu masuk ke dalam Islam sampai ke batas akhir syari’at-syari’atnya tanpa melampaui batas, sebagaimana yang diterangkan dalam tafsir Al Baghawi 1/183.

Mereka juga berpaling dari mendidik kaum muslimin di atas tauhid dan jihad di jalan Allah. Mereka pura-pura tidak tahu tentang keadaan pahit yang sedang dirasakan kaum muslimin dan kebutuhan mereka yang sangat besar kepada perbaikan dengan manhaj (metode, sistem pemahaman, pengamalan dan dakwah) yang sempurna. Mereka melalaikannya. Kemudian mereka datang dengan manhaj yang menyimpang dan kabur.

Terdapat dalam Fatwa Lajnah Da’imah Lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ no. 1674 tanggal 7/10/1397H yang berisi jawaban tentang Jama’ah Tabligh, sebagai berikut:

“Sesungguhnya jama’ah tabligh memiliki semangat untuk mengamalkan apa yang diyakini dan mengajak kepada akhlak yang baik serta tidak menghina manusia. Padanya terdapat sikap menyuruh saling menghormati kepada yang lain, maka tidak ada pertengkaran sesama anggotanya dengan kelompok lain dan dengan pemerintah. Akan tetapi mereka keterlaluan dalam bersikap saling menghormati tadi, pasif dan bersikap global dalam berdakwah hingga mereka meninggalkan berbicara tentang kerincian aqidah tauhid, padahal ini adalah dasar Islam. Padahal tauhid ini yang didakwahkan pertama kali oleh para rasul ‘alaihimush shalatu was sallam. Mereka melawan ummat-ummat hingga terjadi permusuhan dan peperangan antara dua kelompok itu. Dan itu adalah jihad di jalan Allah dan menolong agama-Nya serta meninggikan kalimat-Nya. Sedangkan di kalangan mereka (tabligh) tidak dikenal kecuali khuruj [5] dan mendakwahkannya [6], yang mana ini adalah dasar yang dikenal di kalangan jama’ah tabligh. Dan tidak ada diketahui di kalangan para Nabi hanya semata-mata saling menghormati, tapi mereka memperjuangkan kebenaran sebagaimana mereka bersemangat untuk mengamalkannya. Mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela, kebencian dan pemerintah walau akhirnya terjadi peperangan, hijrah dan pembunuhan jiwa. Sedangkan Jama’ah Tabligh tidak pernah diketahui kalau mereka melakukan hal yang demikian, yaitu bersikap dengan sikap para rasul ‘alaihimus shalatu was salam dalam berdakwah, mengajak kepada kerincian syariat yang ushul dan furu’nya. Sedangkan mereka (tabligh) hanya sebatas khuruj dan global [7] dalam dakwah. Orang-orang yang ikut khuruj bersama mereka tidak mendapatkan pemahaman yang benar tentang Islam atau pengetahuan tentang hal-hal yang rinci dalam agamanya. Dakwah yang demikian ini tidaklah mengikuti Sunnah para rasul ‘alaihimush shalatu was salam.”

Kelima: Mereka meremehkan ilmu dan ulama serta melarang pengikut-pengikutnya untuk menuntut ilmu dan duduk belajar kepada para ulama kecuali yang mendukung mereka. Dan itu dinyatakan terang-terangan. Maka meratalah kebodohan dan menyebarlah keruntuhan ilmu di kalangan mereka. Jadilah perasaan, bisikan hati, mimpi-mimpi, keramat-keramat dan keajaiban-keajaiban sebagai ukuran baik buruk segala permasalahan di kalangan mereka. Akibatnya timbullah kesalahan yang inilah akibatnya.” (Waqafat hal. 29).

“Al Ustadz Saifurrahman berkata (dalam Nadhrah ‘Abirah I’tibariyyah Haulal Jama’atit Tabligh hal. 60 dengan ringkas): Sesungguhnya orang-orang Tabligh membangun agama mereka di atas kejahilan (kebodohan), beriman kepada khurafat-khurafat dan hikayat-hikayat, mencintai kebodohan dan orang-orang bodoh, lebih mempercayai orang-orang yang bodoh daripada para ulama kaum muslimin serta memerangi ilmu dan para ulama.” (Al Qaulul Baligh Fit Tahdzir min Jama’atit Tabligh, Hummud At Tuwaijiri hal. 201).

Keenam: Berdakwah mengajak manusia kepada agama Allah tanpa berdasarkan ilmu dan bashirah. Ini menjadi sebab yang paling besar menyeret kepada penyimpangan. Karena mereka mengajak manusia kepada sesuatu yang mereka sendiri tidak paham. Maka orang yang tidak memiliki sesuatu tentu tidak akan bisa memberi kepada yang lain. Inilah mereka, mereka mengajak manusia kepada Islam, mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ternyata mereka malah tidak tahu dan tidak faham tentangnya. Bahkan sebenarnya mereka sendiri yang sangat perlu dididik dan didakwahi[8]. Di dalam Al Qur’an dinyatakan (yang artinya): “Katakanlah: Inilah jalanku. Aku mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu dan juga orang yang mengikutiku.” (Yusuf: 108).

Yaitu, dakwah yang aku dakwahkan adalah jalanku dan sunnahku. Dan orang yang mengikutiku juga berdakwah seperti aku berdakwah di atas hujjah (dalil) yang jelas, keyakinan dan bukti.

Imam Asy Syaukani berkata dalam tafsirnya Fathul Qadir ketika membicarakan ayat ini: “Di dalam ayat terdapat dalil bahwa setiap orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib pula atasnya untuk mengikuti beliau dalam berdakwah kepada Allah, yaitu berdakwah untuk beriman kepadaNya, mentauhidkan-Nya dan beramal dengan apa-apa yang disyari’atkan untuk hamba-hamba-Nya (dengan ilmu syari’at Allah –pent).

Ayat-ayat tentang keutamaan ilmu dan para ulama banyak sekali. Allah berfirman (yang artinya): “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu? Hanya sanya orang yang mengambil peringatan adalah ulul albab.” (Az Zumar: 9).

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan wanita.” (Muhammad: 19).

Dan dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, Dia jadikan hamba tersebut memahami agama.” (HR. Bukhari).

Ketujuh: Mereka banyak berdalil dengan hadits-hadits dha’if (lemah) dan palsu serta yang tidak ada asalnya. Mereka beralasan dalam hal itu dengan pendapat para ulama yang membolehkan beramal dengan hadits-hadits yang dha’if, tapi menghempaskan syarat-syarat kebolehan menggunakan hadits-hadits tersebut ke tembok. Ini kalau kita berbaik sangka bahwa mereka mengetahui syarat-syarat itu. Tapi sangat kecil sekali kemungkinan mereka mengetahuinya. Kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Itu karena mereka tidak belajar, maka akibatnya tidak bisa membedakan mana yang shahih dan mana yang tidak serta palsu. Mereka mengambil semua hadits yang dianggap shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkannya dan menyuruh orang lain mengamalkannya. Maka mereka menambah dalam agama Allah apa-apa yang bukan darinya. Dan menyandarkan kepada Rasulullah apa-apa yang tidak beliau katakan dengan mempromosikan hadits-hadits lemah dan palsu ini. Dan Nabi telah bersabda (yang artinya): “Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silahkan dia menyiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad dan enam serta yang lainnya. Dan ini hadits yang mutawatir.)

Maka hendaklah seorang muslim khawatir dalam masalah ini kalau dia menimbulkan bencana, bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan. Dan hendaknya juga berhati-hati kalau dia terjatuh dalam perbuatan berdusta atas nama Rasulullah karena tidak tahu bahwa perbuatan tersebut akibatnya merugikannya padahal dia mengharap pahala, dan menjadi sesat padahal dia mengharapkan hidayah.

Kedelapan: Berhizb-hizb (berkelompok-kelompok) dan mendirikan kelompok sendiri yang menyelisihi manhaj ahlus sunnah wal jama’ah serta mengambil bai’at dari para pengikutnya untuk sang amir. Jadilah individu mereka terpisah dari saudara-saudaranya kaum muslimin, maka dia hanya mengajak orang kepada jama’ahnya. Dia membenci dan mencintai, berwala’ dan bermusuhan karena jama’ahnya. Tidak ada yang benar kecuali yang disetujui oleh kelompoknya walau bagaimanapun kesalahannya.

Dia menganggap tidak ada jalan untuk berdakwah kecuali hanya melalui kelompok-kelompok hizbiyahnya sebagaimana yang dilakukan jama’ah tabligh dan yang lainnya.

Permasalahan ini termasuk hal yang paling berbahaya yang menimpa para da’i dan para pengikutnya. [9] Mereka memandang wala` dan bara` dilakukan terhadap orang lain menurut ukuran dekatnya atau jauhnya mereka dari manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah yang mana dia adalah kelanjutan sejarah syari’at di masa sahabat, tabi’in, dan para salaf ummat ini. Kita yang berada di kerajaan Saudi mengharap agar kita menjadi manusia yang paling dekat kepada manhaj ini khususnya kelanjutan dakwah ishlah yang memperbaharui yang dilaksanakan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan bantuan Imam yang sholih, Muhammad Su’ud. Marilah kita memegang teguh dasar-dasar dan manhaj dakwah salafiyyah ini hingga kita menjadi sebuah jama’ah saja yang berada di atas manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah. Dan hingga kita tidak memecah-belah menjadi beberapa jalan yang dialiri hawa nafsu yang berakibat kita menjadi orang-orang yang memecah agama mereka dan bergolong-golongan.

Ini adalah kesalahan-kesalahan yang paling tampak dan penting yang saya peringatkan di kesempatan ini.

Dan hendaklah pembaca tahu bahwa saya hanya memperingatkan tentang kesalahan bersifat manhaj yang terjadi di kalangan Jama’ah Tabligh dan yang menyelisihi manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah tanpa membahas kesalahan yang dilakukan individu-individunya. Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada yang selamat dari kesalahan manhaj ini dari individu-individu jama’ah ini kecuali sangat sedikit sekali.

Dan ada sebagian orang yang bergabung dengan mereka karena mencintai mereka (sebagai sandaran kaum muslimin, -pent) dan berbaik sangka kepada mereka, dan ketika itu terbukalah tirai yang selama ini menutup mereka hingga jelas kesesatan mereka. Maka hendaklah dia keluar meninggalkan mereka dan berhati-hati terhadap mereka.

Semoga Allah merahmati para salaf ummat ini dari kalangan Ahlus sunnah wal jama’ah yang selalui bersikap terang-terangan terhadap ahli bid’ah dalam menjauhi, memusuhi dan memperingatkan manusia dari kejahatan mereka. Dan membongkar keyakinan-keyakinan busuk ahli bid’ah, akan saya bawakan sebagian nash-nash (keterangan) tentang hal itu.

SEBAGIAN RIWAYAT TENTANG PERINGATAN PARA SALAF AGAR JANGAN DUDUK DAN BERGAUL DENGAN AHLI BID’AH
Sebelum saya membawakan sebagian riwayat dari para salaf tentang larangan duduk dan bergaul dengan ahli bid’ah akan saya bawakan riwayat dari ibu kita Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Dia yang menurunkan kepadamu al kitab. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas) dan itu adalah induk kitab dan yang lainnya adalah mutasyabihat (samar)” hingga ayat: “Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (Ali Imran: 7). Maka beliau bersabda: Bila kalian melihat orang-orang yang mencari-cari ayat-ayat yang mutasyabihat, maka merekalah yang disebutkan Allah dalam ayat ini dan berhati-hatilah terhadap mereka. (HR. Bukhari dan yang lainnya).

Adapun dari atsar adalah ucapan Al Hasan dan Ibnu Sirin, keduanya berkata: “Janganlah kalian duduk bersama para pengikut hawa nafsu, mendebat mereka dan jangan mendengar ucapan mereka.” (Riwayat Ad Darimi dalam sunannya 1/110 dan Al Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus sunnah wal jama’ah 1/133).

Abu Qilabah berkata: “Jangan kalian duduk dan bergaul dengan ahlul bid’ah, karena aku merasa tidak aman kalau mereka akan membenamkan kalian dalam kesesatan dan mengaburkan kepada kalian banyak hal yang telah kalian ketahui.” (Riwayat Ad Darimi 1/108 dan Al Lalika’i 1/134).

Yahya bin Abi Katsir berkata: “Kalau engkau berpapasan dengan Ahli bid’ah di satu jalan, maka carilah jalan lain.” (Riwayat Al Lalika’i 1/1137).

Abdullah bin Al Mubarak berkata: “Hendaklah majlismu bersama orang-orang miskin dan janganlah engkau bermajlis dengan Ahlul bid’ah.” (Al Lalika’i 1/137).

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Siapa yang didatangi oleh seseorang dan meminta pendapatnya tapi dia malah menyuruh orang yang datang itu untuk mendatangi Ahli bid’ah, berarti dia telah menipu Islam. Hati-hati, jangan mendatangi Ahli bid’ah, karena mereka menghalangi kalian dari kebenaran.” (Al Lalika’i 1/137).

Beliau berkata juga: “Jangan engkau duduk bersama Ahlul bid’ah, karena aku takut laknat Allah turun kepadamu.” (Al Lalika`i 1/137).

Beliau berkata lagi: “Aku menemui manusia yang baik-baik, mereka semua adalah Ahlus sunnah dan mereka melarang bergaul dengan ahlul bid’ah.” (Al Lalika`i 1/138).

Ibrahim bin Maisarah berkata: “Siapa yang menghormati Ahli bid’ah, berarti dia telah membantu untuk menghancurkan Islam.” (Al Lalika’i 1/139).

Al Hasan Al Bashri berkata: “Melaknat Ahlul bid’ah dan orang fasiq karena kefasikannya bukan termasuk ghibah.” (Al Lalika’i 1/140).

Ada seseorang bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang sesuatu tapi dia tidak menjawabnya. Ada yang menanyakan tentang sikapnya itu kepadanya, maka dia mengatakan: “Dia (si penanya) adalah Azayisyan (dalam bahasa Persia yang berarti dari mereka, yaitu dari ahlul bid’ah).” (Ad Darimi 1/109).

Mujaddid abad 20, syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam risalahnya kepada penduduk Qashim yang berisi tentang aqidahnya: “Dan saya berpendapat bahwa ahlul bid’ah harus diisolir dan dijauhi hingga mereka bertaubat.” (Rasa’ilusy Syakhshiyyah hal. 11 yang berisi kumpulan karangan-karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang dikumpulkan oleh Universitas Al Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyyah).

Dan riwayat-riwayat tentang hal itu banyak sekali, maka dimana kedudukan orang-orang yang menyuruh para pemuda muslim dan orang awam yang mereka tidak memiliki ilmu untuk bergaul dengan jama’ah Tabligh dan mengambil ilmu dari mereka (padahal kelompok ini adalah ahlul bid’ah, -pent). Di mana kedudukan mereka di hadapan nash-nash (keteranga-keterangan) ini.

Hendaklah mereka takut kepada Allah karena para pemuda ini agamanya akan menjadi kabur dan hendaklah takut kepada ayat Allah yang berbunyi (yang artinya):“Hendaklah mereka memikul dosa-dosa mereka secara sempurna dan dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak tahu sedikitpun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah, amat buruk sekali apa yang mereka pikul itu.” (An Nahl: 25).

