Bergandeng tangan Menyaksikan Hilal

Posted on 19 Juli 2012. Filed under: Fiqih, Manhaj | Tag:, , , , , , |

Bulan yang penuh berkah telah datang. Menambah nuansa keimanan dengan amalan yang penuh keutamaan. Ibadah puasa tak pelak lagi, mengandung hikmah yang banyak, yang Allah Jalla wa ‘Ala mensyariatkannya untuk menjadikan para hamba-Nya orang-orang yang bertaqwa secara paripurna.

Puasa, ibadah yang mengusung nilai kebersamaan. Hamba yang kaya maupun yang miskin, pejabat tinggi negara hingga rakyat jelata, sama-sama merasakan haus, lapar dan kelemahan karenanya. Inilah keadaan yang akrab dengan kaum fakir dan miskin, sehingga diharapkan yang kaya pun turut merasakan kesusahan yang biasa dirasakan si miskin. Dengan demikian diharapkan kepedulian sosial dan jalinan hati antara kaum muslimin semakin erat, sebab dalam satu waktu mereka sama-sama bersabar dalam ibadah puasa yang mulia dan bergembira bersama tatkala berbuka.

Namun, kenyataan yang kita hadapi, kebersamaan ini sedikit banyak “terusik” dengan adanya perbedaan pandangan dalam penentuan awal waktu berpuasa dan Iedul Fitri. Padahal ibadah puasa dan ‘Iedul Fitri merupakan syi’ar Islam yang sangat nampak di hadapan umat Islam dan umat non muslim. Untuk ibadah seagung dan sebesar ini pun umat Islam sulit untuk se-iya dan sekata. Gambaran yang sering pula kita saksikan dalam perkara agama yang lain. Itulah kesan negatif yang ditangkap dari realita yang klasik ini. Setidak-tidaknya keindahan Islam sebagai agama yang penuh rahmah ini tercoreng dengannya.

Untuk itulah kami menurunkan tulisan yang sederhana ini, untuk melihat secara obyektif dan ilmiah tentang bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cara menentukan awal waktu Ramadhan dan Syawal. Tulisan ini semata-mata mengemban amanah ilmiyah tanpa memihak atau mendiskreditkan pihak tertentu.

Adapun cara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menentukan awal masuknya bulan dengan salah satu dari dua perkara:

1. Melihat hilal dengan mata kepala (bulan kecil tanggal satu) di ufuk, hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut ini:

Allah ta’ala berfirman yang artinya:

“Maka siapa saja yang menyaksikan bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa” (Al Baqarah : 185)

Ini merupakan kewajiban final bagi orang yang menyaksikan hilal bulan tersebut, demikian papar Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya.

Dan lebih jelas lagi bila kita menengok sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Bila kalian melihat hilal (bulan Ramadhan,pent), maka hendaklah kalian berpuasa” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Al Haajah menjelaskan asal ibadah puasa itu tidak wajib dan menjadi wajib sesungguhnya hanya dengan rukyat (menyaksikan dengan mata kepala, pent) dengan dalil hadits tersebut di atas. (Fiqih Ibaadaat ‘Alaa Madzhab Asy-Syafi’i, 1/ hal. 527).

Zakaria bin Muhammad Al-Anshary Asy-Syafi’i menegaskan wajibnya puasa Ramadhan adalah dengan menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari atau dengan rukyat (melihat) hilal atau dengan menetapkan hilal berdasarkan saksi yang adil.(Manhaajut Tullab Fii Fiqhi Al Imam Asy Syafi’i, 1/hal. 62).

2. Menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari; karena bulan dalam penanggalan hijriyah tidak mungkin melampaui tiga puluh hari dan tidak mungkin pula lebih kurang dari dua puluh sembilan hari.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan, dari sini diketahui bahwa tidak wajib berpuasa semata-mata berpatokan pada perhitungan hisab, karena syari’at ini menyandarkan adanya hukum berpuasa dengan sesuatu yang bisa dijangkau panca indra yaitu rukyat, dengan penglihatan mata. (Fiqih Al Mar ah Al Muslimah min Alkitabi wa Sunnah, hal. 196).