(Waqafat hal. 17-41 dengan beberapa ringkasan)

[1] Untuk selanjutnya disebut firqah

[2] Telah diterangkan di edisi yang lalu bahwa pendiri Firqah Tabligh ini adalah seorang penganut tarikat sufiyah Naqsyabandiyah yang salah satu pemahaman yang amat bahaya ialah apa yang dinamakan Wihdatul Wujud, yaitu keyakinan bahwa Allah menyatu dengan hambaNya yang dicintaiNya bila hamba tersebut telah mencapai tingkatan kewalian tertentu.

[3] Mereka istilahkan ilmu-ilmu tersebut sebagai ilmu Masa`il yang mereka anggap bisa menjadi sumber perpecahan di kalangan ummat.

[4] Ilmu yang dimaksud di sini ialah memahami Al-Qur`an dan Hadits dengan pemahaman Salafus Shalih.

[5] (Meninggalkan rumah) negeri dalam rangka menyeru kaum muslimin untuk ikut bersama gerakan sufiyah mereka.

[6] Yakni mendakwah dengan apa-apa yang mereka anggap sebagai kewajiban khuruj atas kaum muslimin.

[7] Yaitu seruan-seruan yang bersifat umum yang kiranya bisa diterima oleh semua pihak seperti: shalat, Ukhuwah Islamiyyah dan lain-lain tanpa merincinya menurut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[8] Ada salah seorang mereka yang memberi nasehat kepada kami di Masjid Sakrinah setelah shalat fajar. Dia menceritakan dengan terbata-bata bahwa dia mendapat hidayah melalui jama’ah ini sejak beberapa bulan yang lalu ketika berada di Amerika dan dia langsung menghentikan belajarnya dan khuruj untuk berdakwah di jalan Allah! Lihatlah, bagaimana dia berpindah dari kefasikan dan kerusakan kepada berdakwah langsung tanpa didasari ilmu dan bashirah serta kemampuan untuk menasehati. Hanya kepada Allah tempat mengadu dari kebodohan kuadrat ini.

Mengapa mereka tidak memasuki rumah dari pintu-pintunya dengan belajar ilmu kepada para ulama dan memahami agama Allah sebelum berdakwah di jalan Allah.

[9] Yang ana pahami dari susunan kalimat di paragraf ini seperti terdapat kalimat yang terputus / hilang, wallahu a’lam, -nas.

Sumber: Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M

Diambil dari: http://www.darussalaf.org/myprint.php?id=779

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

JIL – Thaghut Penyeru Pluralisme dan Inklusivisme

Posted on 13 Juni 2008. Filed under: JIL (Jaringan Iblis Laknatullah) | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

JIL1 – Thaghut2 Penyeru Pluralisme3 dan Inklusivisme4

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

وَ الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ! لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَ لاَ نَصْرَانِيٌّ , ثُمَّ يَمُوْتُ وَ لَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ, إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini5 baik orang Yahudi maupun orang Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali ia menjadi penghuni neraka.”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya no. 153 dan diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi “Wujubul Iman bi Risalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ila Jami’in Nas wa Naskhul Milali bi Millatihi” (Wajibnya seluruh manusia beriman dengan risalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terhapusnya seluruh agama/ keyakinan yang lain dengan agamanya).
Hadits ini menunjukkan terhapusnya seluruh agama dengan diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruh manusia (dan jin) yang menemui zaman pengutusan beliau sampai hari kiamat wajib untuk menaati beliau. Di sini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebut Yahudi dan Nashrani karena mereka berdua memiliki kitab (yang diturunkan dari langit). Hal ini diinginkan sebagai peringatan bagi selain keduanya, sehingga lazimnya apabila mereka (Yahudi dan Nashrani) saja harus tunduk dan menaati beliau, maka selain keduanya yang tidak memiliki kitab lebih pantas lagi untuk tunduk. (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 2/188, Darur Rayyan 1407 H)

Agama ini mengajarkan kepada umat Islam untuk mengatakan bahwa agama selainnya adalah kafir, sehingga dalam keyakinan Islam, agama lain tidak bisa dibenarkan keberadaannya. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan salah satu tujuan diutusnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menghapuskan agama selain Islam, sehingga yang ada hanyalah Islam, walaupun Islam masih memberikan batasan-batasan hukum kepada yang lainnya yang dikenal dengan hukum bagi ahludz dzimmah.

Islam sendiri membagi muamalah antara penganutnya dengan orang kafir menjadi empat: kafir harbi, kafir musta’min, kafir mu’ahad dan kafir dzimmi, sehingga setiap golongan diperlakukan sesuai dengan golongannya. Inilah toleransi positif dan benar yang sesuai dengan ketetapan agama Allah serta tidak diragukan kebenarannya, sehingga batillah seruan para thaghut pluralis yang menyatakan bahwa toleransi seperti ini, tanpa ada dalil dari Kitabullah dan Sunnah, sebagai toleransi dalam penafsiran negatif sebagaimana tertera dalam buku mereka Pluralitas Agama: Kerukunan dalam Keberagaman, hal. 13, Penerbit Buku Kompas, 2001. Maka sebagai konsekuensi toleransi ini, mereka harus menerima pengkafiran kaum muslimin terhadap agama lain dan penganutnya.

Agama Islam Menghapus Seluruh Ajaran Agama Sebelumnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para nabi dan rasul untuk menegakkan hujjah-Nya di muka bumi, sehingga tidak ada alasan bagi para hamba bila enggan beriman setelah itu. Dan tidak ada satu umat pun melainkan telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira, sejak rasul yang pertama, Nuh ‘alaihissalam, dan ditutup oleh Nabi dan Rasul yang terakhir Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seruan semua utusan Allah tersebut adalah satu, yaitu:

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)

Agama para nabi dan rasul tersebut satu yaitu Islam, karena pengertian Islam secara umum adalah beribadah kepada Allah dengan apa yang Dia syariatkan sejak Allah mengutus para rasul sampai datangnya hari kiamat. Sebagaimana Allah sebutkan hal ini dalam banyak ayat, yang semuanya menunjukkan bahwasa syariat-syariat terdahulu (umat sebelum kita) seluruhnya adalah Islam (tunduk) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti firman Allah menyebutkan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk berserah diri kepadamu (muslim) dan jadikanlah anak turunan kami sebagai umat yang tunduk berserah diri (muslim) kepadamu.” (Al-Baqarah: 128)

Adapun Islam dengan makna yang khusus adalah agama yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghapuskan seluruh ajaran nabi dan rasul terdahulu, sehingga orang yang mengikuti beliau berarti telah berislam, sedangkan yang menolak beliau bukan orang Islam. Pengikut para rasul adalah muslimin di zaman rasul mereka. Maka Yahudi adalah muslimin di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nashrani adalah muslimin di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, jika mereka benar-benar mengikuti syariat rasul mereka. Adapun setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, lalu mereka tidak mau beriman kepada beliau maka mereka bukan muslimin (baca: orang Islam). (Syarh Tsalatsatil Ushul, Al-Imam Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 20-21, Dar Ats-Tsurayya, 1417 H)

Agama Islam inilah yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Dia tidak menerima agama selainnya:

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللَّهِ اْلإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah agama Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Siapa yang mencari agama selain agama Islam maka tidak akan diterima agama itu darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya selain agama Islam, dengan mengikuti para rasul dalam pengutusannya pada setiap masa, sampai ditutup oleh Nabi dan Rasul yang akhir Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah menutup seluruh jalan kepada-Nya kecuali dari sisi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan begitu, siapa pun yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beragama selain syariat yang beliau bawa dan ajarkan, maka tidak diterima agama tersebut darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/19, Maktabah Taufiqiyah, tanpa tahun)

Agama Islam inilah yang Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau, dan Allah nyatakan sebagai agama yang diridhai-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh perkara yang cocok diterapkan di setiap zaman, setiap tempat dan setiap umat. Islam adalah agama yang sarat dengan ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam adalah pedoman hidup yang jelas, sempurna dan lurus untuk seluruh bidang kehidupan. Islam adalah agama dan negara (daulah), di dalamnya terdapat manhaj yang haq dalam bidang hukum, pengadilan, politik, kemasyarakatan dan perekonomian serta segala perkara yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan dunia mereka, dan dengan Islam nantinya mereka akan bahagia di kehidupan akhirat. (Dinul Haq, Abdurrahman bin Hammad Alu Muhammad, hal. 35, diterbitkan oleh Wazaratusy Syu’unil Islamiyah Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, 1420 H)

Dengan demikian, wajib bagi setiap orang yang mengaku mengikuti agama para rasul, apakah itu Yahudi ataupun Nashrani, untuk beriman dan tunduk kepada agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila mereka enggan dan berpaling, berarti mereka adalah orang-orang kafir walaupun mereka mengaku beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihimassalam. Dan pada hakikatnya mereka tidak dipandang beriman kepada Nabi Musa dan Nabi ‘Isa ‘alaihimassalam sampai mereka mau beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Dinul Haq, hal. 33)

Pemaksaan Para Thaghut Pluralisme- Inklusivisme agar Agama Lain Juga Diterima sebagai Suatu Kebenaran
Agama Islam adalah kebenaran mutlak, adapun selain Islam adalah kekufuran. Siapa pun yang enggan untuk beragama dengan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia kafir. Namun kebenaran mutlak ini ditolak oleh para thaghut pluralis dan inklusif Paramadina, JIL dan yang lainnya dengan memaksakan agar Islam jangan merasa benar sendiri tapi perlu melihat kebenaran pada agama lain. Seperti tulisan Budhy Munawar Rahman, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Jakarta, yang dimuat dalam situs http://www.Islamlib.com, 13 Januari 2002, berjudul Memudarnya Kerukunan Hidup Beragama, Agama-agama Harus Berdialog dan juga di harian Republika, 24 Juni 2000, berjudul Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama. Dalam tulisannya, ia memaksakan teologi pluralis dengan melihat agama-agama lain sebanding dengan agama Islam, dan juga terhadap ayat Allah yang menunjukkan agama yang Allah terima dan Allah ridhai hanyalah agama Islam (Ali Imran: 19 dan 85). Diajaknya orang-orang untuk membaca ayat ini dengan semangat inklusif, semangat agama universal dengan memaknakan Islam sebagai agama yang penuh kepasrahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga semua agama bisa dimasukkan ke dalamnya asalkan berpasrah diri kepada Allah.

Demikian juga Muhammad Ali, dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang membuat tulisan di harian Republika (14 Maret 2002) berjudul Hermenetika dan Pluralisme Agama. Ia mengajak orang agar tidak memahami ayat Allah dalam surat Ali Imran ayat 19 dan 85 dalam bingkai teologi eksklusif yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan jalan keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui jalan Islam. Tapi ayat ini harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi inklusif.

Juga Nurcholish Madjid, tokoh mereka yang sangat rajin mengumbar teologi sesatnya, ia menganggap banyak agama yang benar, tidak hanya Islam (Teologi Inklusif Cak Nur karya Sukidi, Kompas, 2001). Saat memberi kata pengantar buku Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hal. 6 (Penerbit Buku Kompas, 2001), Nurcholish mengucapkan kalimat yang seolah itu benar namun sebenarnya batil: “Kendatipun cara, metode atau jalan keberagamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah Yang Maha Esa.” Kalimat ini menunjukkan ia mengakui keberadaan semua agama dan menyejajarkannya satu sama lain sehingga Islam sama dengan Nashrani, Hindu, Buddha, Majusi, Shinto, Konghuchu!! Karena semua agama itu menuju Tuhan walau jalan yang ditempuh berbeda (Ulil Abshar Abdalla; Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, Kompas, 18 Nov. 2002 dan situs islamlib.com). Wal’iyadzu billah.

Orang-orang ini enggan untuk mengibarkan bendera permusuhan dengan kaum kafirin dari kalangan Yahudi dan Nashrani, dan enggan pula menganggap salah agama selain Islam. Di antara sebabnya, ketika mereka berhadapan dengan ayat Allah:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mau mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120)

Maka disimpulkan oleh Quraisy Shihab bahwa ayat di atas dikhususkan kepada orang-orang Yahudi dan umat Nashrani tertentu yang hidup pada zaman Nabi, dan bukan kepada umat Nashrani dan Yahudi secara keseluruhan (Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hal. 26). Sementara diijinkannya memerangi orang kafir bukan diperuntukkan terhadap umat Nashrani dan yang semacamnya yang termasuk Ahli Kitab.

Buku Fiqih Lintas Agama Ingin Memberangus Islam

Para thaghut ini sangat menentang syariat Islam karena menurut mereka akan mendiskreditkan penganut agama lain dan juga mereka beranggapan hukum Islam itu menzalimi kaum wanita, bertentangan dengan HAM, tidak manusiawi seperti hukum rajam, dibolehkannya perbudakan dan masalah waris (Islam Liberal Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia, Zuly Qodir, hal. 187-192, Pustaka Pelajar, 2003, dan tulisan-tulisan di http://www.islamlib.com). Kerja sesat mereka tidak sampai di situ. Dengan beraninya mereka membatalkan hukum Islam dengan logika mereka yang dangkal, kemudian lahirlah buku buhul-buhul setan karya mereka seperti Fiqih Lintas Agama (FLA) yang diterbitkan Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan yayasan kafirin The Asia Foundation yang berpusat di Amerika. Dalam buku yang sangat jauh dari ilmiah ini, mereka menggugat hukum Islam yang kata mereka terkesan eksklusif dan merasa benar sendiri.

Mereka permainkan ayat-ayat Al-Qur’an (hal. 20-21, 49, 214, 249), menolak hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak sesuai dengan semangat pluralisme inklusivisme mereka (hal. 70-71), mencaci maki Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawakan hadits tersebut (hal. 70), mengecam para imam salaf seperti Al-Imam Syafi’i (hal. 5, 167-168) dan memanipulasi ucapan ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ditarik-tarik agar menyepakati kemauan mereka (seperti pada hal. 55). Bahkan mereka mengusung hak kafirin untuk menghadang syariat Islam dan membela orang kafir mati-matian, sehingga mereka pun menyatakan boleh mengucapkan salam kepada non muslim (hal. 66-78), boleh mengucapkan selamat Natal dan selamat hari raya agama lain (hal. 78-85), boleh menghadiri perayaan hari-hari besar agama lain (hal. 85-88), bolehnya doa bersama antar pemeluk agama yang berbeda (hal. 89-107), bolehnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir (hal. 153-165), bolehnya orang kafir mewarisi harta seorang muslim (waris beda agama) (hal. 165-167), serta sejumlah kesesatan dan kekufuran berfikir lainnya. Betapa para thaghut penulis buku yang sesat ini memperjuangkan mati-matian teologi pluralisme, ajaran mempersamakan semua agama, seolah teologi ini tak dapat ditawar, sehingga syariat Islam yang tidak toleran dengan teologi ini berusaha mereka kebiri.

Betapa tidak tolerannya buku sesat ini terhadap aqidah Islamiyyah yang menetapkan kebenaran hanya pada agama Islam, sementara di luar Islam adalah agama kekafiran. Betapa tidak tolerannya buku buhul-buhul setan ini terhadap ketetapan syariat Islam, bahkan berupaya memberangus dan membumihanguskan syariat Islam yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya buku ini sangat toleran kepada musuh-musuh Islam!!! Untuk menggiring kaum muslimin agar menerima agama di luar Islam dan tidak memandang Yahudi dan Nashrani sebagai musuh, mereka mengatakan: “Segi persamaan yang sangat asasi antara semua kitab suci adalah ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini berbeda dengan persoalan kaum musyrik yang pada zaman Nabi tinggal di kota Makkah. Kepada mereka inilah dialamatkan firman Allah: “Katakan (Muhammad): Aku tidak menyembah yang kamu sembah dan kamu pun tidak menyembah yang aku sembah…” Ayat yang sangat menegaskan perbedaan konsep “sesembahan” ini ditujukan kepada kaum musyrik Quraisy dan bukan kepada ahli kitab.” (FLA, hal. 55-56)

Demikianlah lolongan para thaghut tersebut, yang pada intinya ingin menyatakan bahwa kebenaran tidak hanya pada Islam saja sehingga jangan merasa benar sendiri. Lolongan ini sebetulnya hanya mengikuti dan melanjutkan pendahulunya, Harun Nasution, yang telah lebih dulu menyatakan dengan lolongannya: “Mencoba melihat kebenaran yang ada di agama lain.” (Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, hal.275, Mizan, 1998). Sehingga perlu dan wajib bagi kita untuk membungkam lolongan mulut kotor para thaghut pluralis ini yang sudah memakan banyak korban akibat mendengarkan lolongan mereka, dengan kita mendatangkan kebenaran dari Islam berupa nash-nash yang di dalamnya mengandung kebenaran dan hujjah.

Yahudi dan Nashrani Kafir Selama-lamanya

Adapun Yahudi dan Nashrani tidak kita sangsikan bahwa mereka adalah orang-orang kafir sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيْحُ يَابَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam, padahal Al-Masih sendiri berkata: Wahai Bani Israil, beribadahlah kalian kepada Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga kepadanya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah adalah salah satu dari tuhan yang tiga (trinitas), padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain sesembahan yang satu. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Yahudi:

وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيْلاً مَا يُؤْمِنُوْنَ. وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ. بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوْا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوْا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِيْنَ عَذَابٌ مُهِيْنٌ. وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ آمِنُوْا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

“Dan orang-orang Yahudi berkata: Hati kami tertutup. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang mau beriman. Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka (yaitu berita dari Taurat akan datangnya Rasul terakhir beserta ciri-cirinya), padahal sebelumnya mereka biasa memohon kedatangan Nabi untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah lah atas orang-orang yang ingkar tersebut. Alangkah buruknya perbuatan mereka yang menjual diri mereka sendiri dengan mereka mengkafiri apa yang telah diturunkan Allah karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka di atas kemurkaan yang telah mereka dapatkan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. Apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah, mereka berkata: Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami. Dan mereka kafir kepada Al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur’an adalah kitab yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian itu orang-orang yang beriman?”

Demikian pula pernyataan Rasulullah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana hadits yang telah disebutkan di atas beserta penjelasannya.
Yahudi dan Nashrani memiliki kitab yang diturunkan dari langit (kitab samawi), Taurat dan Injil, sehingga mereka digelari ahlul kitab. Akan tetapi, karena mereka enggan beriman kepada Al-Qur’an dan enggan tunduk kepada syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mereka kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
“Orang-orang kafir dari ahlul kitab dan musyrikin mengatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan agama mereka sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah: 1)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kembali tentang kekafiran ahlul kitab dan bahwa mereka itu adalah penghuni jahannam:

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْل الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahlul kitab dan musyrikin tempat mereka adalah di dalam neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)

Adapun kitab mereka sendiri telah diubah-ubah dengan tangan mereka6 dan hal ini menambah kekufuran mereka, sehingga bagaimana mereka akan dapat beriman dengan keimanan yang benar terhadap kitab yang diturunkan kepada mereka? Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

فَوَيْلٌ لِلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri (karangan mereka) lalu mereka katakan: Ini dari Allah, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

 

Yahudi dan Nashrani adalah Orang-orang yang Dimurkai Allah dan Disesatkan

Orang-orang Yahudi dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Al-Maghdhubu ‘alaihim (yang dimurkai Allah) dan Nashrani sebagai Adh-Dhallun (yang tersesat), sebagaimana dinyatakan dalam ayat terakhir Surat Al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ
“Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat.” (Al-Fatihah: 6-7)

Diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan dari sahabat ‘Adi ibnu Hatim7 radhiallahu ‘anhu di dalam hadits yang panjang, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ اليَهُوْدَ مَغْضُوْبٌ عَلَيْهِمْ وَإِنَّ النَّصَارَى ضُلاَّلٌ
“Sesungguhnya Yahudi itu adalah yang dimurkai dan Nashara adalah orang-orang yang disesatkan.”

Imam ahli tafsir dan ahli hadits, Ibnu Abi Hatim, berkata: “Saya tidak mendapatkan perselisihan di antara ahli tafsir bahwasanya al-maghdhub ‘alaihim (di dalam ayat itu) adalah Yahudi dan adh-dhallun adalah Nashara, dan yang mempersaksikan perkataan para imam tersebut adalah hadits ‘Adi bin Hatim.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/40)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kekafiran Yahudi pada prinsipnya karena mereka tidak mengamalkan ilmu mereka. Mereka mengetahui kebenaran namun tidak mengikutinya, baik dalam ucapan atau perbuatan, ataupun sekaligus dalam ucapan dan perbuatan. Sementara kekafiran Nashrani dari sisi amalan mereka yang tidak didasari ilmu, sehingga mereka bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai macam ibadah tanpa didasari syariat dari Allah, serta berbicara tentang Allah tanpa didasari ilmu.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, hal.23, Darul Anshar 1423 H). Lihat pula keterangan dan pendalilan beliau yang lebih panjang mengenai dimurkainya Yahudi dan disesatkannya Nashrani dalam kitab tersebut (hal. 22-24).
Demikian sesungguhnya keadaan Yahudi dan Nashrani, sehingga setiap kali shalat kaum muslimin meminta perlindungan dari mengikuti jalan keduanya (jalannya Yahudi dan Nashrani) ketika mereka membaca ayat di dalam surat Al-Fatihah tersebut.

Yahudi dan Nashrani adalah Kaum yang Terlaknat

Yahudi dan Nashrani telah dikafirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya melaknat mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ
“Allah telah melaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى
“Laknat Allah atas kaum Yahudi dan Nashrani.” (HR. Al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 531)

Dengan penjelasan di atas, bahwa Yahudi dan Nashrani adalah kaum yang kafir, dimurkai dan terlaknat, dapatkah agama Islam disamakan dengan agama Yahudi dan Nashrani, terlebih lagi dengan agama selain keduanya yang tidak memiliki kitab samawi (kitab dari langit)? Dan jelas agama Islam tidak boleh dibangun di atas teologi inklusif, bahkan harus dibangun di atas keyakinan eksklusif bahwa hanya Islam agama yang benar, adapun selainnya adalah salah!

Surat Al-Kafirun Tidak Ditujukan kepada Musyrikin Arab Semata

Mereka mengatakan bahwa isi surat Al-Kafirun hanya ditujukan kepada orang-orang musyrik, bukan kepada ahlul kitab. Demikianlah yang mereka inginkan agar bisa mengeluarkan ahlul kitab dari vonis kafir, sementara ulama dari kalangan ahli tafsir tidak ada yang mengatakan seperti ucapan mereka. Lalu dari mana mereka mendapatkan dalil dengan ucapan mereka tersebut? Surat Al-Kafirun tidak membatasi bahwa kekufuran hanya ditujukan kepada musyrikin Arab. Bahkan Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah “Katakanlah (Ya Muhammad) wahai orang-orang kafir…”, ini mencakup seluruh orang kafir di muka bumi, walaupun sasaran pembicaraan dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/397)

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan di dalam kitab Shahih beliau mengatakan ayat lakum dinukum adalah kekufuran dan ayat waliya din adalah Islam (Shahih Al-Bukhari bersama penjelasannya Fathul Bari, 8/902, Darul Hadits, 1419 H). Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Kekufuran itu agama yang satu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/398). Demikian pula pandangan Al-Imam Ahmad, Abu Hanifah dan Dawud. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Lil Imam Al-Qurthubi, 2/65, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, 1413 H)

Yahudi dan Nashrani Selamanya Tidak akan Ridha kepada Islam

Demikianlah makna dzahir yang ada pada ayat 120 surat Al-Baqarah. Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha selama-lamanya terhadap Islam. Inilah yang Allah katakan tentang mereka tanpa ada perkecualian.

Al-Imam Ath-Thabari tberkata ketika menafsirkan ayat tersebut: “Wahai Muhammad, orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu selama-lamanya, karena itu tinggalkanlah upaya untuk mencari keridhaan dan kesepakatan mereka. Sebaliknya hadapkanlah dirimu sepenuhnya untuk mencari keridhaan Allah di dalam mendakwahi mereka kepada kebenaran yang engkau diutus karenanya. Sesungguhnya apa yang engkau dakwahkan tersebut, sungguh merupakan jalan menuju persatuan (ijtima’) denganmu di atas kedekatan hati dan agama yang lurus. Tidak ada jalan bagimu untuk mencari keridhaan mereka dengan mengikuti agama mereka, karena agama Yahudi bertentangan dengan agama Nashrani, demikian pula sebaliknya, dan tidak mungkin kedua agama ini bisa bersatu dalam individu manusia pada satu keadaan. Yahudi dan Nashrani tidak mungkin bersatu untuk meridhaimu kecuali bila engkau bisa menjadi seorang Yahudi sekaligus Nashrani, akan tetapi tidak mungkin hal ini terjadi padamu selama-lamanya, karena engkau adalah individu yang satu dan tidak mungkin terkumpul padamu dua agama yang saling berlawanan dalam satu keadaan. Dengan demikian, bila tidak ada jalan yang memungkinkan untuk mengumpulkan kedua agama itu padamu dalam satu waktu, maka tidak ada jalan bagimu untuk mencari keridhaan kedua golongan tersebut. Bila demikian keadaannya, maka berpeganglah engkau dengan petiunjuk Allah yang dengannya ada jalan untuk menyatukan manusia.” (Jamiul Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an, Lil Imam Ath-Thabari, hal. 1/517, Darul Fikr, 1405 H).

Adapun penyimpulan bahwa ini adalah pengkhususan bagi Yahudi dan Nashrani pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perlu mendatangkan dalil khusus dari Kitabullah dan As Sunnah yang menyatakan hal itu. Sementara kita ketahui, Yahudi dan Nashrani pada zaman sekarang jauh lebih jelek daripada Yahudi dan Nashrani pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena penyimpangan mereka pada masa itu lebih sedikit dibandingkan pada hari ini, mereka semakin jauh dan semakin menyimpang dari agama mereka. Lihat perubahan dan penyimpangan yang mereka lakukan terhadap kitab mereka yang menjadi sebab jauhnya mereka dari kebenaran dalam Mukhtashar Kitab Idzharul Haq, oleh Al-Imam Syaikh Rahmatullah ibn Khalilir Rahman Al-Hindi yang diringkas oleh Dr. Muhammad Al-Malkawi, diterbitkan oleh Wazaratus Syu’unil Islamiyyah Al-Mamlakah Al-‘Arabiyyah As-Su’udiyyah, 1416 H .

Di samping itu, anggapan bahwa Yahudi dan Nashrani tidak diperangi karena mereka ahlul kitab dan yang diperangi adalah agama kekufuran yang lain adalah jelas anggapan yang salah dan batil. Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas menyatakan:

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُونَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْكِتَابَ
“Perangilah orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta tidak beragama dengan agama yang benar, dari kalangan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani).” (At-Taubah: 29)

Hilangnya Al-Wala wal Bara

Dianutnya teologi pluralis inklusif oleh sebagian orang disebabkan tidak adanya Al-Wala dan Al-Bara pada diri mereka. Al-Wala adalah memberikan loyalitas, kecintaan dan persahabatan, sedangkan Al-Bara adalah lawannya yaitu menjauhi, menyelisihi, membenci dan memusuhi.

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan rahimahullah (seorang ulama besar terkemuka, anggota Majlis Kibarul ‘Ulama, juga Komite Tetap Kajian Ilmiah dan Pemberian Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) berkata: “Termasuk pokok aqidah Islamiyyah yang wajib bagi setiap muslim untuk menganutnya adalah berwala dengan sesama muslim dan bara (memusuhi) musuh-musuh Islam. Ia mencintai dan berloyalitas dengan orang yang bertauhid dan mengikhlaskan agama untuk Allah dan sebaliknya membenci dan memusuhi orang yang berbuat syirik. Yang demikian ini merupakan millahnya (jalan) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan orang-orang yang mengikuti beliau, sementara kita diperintah untuk mencontoh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagaimana Allah berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوْا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sungguh telah ada bagi kalian contoh teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya kerika mereka mengatakan kepada kaum mereka (yang kafir musyrik): Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.” (Al-Mumtahanah: 4)

Memiliki sikap Al-Wala dan Al-Bara merupakan agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا لاَ تَتَّخِذُوْا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai kekasih-kekasih (teman dekat), karena sebagian mereka adalah kekasih bagi sebagian yang lainnya. Dan siapa di antara kalian yang berwala dengan mereka maka ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

Ayat di atas menyebutkan keharaman untuk berwala dengan ahlul kitab secara khusus, sementara keharaman berwala dengan orang kafir secara umum, Allah nyatakan dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan musuh-musuh-Ku dan musuh kalian sebagai kekasih, penolong dan teman dekat.” (Al-Mumtahanah: 1)

Bahkan Allah mengharamkan seorang mukmin untuk berwala dengan orang-orang kafir walaupun orang kafir itu adalah kerabatnya yang paling dekat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَتَّخِذُوْا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى اْلإِيْمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan bapak-bapak kalian dan saudara-saudara kalian sebagai kekasih apabila mereka lebih mencintai kekufuran daripada keimanan, dan siapa di antara kalian yang berwala kepada mereka maka mereka itu adalah orang-orang dzalim.” (At-Taubah: 23)

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ وَلَوْ كَانُوْا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ
“Engkau (wahai Nabi) tidak akan mendapati orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun orang tersebut adalah bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka atau karib kerabat mereka.” (Al-Mujadalah: 22)

Beliau melanjutkan: “Sungguh (kita dapati pada hari ini) kebanyakan manusia jahil/bodoh terhadap pokok yang agung ini, sampai-sampai aku mendengar dari sebagian orang yang dikatakan berilmu dan melakukan dakwah dalam satu siaran berbahasa Arab, ia berkata tentang Nashrani bahwa mereka adalah saudara kita. Sungguh betapa jelek dan bahayanya kalimat ini!”