Maka ini merupakan intisari dari hadits Rasulullah dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

”Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbuka (‘idul fitri, pent) karena melihatnya, bila tertutup mendung atas kalian maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Sehingga dari paparan di atas dan dalil-dalilnya, kita mengetahui bahwa masalahnya adalah hilal itu terlihat atau tidak terlihat oleh mata. Bukan berpatokan kepada hisab, dengan dalih bahwa dengan hisab maka penetapan hilal akan lebih teliti. Mengapa hanya dengan rukyat hilal, karena Allah Azza wa Jalla menetapkan waktu-waktu ibadah dengan tanda-tanda yang mudah diketahui manusia dengan berbagai latar belakang keilmuan dan pendidikan mereka. Sebagaimana Allah menjadikan terbenamnya matahari sebagai tanda shalat magrib, sekaligus berbuka puasa. Hilangnya warna kemerahan di ufuk, Allah ta’ala jadikan sebagai tanda shalat Isya. Demikian juga Allah Azza wa Jalla menjadikan rukyatul hilal (melihat hilal dengan penglihatan mata) sebagai patokan tanda masuknya bulan qomariyah yang baru dan selesainya bulan yang sebelumnya.

Dan Allah Jalla wa ‘Ala tidak membebani kita untuk mengetahui waktu awal bulan qomariyah dengan sesuatu yang hanya diketahui oleh segelintir orang mengenai metodologi perhitungannya, yaitu ilmu hisab karena Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

Artinya: ”Tidaklah Allah menghendaki untuk menyulitkan kalian.” (Al-Maidah: 6)

Juga sebagaimana Rasulullah bersabda:

”Sesungguhnya agama Islam itu mudah, dan tidaklah seorangpun memberat-beratkan diri dalam agama ini kecuali dia sendiri yang akan terkalahkan olehnya.” (HR. Al-Bukhari).

Itupun para ahli hisab berbeda-beda dalam metode penghitungannya dan standar derajad hilalnya. Sungguh ilmu yang merepotkan, dan Allah Jalla wa ‘Alaa mengetahui dengan ilmunya yang maha sempurna, bahwa Islam akan diamalkan oleh masyarakat perkotaan dan pedesaan, oleh orang kampus dan orang kampung yang terpencil sekalipun yang jauh dari peradaban yang canggih.

Rukyatul hilal inilah yang diamalkan Rasulullah, para khalifah rasyidin dan para sahabatnya serta imam madzhab yang empat. Guna menentukan kewajiban berpuasa dan tidaknya. Ini menunjukkan peran rukyatul hilal sangat signifikan dalam syariah Islamiyah, yang tidak boleh dianggap remeh, sebab meremehkan rukyatul hilal berimbas kepada penistaan syariat Islam itu sendiri. Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

Artinya:”Mereka bertanya kepadamu tentang hilal, katakanlah hilal itu adalah tanda-tanda waktu (ibadah) bagi manusia dan bagi ibadah haji.”(QS. Al-Baqarah: 189)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan, ”maka sesungguhnya kami mengetahui secara pasti dari agama Islam, bahwa mengamalkan dalam melihat hilal untuk ibadah puasa, haji, masa iddah bagi wanita yang ditalaq dan ilaa’ serta hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan hilal berdasarkan berita dari seorang ahli hisab, bahwa hilal itu nampak atau tidak nampak adalah perkara yang tidak diperbolehkan.” (Majmu’ul Fatawa; Al ‘Amalu bil hisab wa hukmuhu, 25/132). Selanjutnya beliau mempertegas statement beliau dengan ucapan, ”Dan sungguh kaum muslimin telah ijma’ atas hal itu (larangan menggunakan hisab sebagai acuan, pent) dan tidak diketahui ada perselisihan sama sekali semenjak zaman dahulu hingga sekarang mengenai perkara tersebut. (masih pada halaman yang sama, pent).

Ibadah puasa dan hari raya Iedul Fitri, merupakan ibadah yang diamalkan secara bersama-sama, selain menambah kesolidan kaum muslimin, ini pula yang diperintahkan Rasulullah , dimana beliau bersabda:

”Berpuasa adalah hari ketika kalian semua berpuasa dan ‘Iedul Fitri adalah hari ketika kalian semua tidak berpuasa dan ‘Iedul Adha adalah hari ketika kalian semua menyembelih hewan kurban.” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 224)

Bila sudah jelas hasungan Rasulullah dalam hadits tersebut, mari kita wujudkan kebersamaan dan menghindari bercerai berai dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini. Walaupun ada perbedaan pendapat dalam masalah apakah satu orang yang telah melihat hilal di suatu negeri, mengharuskan kaum muslimin di negeri-negeri yang lain berpuasa atau tidak. Para ulama kita menasihatkan kepada segenap kaum muslimin untuk lebih mengutamakan kebersamaan dan tidak terkotak-kotak dalam pelaksanaan ibadah yang mulia tersebut. Dan agar dapat bersama dalam hal pelaksanaan ibadah puasa atau ‘Iedul Fitri, hendaklah kaum muslimin menyerahkan keputusan kepada pemerintah dan berpuasa serta berhari-raya bersama pemerintah.