Sebagaimana Allah mengharamkan berwala dengan orang-orang kafir musuh aqidah Islamiyyah, sebaliknya Allah mewajibkan kita untuk berwala dan mencintai kaum mukminin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُوْنَ. وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُوْنَ

“Hanyalah wali (kekasih/penolong) kalian adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mereka ruku kepada Allah. Barangsiapa yang berwala kepada Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman maka sesungguhnya tentara Allah itulah yang menang.” (Al-Maidah: 55)

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau amat keras terhadap orang –orang kafir dan saling berkasih sayang di antara sesama mereka.” (Al-Fath: 29)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ
“Hanyalah orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Al-Wala wal Bara fil Islam, hal. 3-6, Darul Wathan, 1411 H)

Karena tidak adanya sikap Al-Wala dan Al-Bara yang tepat, mereka bergaul bebas dengan kaum kafirin, para orientalis misionaris Barat bahkan mereka bangga ketika mereka dapat menimba ilmu di negeri Barat yang notabene kafir! (Asyiknya Belajar Islam di Barat, wawancara bersama Luthfi Assyaukanie, http://www.islamlib.com, 8/3/2004).

Semoga Allah melindungi kita dan kaum muslimin secara umum dari makar yang dilakukan oleh para thaghut kaki tangan iblis ini.
Wallahul musta’an.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Yayasan Wakaf Paramadina dengan bukunya Fiqih Lintas Agama, Jaringan Islam Liberal dan seluruh penyeru pluralitas agama yang tergabung dalam organisasi, LSM, atau individu, mereka adalah para Thaghut Pluralis dan Inklusif antek-antek Zionis Salibis.

2 Thaghut adalah segala sesuatu yang diikuti, ditaati ataupun dibadahi secara berlebihan dan melampaui batas. (Al-Ushuluts Tsalatsah, hal. 15, Darul Wathan 1414 H)

3 Pluralisme adalah pemahaman yang memandang semua agama sama meskipun dengan jalan yang berbeda namun menuju satu tujuan: Yang Absolut, Yang terakhir, Yang Riil.

4 Inklusivisme adalah pemahaman yang mengakui bahwa dalam agama-agama lain terdapat juga suatu tingkat kebenaran (demikian keterangan mereka dalam Fiqih Lintas Agama, hal. 65, Paramadina, Juni 2004).

5 Umat yang ada di zaman beliau dan setelah zaman beliau sampai hari kiamat (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 2/188)

6 Lihat beberapa bentuk perubahan dan penyimpangan yang mereka lakukan dalam Mukhtashar Kitab Idzharul Haq oleh Al-Imam Asy-Syaikh Rahmatullah ibn Khalilir Rahman Al-Hindi yang diringkas oleh Dr. Muhammad Al-Malkawi, Wazaratus Syu’unil Islamiyyah Mamlakah Al-‘Arabiyyah Su’udiyyah, 1416 H.

7 Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 4029 dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.8202 dan dalam komentar beliau terhadap Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah no .811

Oleh: Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al Atsari
sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=196
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dialog Bersama Ikhwani – Syubhat dan Bantahan

Posted on 12 Juni 2008. Filed under: IM (Ikhwanul Muflisin) | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Syubhat dan Tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang Ikhwan

Saudaraku… mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadamu.

Sesungguhnya, masalah jamaahmu ini adalah sangat unik dan aneh, hal ini dilihat dari cara muamalah di antara anggotanya.

Mereka mengerahkan kesungguhan yang tidak gampang untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk membuat syubhat dan kedustaan, yang terlampau susah untuk mencari jalan keluarnya. Kemudian syubhat dan kedustaan tersebut mereka lontarkan kepada orang-orang yang terikat dengan mereka… supaya tetap tinggal dengan mereka dan dikuasai oleh mereka dan oleh otak-otak mereka, kemudian sesudahnya mereka akan tetap bersama kelompok ini dan loyalitas mereka tetap kepada kelompok ini…!

Barangkali masalah ini sangat aneh menurut pandanganmu. Tidak… bukan berarti saya mengada-ada kedustaan atas mereka, akan tetapi dikarenakan kurang atau tidak adanya perhatian kepada masalah ini, juga karena kamu tidak mendengar dari sisi-sisi yang lain.

Aku sodorkan kepadamu sebagiannya….

Syubhat Pertama
—————
Mereka membedakan antara salafiyyah yang ada di medan Islam dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yaitu mereka membagikan pembahasan di dalam masalah ini dengan judul “Mufradaat as-Salafiyyah al-Jadidah” (Keganjilan-keganjilan Salafiyyah Gaya Baru) dan saya adalah termasuk
orang-orang yang menerima bagian pembahasan ini tatkala saya berada di dalam tanzhim (organisasi) mereka. Dan sungguh mereka membuat kebingungan yang mencegangkan. Hal itu mereka lakukan agar bisa memberi kerancuan kepada orang yang bergabung dengan kelompok mereka dan membuat suatu tameng di dalam diri mereka yang memisahkan antara mereka dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (salafiyyah). Mereka menyangka di dalam pembahasan yang dibagi-bagi ini bahwa salafiyyah yang ada sekarang ini tidaklah mempunyai perhatian kecuali hanyalah takfir (mengkafirkan), tabdi’ (membid’ahkan), tafsiq (memfasiqkan) dan tadlil (menyesat-nyesatkan) dan bahwa mereka adalah alat pada suatu badan keamanan…. Tongkat-tongkat yang ada di bawah ketiak-ketiak peraturan yang timpang. Mereka adalah penakut untuk mengkritik para penguasa dan peraturan-peraturan yang ada, padahal semua hal tersebut pantas untuk mendapat kritik. Dan mereka juga penakut untuk terlibat langsung dengan masalah-masalah yang terjadi serba bisa menimbulkan kemurkaan bagi hakim (penguasa) dan peraturan.

Dan sesungguhnya mereka adalah lemah di dalam masalah adab bergaul bersama kaum muslimin, karena mereka didominasi oleh sifat kasar dan kaku. Mereka lemah di dalam masalah-masalah i’tikad (keyakinan) yang lurus dan selamat. Dan mereka juga lemah di dalam ilmu tentang realitas umat dan apa-apa yang menimpa mereka. Mereka pun mempunyai hukum-hukum yang serampangan, di antaranya perkataan: Bahwa sesungguhnya Abu Hanifah adalah seorang Jahmiy, Murjiy dan seorang ahli bid’ah (mubtadi’) yang sesat. Merupakan kesialan bagi Islam dan ahlinya. Tidak terlahir di dalam Islam orang yang lebih sial/malang melebihi dia.

Hal itu disaksikan oleh lebih dari dua puluh orang alim dari para ulama salaf, sehingga dia pantas untuk diberi nama Abu Jiifah (bapaknya bangkai).

Ibnu Taimiyyah: Tidak bisa diambil darinya hukum-hukum al-Wala’ dan al- Bara’.
Ibnul Qayyim: Pada dirinya terdapat tashawwuf dan kebid’ahan.
An-Nawawi: Seorang Jahmi dan Asy’ari, bukan dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Al-‘Izz bin Abdussalam: seorang Jahmi dan Asy’ari, pada dirinya terdapat karakter (watak) Khawarij.
Adz-Dzahabi: Lunak di dalam hukum-hukumnya dan mutasahil (bersikap remeh/gampangan) terhadap ahli bid’ah dan juga dia adalah seorang kuburi.
Ibnu al-Jauzi: Seorang Jahmi tulen.
Muhammad bin Abdul Wahhab: Bukanlah seorang salafi di dalam masalah hadits, fiqh, dan sebagian masalah-masalah i’tikad.
Ibnu Jibrin: Tidak ada ilmunya.
Ibnu Bazz: Lemah ilmunya terhadap hadits, meragukan di dalam berfatwa, diam terhadap ahli bid’ah dan tertipu dengannya.
Ibnu Utsaimin: Permainan di tangan Sururiyyin.
Ibnu Qu’ud: Seorang yang berfaham Khawarij dan loyal terhadap jamaah-jamaah sesat. Jihad di Bosnia, bukanlah jihad fi sabilillah. Pertempuran di Kashmir, Filipina dan Palestina, bukan jihad… dan seterusnya.

Mereka juga mempunyai akhlak-akhlak dan perangai-perangai tertentu, di antaranya: Saling mengisolir di antara mereka, saling membenci, memaki dan mencela. Sangat kaku terhadap manusia. Menuduh dengan rusaknya akidah, semata-mata karena seseorang dituduh mempunyai buku-buku yang mereka tuduh dengan kebid’ahan…. Pendustaan secara terang-terangan terhadap rivalnya…. Membantu orang-orang zhalim dan fasik untuk menindas saudara-saudara mereka kaum muslimin dari para ulama dan dai. Hal itu dengan cara menulis pernyataan-pernyataan, menyebarkan tuduhan dan menganjurkan para penguasa untuk melawan mereka.

Dan tuduhan-tuduhan dusta serta lacut lainnya yang tidak mungkin diucapkan oleh orang yang takut kepada Allah dan hari akhir terhadap saudaranya yang muslim. Semoga Allah melindungi kami dan saudara dari ketergelinciran dan kesesatan. 1)

Saudaraku, semoga Allah memberi petunjuk kepada saya dan anda terhadap jalan kebenaran.

Tahukah anda, kenapa kedustaan besar yang mereka rekayasa di dalam pembahasan ini? Tidak lain adalah agar bisa memberikan kerancuan terhadap anda, sehingga anda benci terhadap salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan anda tetap berpegang dengan jamaah, kesesatan dan kegelapan mereka, serta menjadi penyeru kepada manhaj mereka, sembari menyangka bahwa itu adalah manhaj yang benar.

Dan dari sanalah, anda tidak akan melihat nur (cahaya) selamanya, kecuali jika Allah memperbaiki anda dengan rahmat-Nya.

Karena itulah, berikut ini akan saya jelaskan kedustaan mereka terhadap Salafiyah:

PERTAMA: Bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ath-Thaifah al-Manshurah dan salafiyyah. Hal itu karena manhaj mereka adalah Kitab dan Sunnah yang shahih, serta apa yang salaful ummah ridwanallahi ‘alaihim ada di atasnya. Berbeda dengan jamaahmu, maka mereka di atas manhaj Kitab dan Sunnah dan apa yang generasi akhir umat ini berada di atasnya berupa bentuk-bentuk pemikiran dan pergerakan. Demikian mereka menyangka. Masalah itu telah jelas bagimu tatkala saya menampilkan manhaj para pemimpinmu pada waktu yang telah lewat.

KEDUA: Kata-kata pembahas- Semoga Allah memberi petunjuk kepadanya- bahwa salafiyyah mengkafir-kafirkan dan menyesat-nyesatkan serta berbuat ini dan itu seperti yang telah saya jelaskan, tidak lain hanyalah kedustaan dan rekaan. Hal itu dilakukan adalah untuk melarikan saudara- saudara pemula dan para pemuda dari dakwah yang benar ini.

KETIGA: Perbedaan dia (semoga Allah membalasnya dengan apa-apa yang menjadi haknya) antara salafiyyah sekarang dengan ulama- ulama istimewa terdahulu seperti: Abu Hanifah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain serta persangkaan dia bahwa salafiyyah sekarang mencela dan menganggap sesat mereka seperti di dalam pembahasan, tidak lain hanyalah menunjukkan atas kejelekan isi hati penulis dan hizbiyyah yang pahit dan menyesatkan sampai batas sejauh ini. Dan itu dilakukan untuk mengacaukan dakwah salafiyyah. Karena itulah saya berkata agar diketahui oleh semuanya bahwa pimpinan salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan ath-Thaifah al-Manshurah adalah satu, yaitu Nabiyyul Huda Muhammad ‘alaihi shalatu wassalam. Dan mereka (salafiyyin) menempuh jalan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang ditempuh oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para shahabat semua serta pengikut mereka dengan baik seperti: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad bin Ibrahim, Abdurrahman bin Sa’di. Dan di antara orang-orang zaman sekarang adalah seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani dan banyak lagi lainnya – semoga Allah memberi ridha kepada mereka semua-. Dan mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) berkeyakinan ahwa mereka tidak maksum kecuali Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka jika terjadi ketergelinciran pada salah seorang dari mereka, ditinggalkan ketergelincirannya, karena mereka tidak maksum. Dan mereka di dalam perkara tersebut berada diantara satu atau dua pahala seperti di dalam sunnah yang shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang hukum mujtahid. Jika benar dia mendapat dua pahala dan jika salah dia mendapat satu pahala. Hal itu terjadi karena madzhab mereka adalah dalil yang shahih serta meneliti jejak langkah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya yang mulia. Berbeda dengan al-Banna, at-Tilmisani, Sa’id Hawa dan lainnya, sebagaimana tidak samar lagi bagi setiap orang yang mempunyai bashirah (ilmu) tentang keadaan mereka rahimahullaha ajma’in.

KEEMPAT: Perlu anda ketahui bahwa ulama salafiyyah sekarang yang mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka adalah: Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnu Utsaimin, Ibnu Qu’ud, Shalih aalu asy-Syaikh, al-Fauzan, Rabi’ al-Madkhali, Ibnu Ghashun dan lainnya 2). Dan sesungguhnya tidak ada perbedaan di antara mereka dengan salafiyyah, sebagaimana anggapan penulis -semoga Allah memberi petunjuk kepadanya-. Tetapi dia membedakan di dalam masalah tersebut agar bisa menyampaikan fikrah yang dia inginkan kepada para pemuda, yaitu bahwa manhaj yang para ulama besar sekarang seperti Ibnu Baz, al-Albani, Ibnu Utsaimin dan lainnya. Dan sungguh buah pemikiran tersebut telah nampak ketika seorang pemuda Ikhwani yang terancukan pikirannya dan seorang yang membawa akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi tidak suka dan benci terhadap setiap orang yang menamakan diri dengan salafiyyah, walaa haula walaa quwwata illa billah.

2) Hal ini tidaklah berarti bahwa salafiyyah adalah monopoli seseorang, seperti yang dianggap oleh sebagian orang.

Subhat Kedua
————-
Perkataan mereka bahwa salafiyyah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan ath-Thaifah al-Manshurah) menentang amal jama’i (kerja sama) dan tanzhim (organisasi).

Samahatusy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i seorang muhaddits negeri Yaman telah ditanya: Apakah benar wahai Syaikh bahwa anda tidak melihat perlunya tanzhim pada semua urusan dakwah?

Maka beliau hafizhahullah menjawab setelah menetapkan adanya tanzhim di dalam Sirah (biografi) Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata: “Yang kami ingkari adalah tanzhim yang menyelisihi Kitab dan Sunnah.

Inilah yang kami ingkari. Dan kami katakan: Sungguh seseorang hidup sendirian itu lebih baik daripada masuk ke dalam tanzhim thaghut yang menyelisihi Kitab dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam… ya, dan ini adalah perkara yang disebarkan bahwa Ahlus Sunnah menentang tanzhim dan bahwa mereka menentang amal jama’i (kerja sama). Saya katakan: Yang menentang amal jama’i atau yang mengingkari tanzhim bukanlah seorang sunni, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong di dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin dengan seorang mukmin lainnya adalah seperti bangunan, saling menguatkan sebagian atas sebagian yang lainnya.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari (X/450 – Fathul Bari) dan Muslim (2585), pent.]

Dan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin di dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara mereka adalah seperti tubuh. Jika mengeluh salah satu anggota dari tubuh tersebut, akan merasakan seluruh jasad baik dengan demam atau tidak bisa tidur. [Bukhari (X/347 – Fathul Bari) dan Muslim (2586), pent.]

Al-Amal al-Jama’i (kerja sama) yang menyelisihi Kitab dan Sunnah contohnya adalah yang al-Ikhwan al-Muflisun (orang-orang yang bangkrut)
3) berada di atasnya.

3) Syaikh hafizhahullah memaksudkan al-Ikhwan al-Muslimin. Al-Muflisun artinya adalah orang-orang yang bangkrut. (pent.)

Syubhat Ketiga :
————–
Perkataan mereka adalah salafiyyah adalah salah satu jamaah dari jamaah-jamaah tanzhim, walaupun menentang tanzhim dan termasuk jamaah-jamaah hizbiyyah, walaupun menolak tahazzub (pengelompokan). 4)

4) Artinya tanzhim yang mereka berada di atasnya, dan hizbiyyah yang mereka terkungkung di dalamnya.

Di sini saya katakan, sudah jelas kedustaan ini bertentangan dengan syubhat kedua.

Tetapi ini adalah kebiasaan ahli batil, para pendusta dan para pendengki dari kalangan hizbiyyin. Mereka mempertentangkan diri mereka dengan pribadi mereka sendiri dengan bersandar kepada kedustaan dan rekayasa. Karena mereka tidak mampu untuk membantah dengan bantahan yang ilmiah dan benar terhadap ahlul haq tentang apa yang mereka jelaskan dari kemungkaran-kemungkaran dan bid’ah-bid’ah yang terdapat pada hizb-hizb ini.

Sama sekali mereka tidak akan mampu melakukan hal tersebut!

Orang yang memperhatikan sirah Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan dan memperoleh hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir 5) -semoga Allah membinasakan mereka- terhadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang mereka mengatakan bahwa beliau adalah seorang penyair, dan syi’ir tidak mungkin mampu kecuali orang yang mempunyai akal yang istimewa…. Dan pada kesempatan lain mereka mengatakan bahwa beliau gila…, maka lihatlah pertentangan tersebut!

5) Tentu dengan adanya perbedaan antara orang-orang kafir dan orang Ikhwan, maka mereka (Ikhwan) adalah orang-orang muslim.

Tujuan mereka dari kedustaan ini jelas sekali tidak ada kesamaan di atasnya, mereka ingin menggambarkan kepada orang-orang yang tergabung di dalam jamaah mereka bahwa salafiyyah adalah hizb seperti hizb-hizb yang lain. Keadaan salafiyyah seperti keadaan mereka. Masing- masing menyempurnakan sebagian atas sebagian yang lain seperti yang mereka sangka. Ini adalah kedustaan dan rekayasa. Hal ini dilihat dari beberapa segi:

PERTAMA: Bahwa salafiyyah tidak mempunyai pendiri dan pemimpin selain Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Berbeda dengan Ikhwanul Muslimin, pemimpin dan pendiri manhaj mereka adalah Hasan al-Banna rahimahullah dan orang yang sesudahnya.

KEDUA: Bahwa salafiyyah tempat kembalinya (rujukan) mereka adalah Al-Kitab, Sunnah dan apa yang salaful ummah ada di atasnya. Berbeda dengan mereka, tempat kembali mereka adalah Kitab, Sunnah danpandangan pemikiran serta gerakan yang disangka oleh mereka.

KETIGA: Bahwa salafiyyah, loyalitas adalah kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. Berbeda dengan Ikhwan, maka loyalitas mereka diberikan kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang tergabung di dalam Ikhwanul Muslimin.

Syubhat Keempat :
—————-
Perkataan dan lontaran mereka pada akal-akal para anggota (al-Ikhwan) bahwa diskui dan dialog ilmiah dengan tenang untuk menjelaskan kebenaran kepada firqah-firqah ini dan lainnya tentang beberapa masalah adalah merupakan perdebatan yang tidak bermanfaat dan wajib untuk ditinggalkan.

Mereka menginginkan dengan lontaran tersebut untuk menjaga orang yang tergabung di dalam hizb mereka. Karena mereka tahu bahwa semata-mata dengan perginya orang tersebut saja untuk berdiskusi dan dialog dengan seorang salafi (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), hasilnya adalah dia akan meninggalkan hizb yang dia tergabung di dalamnya… jika dia termasuk orang yang bertakwa kepada Allah. Karena dia akan terbakar hangus dengan dalil-dalil yang tetap (tsabit) dari Kitab dan Sunnah dan apa-apa yang salaful ummah ada di atasnya.

Footnote :
1) Barangsiapa yang ingin untuk membaca pembahasan tersebut, layangkanlah surat kepada saya dengan alamat yang akan saya jelaskan pada akhir tulisan, insya Allah.

(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)

Diambil dari : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=354

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dialog Bersama Ikhwani – Fatwa Ulama ttgnya

Posted on 12 Juni 2008. Filed under: Fatwa, IM (Ikhwanul Muflisin) | Tag:, , , , , , , , , , |

Saudaraku… mudah-mudahan Allah menjagamu. Apakah kamu mendengar perkataan ahli ilmu tentang jamaah yang kamu berada di dalamnya?

Telah ditanya al-Muhadits Syaikh Muqbil al-Waadi’i seorang alim dari negeri Yaman, “Apakah jamaah Ikhwanul Muslimin, Tablighi dan Quthbiyyin (orang-orang yang mengikuti pemikirannya Sayyid Quthub) termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah atau bukan?”

Maka beliau pun menjawab: “Adapun jamaah Ikhwan (Ikhwanul Muslimin, red), jamaah Tabligh dan al-Quthbiyyin, maka lebih baik untuk dihukumi kepada manhaj mereka. Dan manhaj (prinsip dan cara berfikir) mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adapun individu (masing-masing jamaah), maka kalian pun tahu bahwa sebagian orang terkecoh, menyangka seseorang sebagai salafi 1) dan mendatangkan dia dalam rangka membela agama Allah Ta’ala, dan berjalan dengan mereka, karena mereka campur aduk.

Individu-individu ini campur baur tidak bisa dihukumi atas mereka dengan satu hukum yang umum akan tetapi manhaj-manhaj mereka, bukanlah dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” [Kaset Al-As-ilah as- Saniyyah li ‘Allamah al-Bilaad al-Yamaniyyah]

Al-Muhaddits as-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah pernah ditanya juga tentang apa hukum banyaknya jumlah jamaah-jamaah dan kelompok-kelompok Islam, sementara masing-masing berbeda dalam manhajnya, cara-cara dakwahnya dan akidahnya serta dasar-dasar yang tegak di atas jamaah-jamaah ini, terlebih dikatakan bahwa jamaah yang haq adalah satu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits?

Maka beliau pun menjawab: “Ringkas kata dalam masalah ini kitakan, “Tidak tersamar
bagi setiap muslim yang tahu akan kitab dan sunnah dan apa-apa yang ada pada Salaf ash-Shalih Radhiallahu ‘anhum bahwasanya:
1. Pengelompokan (tahazzub) dan perkumpulan (takatul) dalam jamaah-jamaah yang berlainan pola berfikirnya
2. Manhaj-manhaj (prinsip) dan cara-cara (model-model mereka)

Tidak ada sedikipun yang berasal dari Islam, bahwa semua itu adalah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat- ayatNya di dalam Al-Qur’an al-Karim. Di antaranya:
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
artinya : “Dan janganlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka
menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan
apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 32)
Dan firman-Nya yang lain:
وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
artinya : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang- orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. ” (Hud: 118-119)

Dan Allah Ta’ala mengecualikan dari perselisihan ini satu golongan yang dikasihi, di mana Allah berfirman: (“Kecuali orang-orang yang diberi rahmah oleh Tuhanmu.”)

Maka tidak ada keraguan dan kebimbangan, bahwasanya jamaah manapun yang menginginkan dengan perhatian yang maksimal dan ikhlas karena Allah Ta’ala untuk bisa termasuk dari umat yang dikasihi ini yang dikecualikan dari perselisihan yang pasti terjadi, tidak ada cara untuk sampai kepada jalan itu dan untuk merealisasikannya secara amaliah dalam masyarakat Islam, kecuali dengan kembali kepada Kitab dan Sunnah dan apa-apa yang telah ditempuh oleh Salaf ash-Shalih radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan manhaj dan jalan yang selamat, tidak hanya satu hadits yang shahih saja dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau pada suatu hari membuat satu garis lurus di atas tanah, dan membuat garis-
garis di sekitar garis lurus itu, kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:
وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
artinya : “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)

Kemudian beliau menunjuk dengan ujung jarinya di atas garis yang lurus, seraya bersabda, “Dan masing-masing golongan dari dua kelompok ini ada setan yang mengajak manusia kepadanya.” Tidak ragu lagi bahwa jalan-jalan yang pendek inilah yang menjadi perumpamaan adanya kelompok-kelompok dan jamaah-jamaah yang banyak sekali.
(Sampai di sini perkataan beliau).

Demikian pula Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hafizhahullah ditanya: Apakah ada nash-nash dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan tentang dibolehkannya ta’addud al-Jama’at (banyaknya jumlah jamaah) dan jamaah Ikhwan ? Maka beliau pun menjawab: “Saya katakan, tidak ada dalam kitab dan juga di sunnah hal- hal yang membolehkan banyaknya jumlah jamaah dan kelompok-kelompok, bahkan dalam kitab dan sunnah mencela masalah ini. Firman Allah Ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ
artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung-jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Al-An’am: 159)

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
artinya : “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Ruum: 32)

Tidak ragu lagi bahwa kelompok-kelompok ini menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah, bahkan Allah membatasinya dengan firman-Nya:
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
artinya : “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)

Dan perkataan sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa “tidak mungkin dakwah ini menjadi kuat kecuali jika berdiri di bawah satu kelompok.”

Kami katakan: Ini tidak benar, bahkan dakwah ini akan semakin kuat selama manusianya berlindung di bawah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam dengan ittiba’ (mengikuti) kepada atsar-atsar (perilaku/jejak langkah) Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan Khulafa ar-Rasyidin (Khalifah yang empat yang diberi petunjuk, red).”

Sebagaimana telah bangkit sebagian ahli ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mereka memiliki bashirah (wawasan) tentang manhaj jamaah ini (yakni Ikhwanul Muslimin) dengan memberi peringatan kepada manusia dari (bahayanya) jamaah ini, lebih-lebih al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Shalih al-
Fauzan – anggota ikatan ulama-ulama besar Saudi Arabia- dan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali 2) serta yang lainnya masih banyak lagi….

Disini saya katakan kepadamu, sekaligus saya beri peringatan atas suatu permasalahan:
Bukankah kamu lihat bahwa yang mengkritik jamaah ini dan mentahdzir (memberi peringatan) dari jamaah in pada masa sekarang, mereka adalah dari kalangan ulama-ulama besar dan para pencari ilmu (thalabatul ilmi), berbeda dengan orang-orang yang hanya sekedar memuji kepada jamaah ini.

Tidakkah hal ini sedikit membekas pada jiwamu? Katakanlah: Ya, dan tengoklah kembali jiwamu!

Footnote :
1) Saya katakan: Inilah kebanyakan yang terjadi di kalangan anak muda – mudah-mudahan Allah memberi petunjuk mereka- di mana mereka bertemu dalam tanzhim Ikhwan tanpa mereka tahu dan memperhatikan manhaj ini, seandainya mereka tahu apa yang ada dalam tanzhim ini dari penyimpangan-penyimpangan kepada Ahlus Sunnah wal
Jama’ah pasti mereka akan berlepas diri dan waspada darinya. Oleh karenanya yang saya harapkan kepada kawula muda yang terorganisasi dalam kelompok ini, supaya jangan mengajak kepada kelompok ini tanpa mereka mengetahui manhajnya dan supaya mereka tidak merasa cukup dengan mendengar pujian-pujian atas pendiri-pendiri jamaah ini dan manhajnya dari kalangan pimpinan-pimpinannya, bahkan mestinya mereka mencari dan membongkar buku-buku al-Banna, Tilmisani dan Sayyid Sa’id Hawa serta yang lainnya, agar al-haq ini nampak oleh mereka dengan jelas tanpa kerancuan dan debu yang menutupinya.

2) Dan orang yang paling luas pandangan tentang asapnya (kejelekannya) jamaah-jamaah ini pada masa kini adalah Syaikh Rabi’ al-Madkhali hafizhahullah, telah berkata demikian Syaikh Muqbil al- Wadi’i, kaset Al-As-ilah as-Saniyyah li ‘Allamah al-Bilaad al-Yamaniyyah

(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)

Fatwa Syaikh Bin Baz tentang Ikhwanul Muslimin

Pertanyaan : Samahatusy Syaikh, … gerakan Ikhwanul Muslimin telah memasuki kerajaan (Saudi Arabia) sejak beberapa waktu yang lalu. Mereka telah memiliki kegiatan yang jelas di antara thalabatul ilmi (para pelajar). Bagaimana pendapatmu tentang gerakan itu ? Dan seberapa jauh hubungannya dengan manhaj sunnah dan jamaah ?

Jawaban :

Gerakan Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para ulama yang utama karena mereka tidak memiliki dakwah kepada tauhid dan tidak mengingkari kesyirikan serta bid’ah-bid’ah. Mereka memiliki cara-cara khusus yang menyebabkan kurangnya kegiatan berdakwah kepada Allah dan tidak adanya pengarahan kepada aqidah yang benar yang mana ahlus sunnah wal jamaah berada di atasnya. Seharusnyalah bagi Ikhwanul Muslimin untuk memiliki perhatian kepada dakwah salafiyah, dakwah kepada tauhid, pengingkaran terhadap peribadatan kubur, istighatsah (mengadu) kepada ahlul kubur seperti kepada Husain, Hasan atau al-Badawy dan yang seperti itu. Wajib mereka memiliki perhatian terhadap perkara yang sangat mendasar ini, karena ia adalah dasar dien ini dan awal pertama ajakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam di Mekkah. Beliau mengajak untuk mengesakan Allah dan mengajak kepada makna Laa Ilaaha Illallah.

Kebanyakan para ahli ilmi (ulama) mengkritik mereka karena masalah ini, yaitu tidak adanya semangat mereka untuk berdakwah kepada tauhidullah dan keikhlasan kepada-Nya serta pengingkaran kepada apa yang telah diada-adakan oleh orang-orang bodoh seperti ketergantungannya kepada orang-orang mati, beristighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, karena hal ini adalah merupakan syirik besar. Demikian pula para ulama membantah mereka karena tidak adanya perhatian mereka terhadap sunnah, ittiba’ kepadanya dan tidak adanya perhatian terhadap hadis yang mulia serta tidak adanya perhatian terhadap apa yang ada diatasnya salaful ummah dalam hukum-hukum syariat. Dan masih banyak permasalahan lain yang aku dengan saudara-saudaraku (para ulama) mengkritik mereka padanya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada mereka, membantu mereka dan memperbaiki keadaan mereka.

(Diterjemahkan dari majalah Al-Majalla, no. 806, 23-29 Juli 1995 M/ 25 Shafar – 2 Rabiul Awwal 1416 H, London. Dimuat dalam Majalah Salafy)

Diambil dari: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=348

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dialog Bersama Ikhwani – Penyempalannya

Posted on 12 Juni 2008. Filed under: IM (Ikhwanul Muflisin) | Tag:, , , , , , , , , , |

Al-hizbiyyah dan kejelekan-kejelekan tanzhim yang bersifat rahasia

Saudaraku… mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada apa yang Allah sukai dan Allah ridhai.