Diantara para ulama kita, adalah Asy-Syaikh Al-Albany yang berkata,”saya memandang atas penduduk suatu negeri hendaklah berpuasa bersama penguasanya, dan tidak berjalan sendiri sehingga yang terjadi sebagian kaum muslimin berpuasa bersama pemerintahnya namun sebagian lain tidak bersama pemerintahnya. Kadang mendahului pemerintahnya dan kadang lebih lambat. Sebab hal itu akan menambah luas perbedaan dalam satu negeri tersebut.” (Tamaamul minnah, hal. 398)

Sebagai pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya, adalah apa yang dituturkan Al-Imam Abu Dawud (1/307) mengenai ibadah haji, ketika di Mina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah shalat empat raka’at sedangkan Abdullah bin Mas’ud berpendapat sholat dengan mengqashar menjadi dua raka’at. Namun ketika di Mina Abdullah bin Mas’ud tetap sholat empat raka’at, lalu dikatakan kepada beliau,”Engkau menyalahkan Utsman tapi engkau tetap shalat empat raka’at?” Ibnu Mas’ud menjawab, ”Perselisihan itu jelek.”

Demikian juga Al-Imam Ismail Ash-Shabuni mengatakan, dan para ahli hadits memandang bahwa shalat jum’at, shalat dua hari raya dan shalat-shalat yang lain dilaksanakan di belakang komando seorang penguasa baik dia itu orang yang shalih atau tidak. (‘Aqidaatus Salaf Ashabul Hadits, hal. 92).

Sedikit lebih rinci, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjabarkan bahwa wewenang seorang penguasa muslim tertera dalam kitab-kitab Fiqih dan Akidah, yakni:

1. Penguasa muslim berwenang memimpin shalat jum’at dan shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha dan kaum muslimin shalat di belakangnya, kecuali bila penguasa itu mewakilkan kepada ulama atau kepada seorang penuntut ilmu syar’i, namun pada asalnya yang berhak memimpin adalah penguasa muslim tersebut.

2. Penguasa muslim berwenang mengurusi haji, mengatur para jama’ah haji dan memperhatikan kesulitan mereka.

3. Penguasa muslim berwenang menegakkan jihad fii sabilillah, dia berhak memberi komando, mengatur bendera perang dan merekrut pasukan. (Ittihaaful Qoori’, jilid 1/hal. 224-225 diterjemahkan secara ringkas).

Ini semua merupakan amalan dari hadits Rasulullah di atas dan Allah Jalla wa ‘Alaa mengingatkan dalam firman-Nya,

Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah serta Ulul Amri dari kalangan kalian(muslimin).”(QS. An-Nisaa’: 59)

Al-Imam Ath-Thabrani dalam tafsirnya menukil penjelasan Abu Hurairah, ”mereka adalah penguasa kaum muslimin.”

Demikianlah yang bisa kami sampaikan, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan generasi umat ini yang terbaik dalam memahami agama dan mengamalkannya adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam.


Diambil dari: http://www.salafybpp.com/5-artikel-terbaru/208-bergandeng-tangan-menyaksikan-hilal.html

Oleh: Al-Ustadz Abu Miqdad Harits

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Tanya Jawab: Akidah Setiap Muslim

Posted on 5 Maret 2011. Filed under: Akidah | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Untuk apa Allah menciptakan kita?
Bagaimana kita menyembah Allah Ta’ala?
Apakah kita menyembah kepada Allah dengan perasaan takut dan harapan?
Apa yang dimaksudkan Ihsan dalam ibadah?
Untuk apa Allah mengutus para rasul?
Apa yang dimaksud dengan tauhidullah?
Apa makna ungkapan : “laa ilaaha illallah”?
Apa makna tauhid dalam masalah sifat Allah?
Apa faedah tauhid bagi seorang muslim?
Dimana Allah?
Apakah Allah bersama kita dengan ilmu-Nya atau dengan Dzat-Nya?
Apa dosa yang paling besar?
Apa syirik besar itu?
Apa bahaya syirik besar?
Apakah amalan bermanfaat jika dibarengi dengan kesyirikan?
Apakah kesyirikan itu ada di kalangan kaum muslimin?
Apa hukum berdoa kepada selain Allah seperti para wali?
Apakah do’a itu ibadah kepada Allah?
Apakah orang mati mendengar doa?
Apakah kita minta bantuan kepada orang mati?