Sebenarnya aku menilai sikap hizbiyyah yang sempit dan hidup di jamaahmu, adalah termasuk dari sebab yang paling asasi dan telah menjadikan umat ini dalam firqah-firqah serta kelompok-kelompok.

Barangkali kamu akan keheranan dengan hal ini…

Akan tetapi aku katakan: Kemarilah bersamaku untuk melihat sejauh mana kebenaran penilaianku. Sebelum saya mulai, saya ingin bertanya kepadamu dengan satu pertanyaan.

Apakah kamu masuk dalam tanzhim rahasia yang ada di jamaahmu? Jika jawabnya, “Ya…”, maka perhatikanlah… Apa yang kamu rasakan dari muamalah mereka terhadapmu sebelum dan sesudah kamu masuk dalam tanzhim ini?

Bukankah di dalamnya ada perbedaan-perbedaan besar? Tidakkah kamu bertanya-tanya mengapa berbeda seperti ini? Akan aku katakan kepadamu mengapa demikian….

Dikarenakan loyalitas dan muamalah mereka dengan manusia berasaskan tanzhim ini, … maka barangsiapa yang berada dalam tanzhim ini, dialah kawan akrabnya, dialah orang yang patuh, … dialah saudara…, dan dialah syaikh 1), … dialah… dialah…

Dan barangsiapa yang belum menjadi anggota dan masuk dalam tanzhim mereka ini, tapi dia membela pemikiran mereka ini, maka dia adalah penolong… dialah yang membantu… dialah yang bisa diajak kerjasama. Orang biasa… orang yang baik….

Adapun orang yang tidak masuk dalam tanzhim mereka, akan tetapi dia mengikuti dalil dari Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, dari shahabat Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat…, maka dia adalah orang yang suka mengkafirkan (mukaffir), dialah orang yang suka membid’ahkan…, dia orang pemerintahan dan dia adalah utusan dari badan keamanan (intelijen)…, dialah orang yang bodoh dengan waqi’ (fakta), dialah orang yang suka memecah belah… dialah… dialah… dan seterusnya.

Oleh karenanya aku katakan: Sebaiknya kamu tahu wahai saudaraku, mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu…. Bahwa perbedaan yang mencolok antara jamaahmu dan jamaah ahli haq dalam masalah ini… bahwasanya dilihat, loyalitas mereka adalah untuk Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam serta orang-orang yang beriman.

Adapun jamaahmu 2) maka loyalitasnya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam serta untuk orang yang masuk dalam tanzhim kelompok Ikhwanul Muslimin. Barangkali kata-kata terakhir ini terasa amat berat di hatimu, akan tetapi itulah kenyataan yang tidak ada keraguannya.
Di sini saya katakan kepadamu…. Seandainya kamu bepergian ke salah satu negeri… kemudian di perjalanan ketemu dengan tiga orang, seorang dari mereka dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafi, ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong), al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), seorang lagi dari Jamaatut Tabligh dan yang lainnya dari Ikhwanul Muslimin… maka kamu duduk dengan mereka dan terjadi perbincangan di antara kalian dan saling mempersilahkan sebagian kalian dengan sebagian yang lain, dan kamu mulai memperkenalkan dirimu kepada mereka, kemudian masing-masing mereka pun memperkenalkan dirinya.

Maka berkata seorang dari mereka: Saya Fulan bin Fulan seorang ikhwani (pengikut Ikhwanul Muslimin, red), kemudian yang kedua pun mengatakan saya Fulan bin Fulan seorang salafi, yakni orang yang mengikuti kitab dan sunnah atas pemahaman salaful ummah, maka sekarang sikap apa yang akan kamu tampakkan dari mereka ini?

Saya katakan kepadamu: Pasti kamu merasa bahagia dan sangat condong kepada orang yang pertama kamu mendengar bahwa dia adalah seorang ikhwani, kemudian kamu akan merasa berat hati, dan menjaga jarak serta berbagai basa-basi akan muncul olehmu, ketika kamu mendengar bahwa dia adalah seorang tablighi (pengikut Jama’ah Tabligh, red).

Adapun ketika kamu mendengar nama yang ketiga bahwa dia seorang salafi, maka akan nampak raut muka yang masam di wajahmu dan perubahan yang cepat (salah tingkah) dalam muamalah terhadapnya. Maka inikah wala’ (loyalitas) untuk orang-orang beriman ataukah untuk jamaah Ikhwanul Muslimin? Tidak ragu lagi, loyalitas ini adalah untuk jamaah Ikhwanul Muslimin.

Adapun borok-borok tanzhim rahasia, maka Allah-lah tempat dimintai pertolongan. Hal ini karena tanzhim inilah yang telah membawa kita kepada bencana, dan tanzhim inilah yang telah membuat jurang yang menganga di antara Hukkaam (penguasa negara) dan para dai serta orang-orang yang berbuat islah (perbaikan) dengan apa yang telah memberi kesempatan kepada orang yang menyimpang dari kalangan sekuler dan yang lainnya, agar mereka bisa lebih mendekatkan diri kepada kelompok yang punya kedudukan untuk mereka bisa mencapai maksud dan tujuan mereka.

Bahkan tanzhim inilah yang telah menjadikan semua pemerintahan mengarahkan pandangan mereka kepada shahwah al-Islamiyyah (kebangkitan Islam) dengan pandangan takut dan waspada akan terjadi satu bentuk perubahan. Hal ini jelas sekali, tidak ada kerancuan dan tidak ada debu yang menghalangi (menutupi).

Maka wahai saudaraku…

Apa perlunya kita kepada “kerahasian” (sirriyah) di negeri-negeri Islam, lebih-lebih di negara-negara Teluk? Kecuali hanya sekedar kebutuhan orang-orang Ikhwan (Ikhwanul Muslimin, red) yang mereka sangat takut untuk menampakkannya?

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dalam kitabnya Az-Zuhd halaman 353 dari Umar bin Abdul Aziz, katanya: “Jika kamu lihat satu kaum yang mereka saling mengadakan ‘pembicaraan rahasia’ dalam agama mereka, tanpa menceritakannya kepada orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka berada dalam satu dasar kesesatan.”

Oleh karenanya saya katakan: “Sesungguhnya akidah kami; salafiyyin (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang ditolong), al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat) terhadap Hukkam (penguasa negara) kami kaum muslimin, bahwa kita tidak boleh keluar dari (ketaatan) mereka, walaupun pada mereka terdapat kezhaliman, kepalsuan, kefasikan dan kesenjangan, selagi mereka tidak mengumumkan secara jelas di depan orang banyak bahwa mereka tidak menghendaki dan tidak menyukai syariat Allah Ta’ala, dan mereka kafir kepada Allah dengan kekafiran yang nampak jelas oleh kita dengan petunjuk dari Allah Ta’ala dan dalil dari Kitab (Al Quran, red) dan Sunnah. Maka kalau seandainya mereka berbuat demikian, bolehlah untuk keluar dari ketaatan terhadap mereka dengan syarat yang kedua, yakni kita memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk menggulingkan mereka, tanpa mengakibatkan kerusakan yang lebih parah dari yang pertama.

Kalau tidak demikian, kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah bekerja sama dengan pemerintah Islam dengan doa dan nasehat kepada mereka dengan cara hikmah, penuh bijaksana dan nasehat yang baik, tidak dengan revolusi dan kebrutalan. Dan kita taat kepada mereka dalam suka ataupun duka, kecuali dalam kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan kepada mereka. Maka kami pun memberi peringatan kepada orang yang keluar dari ketaatan terhadap mereka dari kalangan kaum muslimin…!

Dan kami namakan mereka (orang-orang yang keluar dari ketaatan pemerintah Islam) orang-orang yang membangkang, dan kami hukumi mereka sebagaimana layaknya orang yang membangkang. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu: ‘ Rasulullah mengajak kami, maka kami pun membaiatnya, dan beliau ambil dari kami adalah, agar kami membaiatnya ats dasar mendengar dan taat dalam suka maupun duka, dalam keadaan susah ataupun mudah dan dalam keadaan yang tidak kita sukai atau kita inginkan serta supaya kita tidak merampas kekuasaan dari ahlinya kemudian beliah bersabda: “Kecuali kalian melihat kekafiran yang sangat jelas oleh kalian dengan petunjuk dari Allah Ta’ala.” [HR. Muslim -lihat Syarh Muslim oleh Imam Nawawi, di kitabul Imarah, bab Wujubu ath-tha’ah al-umara fi ghairi ma’shiyah wa tahrimuha fi al-ma’shiyah]

Saudaraku… mudah-mudahan Allah menjagamu. Barangkali di sini ada satu pertanyaan yang muncul, yakni selama jamaah ini demikian kondisinya, manakah jalan yang benar…?

Sesungguhnya jalan yang benar adalah jalan yang pernah ditempuh oleh Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia serta orang orang yang mengikuti mereka dengan baik yakni “Manhaj Shalafus Shalih” radhiallahu ‘anhum ajma’in. Hal ini berdasarkan hadits Abi Najih al-‘Irbadh bin Sariyyah berkata:
‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang dengannya bergetar hati-hati dan berlinanglah air mata, maka kami katakan, “Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan, maka berikanlah wasiat kepada kami.” Maka beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, mendengar dan taat, walaupun kalian diperintah oleh seorang hamba (budak), maka sesungguhnya barangsiapa yang hidup dari kalian, pasti akan mendapatkan perselisihan yang banyak. Oleh karenanya, wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku serta sunnah para khalifar ar-rasyidah yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah dari perkara-perkara yang baru maka sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat.” [Disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Arba’in Nawawiyyah dan berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan Hadits Hasan]

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa perselisihan (ikhtilaf) akan terjadi, tapi beliau tidak membiarkan kita (dalam perselisihan) dengan tanpa bayyinah (penjelasan). Bahkan beliau telah memberikan kepada kita jalan keluar dari perselisihan ini dengan sabdanya: Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, yakni wajib bagi kalian untuk mengikuti jalanku dan jalan yang telah ditempuh oleh Khulafa ar-Rasyidin, bukan jalannya Al-Banna dan bukan pula jalan yang lain.

Footnote:
1) Selintas pandang, ketika aku berada di tanzhim mereka ini, sebagian dari mereka memanggilku dengan “Syaikh” dan saat itu aku larang panggilan ini, karena saya tahu bahwa saya masih menempuh jalanku di awal mencari ilmu dan aku bukan ahlinya dalam hal ini… dan tatkala aku menyelisihi mereka dan aku tinggalkan tanzhim mereka, lenyaplah kalimat ini dan diganti dengan katan-kata yang lain seperti tukang mengkafirkan, tukang membid’ahkan dan tukang memfasikkan orang dan diutus dari badan keamanan…, maka betapa mengherankan basa-basi dan hizbiyyah ini.
Subhanallah.

2) Kami katakan: Adapun jamaahmu, loyalitas mereka adalah terbatas hanya pada orang-orang yang masuk di bawah panji-panji mereka, karena seandainya loyalitas mereka karena Allah dan Rasul-Nya dengan benar, pasti hal ini diberikan kepada kaum muslimin
semuanya. Allahu a’lam.

(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)

Diambil dari: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=347

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dialog Bersama Ikhwani – Kondisi Pimpinannya

Posted on 12 Juni 2008. Filed under: IM (Ikhwanul Muflisin) | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Kondisi sebagian pimpinan kelompok ini dan manhaj mereka

Saudaraku, mudah-mudahan Allah Ta’ala menjagamu… Saya ingin bertanya kepadamu satu pertanyaan, tidak hanya satu, bahkan beberapa pertanyaan.
– Apa yang kamu ketahui tentang jamaah (kelompok) yang kamu ada di dalamnya?
– Apa yang kamu ketahui tentang manhaj dari jamaah ini…?
– Dan apa yang kamu mengerti dari sebagian pimpinan dan pendiri jamaah ini…? Seperti Hasan Al-Banna, Tilmisani, dan … dan …
– Apakah mereka berada dalam al-haq atau tidak?

Jangan kamu tergesa-gesa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini… kenapa? Dikarenakan jika kamu mengatakan kepadaku bahwa mereka dalam al-haq, maka akan saya tanyakan kepadamu: Apa dalilnya…?

قُلْ هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
artinya : “Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang yang benar.” (QS Al Baqarah 111)

Oleh karenanya saya katakan, kemarilah bersamaku untuk melihat dan menelaah: Apakah jamaahmu berada dalam al-haq atau tidak? Dan apa dalilnya…?

Maka kita memulai dengan menyebut para pendiri jamaahmu dan pimpinannya agar kita mengetahui manhaj mereka dan sedikit dari perbuatan mereka, akan tetapi… janganlah kamu marah, dan gelisah dulu, juga jangan ta’ashub (fanatik golongan)! Dan janganlah kamu menyangkal, kecuali dengan dalil!

Apabila kamu merasa ragu atau diragukan dengan apa yang saya nukil dari sebagian perkataan dan perbuatan mereka… maka tidak ada jalan lain bagimu, kecuali kamu merujuk kembali kepada rujukan-rujukan yang akan saya jelaskan, dan rujukan itu adalah dari hasil karya para pemimpin jamaahmu, bukan dari orang lain.

Saudaraku… -Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjagamu-, Apa yang akan kamu katakan, kalau seandainya ada seseorang yang mengabarkan kepadamu akan dirinya bahwa dia merayakan bid’ahnya perayaan Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam waktu 12 hari, dari awal bulan Rabi’ul Awwal setiap tahun, mengelilingi kampung bersama para pengikutnya, bersuka ria sambil mendendangkan nasyid- nasyid ?

Maka apakah kamu akan menyetujui dan diam (terhadap kemungkaran itu)?

Apakah kamu akan mengikutinya? Dan menjadikannya sebagai pimpinanmu?

Tidak ragu dan tidak bimbang lagi: Tidak (jawabnya, pent), jika engkau dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah! Kenapa? Karena apa yang dilakukannya adalah bid’ah sebagaimana telah kamu ketahui!

Sekarang tahukah kamu siapa dia? Dialah Hasan Al-Banna pendiri kelompok Ikhwanul Muslimin.

Jangan… jangan… jangan marah dulu!

Karena dia sendiri yang berkata akan dirinya, bukan saya. Sebagaimana disebutkan
dalam bukunya Mudzakkiraat ad-Da’wah wa ad-Da’iyyah halaman 48 dalam judul
“Contoh yang Baik”, ketika beliau mengatakan: “Aku sebutkan bahwasanya sebagian dari kebiasaan kami adalah keluar pada acara Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada sebuah arak-arakan setelah sebelumnya kumpul. Hal ini berlangsung setiap malam dari awal sampai tanggal 12 Rabi’ul Awwal, dimulai dari rumah salah seorang ikhwan. Suatu malam secara kebetulan kami bertemu, dan saat itu giliran pertemuan ada di rumah saudara kami Syaikh Syalaby ar-Rajjaal, maka kami pergi ba’da Isya’ sebagaimana biasa, maka kami dapati sebuah rumah yang terang-benderang, bersih dan semua serba siap. Kemudian dibaginya minuman kopi dan qirfah (sejenis makanan dari kulit kambing) sebagaimana biasa. Dan kami keluar pada sebuah arak-arakan sambil mendendangkan nasyid-nasyid tertentu dengan penuh suka cita dan bahagia.”

Perhatikanlah dan renungkanlah… mudah-mudahan Allah merahmatimu.

Bahkan saudara dia (yakni Hasan Al-Banna), yaitu Abdurrahman Al-Banna, menguatkan masalah ini sebagaimana di kitabnya “Hasan Al-Banna bi Aqlaami talaamidzatihi wa mu’ashirihi” yang ditulis oleh Jabir Rizq, dalam bab berjudul “Hasan Al-Banna zamiil ash Shibaa wa Rafiq asy Syabab”. Di mana Abdurrahman Al-Banna mengatakan di halaman 71-72: “Maka berjalanlah -yakni Hasan Al-Banna- dalam sebuah arak-arakan, sambil mendendangkan nasyid-nasyid pujian kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika hilal bulan Rabi’ul Awwal telah nampak. Kami berjalan dalam sebuah arak-arakan di sore hari pada setiap malam sampai malam 12 Rabi’ul Awwal sambil mendendangkan qasidah-qasidah pujian kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dan di antara qasidah terkenal yang kami dendangkan di acara yang penuh berkah ini:

“Bershalawat sang Ilah kepada Nur yang telah nampak
bagi alam yang melebihi matahari dan bulan.”

Bait yang mulia didendangkan secara koor, sedangkan aku dan saudaraku (yakni Hasan Al-Banna) mendendangkan bersama bait-bait di bawah ini:

“Sang kekasih bersama yang lain telah hadir
Mengampuni semua yang telah lewat dan berlalu
Sungguh-sungguh beliau memutar khamrnya
Hampir-hampir cahayanya menghilangkan pandangan
Wahai Sa’ad, ulangilah bagi kami penyebutan kekasih ini.
Benar-benar mengacaukan pendengaran kami wahai penyanyi.
Sungguh beliau tidak menyusun larangan yang miring pakaiannya
Tidak diragukan lagi bahwa kekasih kaum telah hadir.”

Tahukah kamu siapakah Al-Habib (kekasih) yang mereka maksudkan telah hadir di tengah-tengah mereka? Dan mengampuni dosa-dosa mereka? Tidak lain maksud mereka
adalah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam! Laa haula wala quwwata illa billah.

Wahai saudaraku… demi Allah, kamu mesti sadar dari kelalaianmu… cemburulah kepada syariat dan akidahmu (dengan pujian yang melampaui batas ini, red) ! Karena, bagaimana mungkin kamu ikuti orang yang mendudukkan nabimu memilikimu sifat maghfirah (mengampuni) yang itu adalah hak khusus bagi Allah Ta’ala saja.

Mereka beri’tikad bahwa nabi kita dan teladan kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam telah menghadiri bid’ah mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Maha suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah kedustaan yang besar.

Saudaraku… mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadaku dan kepadamu ke jalan yang lurus…. Apa yang akan kamu katakan, kalau seandainya seseorang bercerita kepadamu bahwa dia bergaul dengan ahli bid’ah dan mengambil bid’ah dari mereka, bahkan terbiasa dengan majlis-majlis bid’ah mereka yang mereka namakan hadhrah (kehadiran) tiap malam… sampai dia berterus-terang kepadamu tentang masalah ini bahwasanya dia telah sangat kenyang dengan fikrahnya (pemikiran) tarikat Al- Hashafiyyah yang bid’ah itu…!

Tidak ragu lagi pasti dan pasti kamu akan sangat mengingkarinya… hal ini dikarenakan dia telah berbuat bid’ah dalam ad Dien ini.

Saya katakan: Tenanglah… jangan marah dulu, dikarenakan Hasan Al-Banna adalah pimpinanmu jamaahmu! Dia berkata di bukunya: Mudzakirat ad-Da’wah wa ad-Da’iyah hal 23: “Dan aku berkawan dengan orang-orang Al-Hashafiyyah di Damanhur, dan aku biasa hadir di masjid At-Taubah setiap malam. Dan di halaman 27 dari kitab ini juga dia berkata: “Aku singgah di kota Damanhur dalam kondisi kenyang dengan fikrah AlHashafiyyah, kota Damanhur ini adalah tempat dimakamkannya Syaikh Sayyid Hushain al-Hashafi, Syaikhnya Tarikat Al-Hashafiyyah yang pertama.

Sekarang tahan sedikit dengan pertanyaanku… Apa yang akan kamu katakan tentang menganggap entengnya Al Banna pada khilaf yang terjadi antara Salaf dan Khalaf tentang sifat Allah Ta’ala…? Dan apa yang kamu katakan pula tentang tuduhannya (Al Banna) kepada Salaf, bahwasanya Salaf itu kadang-kadang menta’wil (membelokkan ke makna lain, red) , kadang-kadang ghuluw (berlebihan) dan kadang-kadang melampaui batas dalam hal ini (yakni dalam memahami sifat Allah Ta’ala)?

Dan apa yang akan kamu katakan tentang adopsi kepada madzhab Tafwidh? Mudah-mudahan Allah menyelamatkan aku dan engkau dari penyimpangan dan kesesatan. Inilah yang dia (Al-Banna) jelaskan dalam kitabnya Al-‘Aqaid hal 74, tatkala dia mengatakan setelah membeberkan dua jalan, Salaf dan Khalaf: “Dan dua tarekat ini (Salaf dan Khalaf) merupakan sumber khilaf yang besar di antara ulama ahlul kalam dari imam-imam kaum muslimin. Dan masing-masing mendasari madzhabnya dengan hujjah-hujjah dan dalil-dalil, seandainya kamu teliti masalah ini pasti kamu akan mengetahui bahwasanya jarak perselisihan di antara dua jalan ini (Salaf dan Khalaf) tidak berarti sedikitpun (dari perselisihan ini), seandainya masing-masing dari dua kelompok ini meninggalkan sikap memberontak dan melampaui batas, dan bahwasanya pembahasan dalam permasalahan seperti ini tidak membawa hasil pada akhirnya kecuali satu, yaitu tafwidh bagi Allah Ta’ala.”

Dan perkataannya juga tentang tuduhannya kepada Salaf dengan ta’wil hal 26: “Apabila telah ditetapkan ini, maka sepakatlah antara Salaf dan Khalaf dalam asas ta’wil.”

Dan perkataannya juga pada hal 77-78: “Dan kesimpulan dari pembahasan ini ialah
bahwasanya Salaf dan Khalaf telah bersepakat bahwa yang dikehendaki adalah bukan
zhahir yang diketahui di antara manusia, maka inilah ta’wil secara umum. Dan kedua kelompok ini (Salaf dan Khalaf) sepakat pula bahwasanya setiap ta’wil yang berlawanan dengan dasar-dasar syariat adalah tidak diperbolehkan.

Maka perselisihan ini terbatas hanya pada menta’wil lafazh-lafazh yang dibolehkan oleh syara’, dan ini masalah yang sepele sebagaimana kamu lihat. Dan masalah yang mestinya orang-orang salaf kembali lagi kepadanya. Sementara masalah yang paling penting untuk diarahkan dan diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini adalah mengarahkan dan menuju kepada persatuan barisan dan penyatuan kalimat semacam kita.”

Aku katakan: Nukilan ini sebagaimana kamu lihat -mudah-mudahan Allah menjagamu-
tidak ada satu makalah pun (perkataannya Al-Banna), kecuali ada tiga point yang mestinya diperhatikan.

Pertama: Tuduhannya (Al-Banna) kepada Salaf bahwa mereka kadang-kadang Tafwidh 1), dan kadang-kadang suka menta’wil, dan orang-orang salaf berlepas diri dari tuduhan ini.
Kedua: Adopsinya dia (Al-Banna) kepada madzhab tafwidh, yang hal ini lebih jelek dari ta’wil.

Dan kamu pun tahu bahwa akidah kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah menetapkan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan tentang diri-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa merubah (tahrif), tanpa mengosongkannya (ta’thil) dan tanpa mempertanyakannya (takyif), serta tanpa menyerupakannya (tamtsil). Adapun Al-Banna maka dia telah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini dan mengadopsi madzhab At-Tafwidh yang hal ini adalah lebih jelek dari madzhab ta’thil.

Maka berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh Al-Banna dalam memahami asma-asma
Allah dan sifat-sifat-Nya: “…seharusnya bagi kita untuk diam dari sifat ini dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, jika Allah Ta’ala menyifati diri-Nya bahwasanya Allah Ta’ala itu Maha Mendengar, maka wajib bagi kita untuk diam dari makna sifat ini, dengan menyerahkannya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah satu kesesatan -kita berlindung kepada Allah darinya- hal ini dikarenakan Allah Ta’ala telah berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan apa yang mereka mengerti dari asal makna sebagaimana telah tetap demikian dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Adapun dari segi hakekat dan kenyataannya yang telah ditunjukkan dengan makna (arti) tersebut, maka itu termasuk dari apa-apa yang Allah Ta’ala simpan dalam ilmu-Nya yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.

Oleh karenanya, maka apabila Allah Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya bahwasanya Allah memiliki sifat mendengar, maka sifat “mendengar” adalah maklum dari segi asal makna kata tersebut, yakni mengetahui suara, akan tetapi hakekatnya (makna tersebut) dari segi mendengarnya Allah Ta’ala, tidak bisa diketahui. Dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin hafizhahullah telah menjelaskannya dalam Syarh Aqidah Safariniyyah (Ad-Durah al-Madhiyyah li Aqidah al-Firqah al-Mardhiyah).

Di mana beliau mengatakan ketika mengomentari perkataan pengarang buku itu:
“Dan setiap apa yang datang dari ayat atau berita yang shahih dari orang yang tsiqah
dari hadits-hadits, maka kami membiarkannya sebagaimana telah datang, maka
dengarlah dan ketahuilah.”

Maka beliau (Syaikh Ibnu Utsaimin) hafizhahullah berkata: “Ini adalah satu kaidah yang disebutkan oleh pengarang buku ini, bahwasanya semua datang dalam Al-Qur’an atau apa yang telah shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya kita membiarkannya sebagaimana adanya, dan seperti inilah yang telah diriwayatkan dari as-salaf yang mereka berkata dalam mengimani ayat-ayat sifat (yakni sifat-sifat Allah Ta’ala) dan hadits-haditsnya: ‘Biarkanlah sebagaimana datangnya tanpa mempertanyakan (hakekatnya)’. Maka wajib bagi kita untuk membiarkannya sebagaimana adanya.”

Akan tetapi apakah kita memberlakukannya secara lafazh, artinya kita memberlakukan lafazhnya saja (tanpa makna, pent) atau memberlakukan lafazh dan maknanya sekaligus? Jawabannya adalah yang kedua: “Adapun yang pertama, maka ini adalah madzhab yang batil yang disebut sebagai madzhab ahli tafwidh atau mufawidhah, sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Termasuk sejelek-jelek perkataan ahli bid’ah dan ilhad (yakni madzhab tafwidh). Dikarenakan mereka dengan madzhab ini telah berbuat kesalahan yang besar. Dimana mereka menjadikan (menuduh) kaum muslimin bodoh dengan makna dari ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat (Allah). Ini adalah satu bahaya besar, jika kita beribadah dengan lafazh-lafazh hukum syar’i seperti shalat, wudhu, zakat dan haji, maka bagaimana kita tidak beribadah dengan ayat-ayat
sifat sehingga kita paham dengan makna-maknanya?

Yang penting kita membiarkannya, sebagaimana datangnya dan sudah menjadi satu kejelasan bahwa lafazh-lafazh itu datang dengan membwa makna, maka wajib untuk
menetapkan lafazh ini dan menetapkan makna yang dikehendaki dari lafazh itu.” (sampai di sini perkataan Ibnu Taimiyah).

Ketiga: Adopsinya dia (Hasan Al-Banna) kepada madzhab taqrib (pendekatan) diantara kelompok-kelompok sesat dan ahli al-haq. Dan ini nampak dari perkataannya di kitabnya Al-‘Aqaid hal. 78: “dan hal yang paling penting untuk diarahkan perhatian kaum muslimin sekarang ini adalah ‘menyatukan barisan dan menyatukan kalimat semampu kita, kesanalah jalan yang kita tempuh’.”

Dan ini adalah “alasan” dalam kaidah mereka yang terkenal: “Kita bekerja sama dengan apa yang kita sepakati, dan saling memberikan udzur (toleransi) dengan apa yang kita berbeda dalam masalah itu.” Oleh karenanya kita dapati dalam jamaah ini yang kamu ada di dalamnya, bahwasanya masuk ke dalam jamaah ini seorang Salafi 2), Asy’ari, Sufi dan orang-orang yang semodel itu, bahkan orang Nashrani sekalipun. 3)

Bukan…bukan…bukan saya yang berbicara demikian, akan tetapi yang berbicara adalah Dr. Hasan Hathut, seroang Doktor dari generasi Ikhwanul Muslimin tahun 50-an di mana dia berkata di buku Hasan Al-Banna bi aqlaami talamidzatihi wa mu’ashirihi di bawah judul Tuhmah at-Ta’ashub (Tuduhan Fanatik) hal 188-189: “Ketika menyebut fitnahnya orang-orang Qibty (Mesir) maka banyak dari mereka yang berusaha untuk menempelkan terhadap orang ini 4) dan dakwahnya dengan tuduhan ta’ashub (fanatik) melawan orang Nashrani atau memecah-belah diantara umat. Dan Allah Ta’ala serta orang-orang yang hadir dari orang-orang yang benar menjadi saksi bahwa sedikitnya itulah yang benar… dan orang ini (yakni Hasan al-Banna) bukanlah dai yang mengajak kepada kebencian dan perpecahan. Dan dia dulu memberikan penjelasan bahwa dakwah untuk menegakkan syariat Islam tidak mungkin hanya untuk orang-orang Qibti (Mesir), dikarenakan syariat
Islam ini akan ditegakkan kepada kita dan kepada mereka (yakni orang-orang Nashrani) secara sama-rata. Dan dakwah ini tidaklah menuntut secara mutlak akan kenasraniannya seorang Nashrani, akan tetapi syariat ini adalah kumpulan undang-undang yang tidak didapatkan penggantinya pada agama Nashrani. Dan hukum-hukumnya tidak akan terbantah. Dan hal ini seandainya ada di kitab Injil undang- undang ini, pasti orang-orang Nashrani akan bergegas mengambil undang-undang kitab Injil, dan tidak didapatkan pada Islam kepura-puraan padamasalah ini. Selagi pendapat orang banyak tidak dinafikan (dilenyapkan) bersama agama yang minoritas, maka tidaklah ada orang yang zhalim dan yang dizhalimi.” (sampai disini perkataannya).

Kemudian selanjutnya penulis itu sendiri menyatakan, “Dan dakwah orang ini (yakni Hasan al-Banna) telah berkumandang dan dibenarkan oleh orang-orang yang paham dari kalangan kaum muslimin dan orang-orang Mesir 5), dan cukup saya sebutkan orang-orang yang menuduh bahwa orang ini (yakni Hasan al-Banna), adalah musuh orang-orang Nashrani, bahwasanya ustadz Louis Faanus dari pembesar orang- orang Qibti (Mesir) -dan dia sudah mati- dia dahulu adalah orang yang aktif hadir pelajaran hari Selasa yang disampaikan oleh Hasan al-Banna, dan hubungan antara dua orang ini adalah sangat erat sekali. Dan ketika Hasan al-Banna dicalonkan pada pemilu untuk jadi anggota parlemen, wakilnya yang memegang kendali di salah satu panitia pemilu adalah seorang Qibti (yakni Nashrani, subhanallah).

Di dalam buku “Dikrayaat La Mudzakaraat”, yang dikarang oleh Tilmisani, pada halaman 263-264 mengatakan, “Dan pada tahun empat puluhan –seingat saya Sayyid al-Qummy, dia bermadzhab Syi’ah- menjadi tamu bagi orang-orang Ikhwanul Muslimin di markas pusat, dan pada saat itu al-Imam as-Syahid (yakni Hasan Al-Banna yang mati digantung, digelari syahid, red) bekerja secara sungguh-sungguh dalam rangka pendekatan di antara madzhab-madzhab yang ada.” (sampai di sini perkataannya).

Dan Tilmisani juga berkata dengan menukil perkataan Al-Banna di kitab yang sama, halaman 264, “Syi’ah itu memiliki golongan-golongan (sekte-sekte) yang menyerupai pendekatan di antara madzhab yang empat dari kalangan ahli sunnah, … dan di sana ada perkataan 6) yang mungkin untuk dilenyapkan, seperti nikah mut’ah dan jumlah istri bagi seorang muslim, dan ini hanya dianut oleh sebagian firqah mereka dan permasalahan permasalahan seperti ini yang tidak pantas untuk dijadikan sebab pemutusan hubungan di antara Ahli Sunnah dan Syi’ah.

Wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmatimu-.

Inilah jalan dan madzhab yang ditemput Al-Banna dalam rangka ‘pendektan di antara firqah-firqah’, yang orang-orang Salafus Shalih dan Ahlus Sunnah wal- Jama’ah menghukuminya sebagai satu kesatuan.

Maka demi Allah, tidaklah jalan ini yang -telah ditempuh Hasan Al-Banna- bisa membangkitkan ghirah (kecemburuan) di hatimu dan akidahmu yang shahih dan benar?

Dan tidakkah nukilan-nukilan yang telah saya jelaskan kepadamu tentang keadaan tokoh dan pimpinan jamaah ini dan manhajnya, cukup untuk sebagai alasan kamu berpisah dari jamaah ini dan manhajnya (yang sesat)? Hal ini tidak diragukan lagi… akan tetapi jika engkau dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Saudaraku -mudah-mudahan Allah menunjukkan dan membimbingmu ke jalan yang benar-…

Bukankah engkau dari Ahli Sunnah wal Jama’ah? Kamu tentu akan menjawab,
“Ya…”, kalau begitu saya akan bertanya kepadamu.

Apa yang akan kamu kerjakan seandainya kamu berada di salah satu kuburan, dan kamu lihat kaum muslimin ber-istighatsah 7) dengan kubur-kubur sebagian dari para wali dan orang-orang shalih? Apakah kamu akan mengingkari mereka dalam masalah ini?

Tidak ragu lagi pasti kamu akan menjawab, “Ya.” Kenapa?

Dikarenakan perbuatan mereka ini adalah satu kesyirikan yang besar sebagaimana tidak tersamar lagi bagimu. Kemudian masalah ini tidak bisa diremehkan dan tidak didiamkan begitu saja.

Akan tetapi aku katakan, “Tenang dan pelan-pelanlah -mudah-mudahan Allah menjagamu-, dikarenakan jika itu kamu kerjakan, berarti kamu telah dicela dan dianggap jelek (dan kotor) oleh pimpinanmu dan ketua jamaahmu yang ketiga, Umar Tilmisani, di mana dia mengikrarkan dalam bukunya Syahiid al-Mihrab halaman 197, katanya, “Maka tidak perlu -kalau demikian- kepada sikap keras didalam mengingkari orang-orang yang beri’tikad akan adanya karamah bagi para wali 8) dan merendahkan diri kepada mereka di kubur-kubur mereka yang nampak, dan berdoa di kubur-kubur itu ketika terkena musibah.”

Sekarang kita bersama teladanmu dan salah seorang pimpinanmu!

Apa yang akan kamu katakan jika ada orang yang kamu percaya kepadanya, kemudian
dia bercerita tentang seorang Zaid. Dan dia berkata kepadamu, bahwa Zaid ini dari kalangan dai besar yang memiliki ketakwaan dan wara’ (sikap hati-hati) dan dia termasuk dari kalangan orang-orang yang mengikuti Nabimu shalallahu ‘alaihi wasallam dan seterusnya kemudian setelah kamu mendengar cerita itu, tiba-tiba kamu dikejutkan dengan Zaid yang telah dipuji-puji ini, kamu dapatkan dia sedang mendengarkan musik, bahkan mendatangkan sejumlah penari-penari perempuan Perancis dan dia (Zaid itu) ikut menari dan berdansa dengan mereka di salah satu bar!

Bahkan apa yang akan kamu katakan seandainya kamu tahu, bahwa dia saking getolnya dan perhatiannya kepada film sinema, dia shalat Zhuhur dan Ashar dengan dijama’ dan diqashar (diringkas) pada hari Jum’at, dia lakukan demikian karena takut akan luput darinya film sinema ini!

Bukankah kamu akan membencinya karena Allah? Dan bukankah kamu akan mengingkarinya? Tidak ragu lagi kamu akan mengatakan, “Ya.” Tahukah kamu siapa
orang ini?

Aku katakan, tenang… tenanglah wahai saudaraku.

Sesungguhnya orang itu adalah pimpinan jamaahmu yang ketiga yakni Umar Tilmisani. Jangan gelisah dan jangan kamu berdusta!

Bukanlah saya yang mengada-ada terhadapnya, akan tetapi dia sendiri yang berbicara tentang dirinya. Oleh karenanya, saya katakan: Ikuti saya dan perhatikan apa yang saya nukilkan dari bukunya Dzikrayaat la Mudzakkiraat dimana dia berkata pada halaman 10 ketika menceritakan sejarah masa mudanya, “Aku belajar dansa ala Perancis di aulanya Imaduddin, dan sekali belajar tarian membayar 3 junaih 9), maka aku pelajari Dinset Foks Troot, Syar Liston dan Tanjo, juga aku belajar bermain gitar.

Di sini, saya katakan, jangan tergesa-gesa dulu dengan apa yang telah jelas bagimu… yakni bahwa tarian yang dia pelajari dulu, adalah waktu masa mudanya kemudian dia bertaubat darinya. Maka kalau seandainya demikian jangan dia (Tilmisani) itu diingkari, dikarenakan kita semua adalah punya kesalahan. Dalam hadits dikatakan: “Semua anak Adam adalah bersalah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang mau bertaubat.” (Lihat Shahihul Jami’ no. 4515)

Akan tetapi orang ini (Tilmisani) menguatkan dan meyakinkan perbuatannya, seolah-oleh dia menyangka bahwa dia dari kalangan Samaahatul Islam – mudah- mudahan Allah mengasihi dan mengampuninya-.
Bahkan dia menuduh bahwa orang yang mengingkarinya adalah termasuk orang-orang yang keras (Mutasyaddidiin), seperti dia katakan dalam mukadimah kitabnya, Dzikrayaat la Mudzakkirat halaman 3-4, “Dan kehidupanku, ada yang tidak disenangi oleh orang-orang yang ‘berhaluan keras’ dari kalangan Ikhwan (sendiri) atau yang lainnya, seperti tarian (ala) Perancis dan musik serta kesenangan untuk frontal dalam kehidupanku yang jauh dari ikatan keteguhan dan komitmen, yang hal ini tidak pernah diperintahkan oleh agama apapun, apalagi agama Islam yang Nabi kita shalallahu ‘alaihi wasallam menyifatinya secara makna, “Bahwa agama ini longgar (samhah) tidak seorang pun yang keras terhadapnya kecuali dia akan terkalahkan.”

Dan perkataannya pada halaman 100 dari buku yang sama dalam judul “Keajaiban di penjara Qanaa”, “Dan terjadilah satu peristiwa antara kau dengan dia 11) tentang Ummu Kultsum 12), yang dia berkeinginan untuk menyenangkanku, maka dia pun tahu kalau salah satu dari lagu-lagunya Ummu Kultsum yang memikat perhatianku dan aku senang untuk mendengarkannya. Dan aku pun beranjak ke tempat tidurku di rumah sakit penjara, ketika itu dia ada di situ juga (rumah sakit). Ketika aku sedang terlelap tidur, seakan-akan aku mendengar lagu ini dari Ummu Kultsum, maka aku pun pelan-pelan mencari kejelasan asal suara itu. Tiba-tiba aku melihat radio transistor ada di dekat pipi sampingku, dan Ummu Kultsum sedang mendendangkan lagu ini.”

Dan perkataannya juga pada halaman 16 dalam judul ‘Shalaitu fi as-Sinema’ dari buku ini juga, “Bahwasanya ketika aku bekerja sebagai pembela (di dalam pengadilan), aku singgah pada hari Jum’ah untuk nonton film-film di gedung film, segera aku bergegas mengambil kesempatan untuk istirahat al-Intrakaat untuk menunaikan shalat Zhuhur dan Ashar dengan dijama’ dan diqashar di salah satu pojok gedung film di mana saat itu aku berada.”

Maka sekarang wahai saudaraku….

Bukankah sudah saatnya kamu bangkit dan bangun dari tidurmu?

Demi Allah! Sesungguhnya saya sangat heran kepada orang yang telah mengetahui apa yang aku tunjukkan, kemudian dia tetap dalam sikapnya (yang batil) dengan penuh kesombongan dan ta’ashub (fanatik) ?

Footnote :
1) Ketika dia (al-Banna) berkata tentang madzhab salaf dalam mengimani sifat- sifat Allah Ta’ala hal 75: “Aku telah mengetahui bahwa madzhab orang salaf pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Ta’ala, mereka menyikapi ayat ayat dan hadits-hadits itu sebagaimana adanya dan mereka diam dari menafsirinya* atau menta’wilnya.” Pada hal 66 dia berkata: “Adapun orang-orang salaf -mudah-mudahan Allah meridhai mereka- mereka mengatakan: “Kami beriman dengan ayat-ayat dan hadits-hadits ini sebagaimana adanya, dan kami membiarkan penjelasan maksudnya Allah Ta’ala.” Maka menetapkan adanya tangan, maka bersemayam (istiwa’), sifat tertawa, sifat heran… dan sebagainya, yang semua itu dengan makna-makna yang kita tidak mengetahuinya.” (Kitab ‘Aqa’id).

Aku katakan: Yang nampak olehku -wallahu a’lam- bahwa Al-Banna rahimahullah belum jelas baginya madzhab as-salaf dalam masalah ini. Hal ini terlihat jelas pada perkataannya tentang orang-orang salaf dalam mengimani sifat-sifat Allah Ta’ala, bahwa mereka dia dari menafsirinya. Dan perkataannya juga, bahwa semua itu yakni “menyikapi sifat-sifat Allah dengan makna-makna yang kita tidak mengetahuinya”, tidak ragu lagi bahwa ini adalah tafwidh. Dan salaf rahimahullah berlepas diri dari tuduhan ini sebagaimana kamu ketahui, bahwa mereka menafsiri sifat-sifat Allah dari sisi makna tidak dari sisi hakikat dan keberadaannya.

* Sementara imam Sufyan Ibnu Uyainah berkata: “Semua apa yang Allah
Ta’ala telah menyifati diri-Nya dalam kitab-Nya maka tafsirnya adalah
membacanya dan diam.” (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, hal. 70). pent.

2) Dari kalangan ahli sunnah, setelah mendapat kerancuan dan syubhat dari
kelompok ini.

3) Yaitu ketika salah seorang Nashrani menjadi wakil al-Banna pada salah satu
kepanitiaan pemilihan umum, dan akan dijelaskan dari nukilan-nukilan berikut.

4) Yakni Hasan al-Banna dan dakwahnya.

5) yakni orang-orang Nashrani.

6) Yakni di antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah.

7) Minta pertolongan untuk dilepaskan dari kesulitan (rsd)

8) Dan kami alhamdulillah dari akidah kami adalah menetapkan adanya karamah para wali, dan kamu sependapat dengan dia dalam sisi ini, adapun sisi yang kedua dari omongannya maka itu adalah perkataan yang sangat batil. Wal’iyadzubillah.

9) Mata Uang Mesir

11) Salah seorang penghuni penjara

12) Seorang artis Mesir terkenal

(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)

Diambil dari: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=346

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Dialog Bersama Ikhwani – Pendahuluan

Posted on 12 Juni 2008. Filed under: IM (Ikhwanul Muflisin) | Tag:, , , , , , , , , , |

Mukadimah penulis

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
artinya : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah
kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.

Kemudian, sebagai pembukaan, saya katakan:

Ketahuilah -mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan taufik kepadamu dengan apa yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya- bahwasanya “dialog” yang ada di hadapanmu adalah dialog yang telah dirancang menurut manhaj Ikhwanul Muslimin dalam memberikan kerancuan kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah tanpa bisa mengetahui apa sebenarnya manhaj kelompok ini dan pemimpin-pemimpinnya.

Dialog yang saya tulis ini adalah terbersit dari sayang dan cinta kepadamu dan sebagai manifestasi dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits shahih:

“Agama itu nasehat”, maka kami (shahabat) bertanya, “Bagi siapa?” Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, Rasul-Nya dan para imam kaum muslimin serta orang-orang awam dari mereka.” (HR. Muslim)

Barangkali pembicaraan ini akan berat bagimu, tapi itulah al-haq -insya Allah-, oleh karenanya harapanku, agar kamu ikuti terus sampai selesai pembahasan ini kemudian kamu perhatikan: “Dengan siapa kebenaran (al-haq) itu? Maka jika kamu melihat
bahwa kebenaran ada pada jamaahmu (Ikhwanul Muslimin) dengan dalilnya, maka janganlah kamu kikir untuk memberikan nasehat dan petunjuk kepada kami.

Akan tetapi jika sebaliknya (yakni al-haq tidak ada pada Ikhwanul Muslimin), maka tidak ada jalan bagimu, kecuali menerima al-haq itu dari manapun datangnya.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا
artinya : “Tidak patut bagi laki-lagi yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka dan barangsiapa yang mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

(Dinukil dari “Hiwar haadii ma’a ikhwanii”, ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, alamat PO BOX 6018, El-Roms, Ra’s Al Khamiyah, Uni Emirat Arab, cetakan th 1995/1415 H. Edisi Indonesia : Dialog bersama ikhwani.)

Diambil dari: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=345

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Siapakah Ahlus Sunnah?

Posted on 10 Juni 2008. Filed under: Manhaj | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?

Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi mereka.

Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala:

“Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )

Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan:

“Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)

Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam sebuah sya’ir:

Semua mengaku telah meraih tangan Laila
Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu

Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.

Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek dari mereka.

As Sunnah
Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.

As Sunnah menurut bahasa
As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata:
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh
Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.

As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama
Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa, pent.).”

Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”

Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.”

Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah”. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.

As Sunnah Menurut Ahli Hadits
As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).

As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih
Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya.
Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam katagori mu’jizat”.

As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih
As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.

Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.

Siapakah Ahlus Sunnah

Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka.

1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:
“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)

3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”

6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”

Ciri Khas Mereka
1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda:
“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)

Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.

Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”

Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”

2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman:
“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan :

Semua orang mengaku telah menggapai si Laila

Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya

Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.

Penulis: Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawa
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=23)
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...