Apakah boleh minta pertolongan kepada selain Allah?
Apakah kita minta bantuan kepada yang hidup dan hadir?
Apakah boleh nadzar untuk selain Allah?
Apakah boleh menyembelih untuk selain Allah?
Apakah boleh thawaf di kuburan?
Apakah boleh sholat sementara kuburan ada di depan kita?
Apa hukum melakukan sihir?
Apakah kita boleh mempercayai dukun dan peramal?
Apakah ada yang mengetahui yang ghaib?
Dengan hukum apa kaum muslimin wajib menghukumi?

Apa hukum undang-undang yang bertentangan dengan Islam?
Apakah boleh bersumpah dengan selain Allah?
Apakah boleh menggantungkan kalung pengaman dan jimat?
Dengan apa kita bertawassul kepada Allah?
Apakah do’a memerlukan perantara makhluq?
Apa tugas yang diperankan rasul?
Dari siapa kita mohon syafa’at nabi?
Bagaimana kita mencintai Allah dan Rasulullah?
Apakah boleh berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah?
Siapa makhluq pertama kali?
Dari apa diciptakan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam?
Apa hukum jihad dijalan Allah?
Apa wala’ untuk orang beriman?
Apakah boleh berloyalitas kepada orang kafir dan menolong mereka?
Siapa wali itu?
Untuk apa Allah menurunkan Al-Qur’an?
Apakah kita mencukupkan diri dengan Alqur’an dari hadits?
Apakah kita mendahulukan satu ucapan diatas ucapan Allah dan rasul-Nya?
Apa yang kita lakukan jika kita berselisih?
Apa bid’ah dalam agama itu?
Apakah ada bid’ah yang baik?
Apakah dalam Islam ada sunnah yang baik?
Apakah cukup bagi seorang untuk memperbaiki diri sendiri?
Kapan kaum muslimin menang?

–ooOoo–

 

Soal 1: Untuk apa Allah menciptakan kita?

  • Jawaban:

Dia menciptakan kita agar beribadah kepada-Nya serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu”. (Adz-Dzariyat: 56)

Dalil dari sunnah:

حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئاً
“Hak Allah atas hambaNya bahwa mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun” (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 2: Bagaimana kita menyembah Allah Ta’ala?

  • Jawaban:

Sebagaimana Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Dalil dari Al-Qur`an:

ومَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan hanya mengikhlaskan diin untuk-Nya”. (Al-Bayyinah: 5)

Dalil dari sunnah:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ
“Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak ada dalam perkara kami maka amalan itu tertolak”. (HR. Muslim)

.

Soal 3: Apakah kita menyembah kepada Allah dengan perasaan takut dan harapan?

  • Jawaban:

Ya! Kita menyembah Allah dengan rasa takut dan harapan.

Dalil dari Al-Qur`an :

وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً
“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). (Al-A’raf: 56)

Dalil dari sunnah:

أسأل الله الجنة وأعوذ به من النار
“Aku memohon surga kepada Allah dan berlindung dengan-Nya dari neraka”. (HR. Abu Daud)

.

Soal 4: Apa yang dimaksudkan Ihsan dalam ibadah?

  • Jawaban:

Merasa diawasi oleh Allah saja, yang Dia selalu melihat kita.

Dalil dari Al-Qur`an:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
“Sesungguhnya Allah atas kalian selalu mengawasi”. (An-Nisa`:1)

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ
“Yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk shalat)” (Asy-Syu’ara`:218)

Dalil dari sunnah:

الإحسان أن تعبدوا الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu”. (HR. Muslim)

.

Soal 5: Untuk apa Allah mengutus para rasul?

  • Jawaban:

Untuk mengajak beribadah hanya kepada-Nya dan menghilangkan penyekutuan dari-Nya.

Dalil dari Al-Qur`an :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[1] itu” (An-Nahl: 36)

Dalil dari sunnah:

والأنبياء إخوة ودينهم واحد
“Para nabi itu bersaudara dan agama mereka satu (yakni semua rasul mengajak kepada tauhid)”. (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 6: Apa yang dimaksud dengan tauhidullah?

  • Jawaban :

Mengesakan-Nya dalam Ibadah, do’a, nadzar dan hukum.

Dalil dari Al-Qur`an:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah”. (Muhammad: 19)

Dalil dari sunnah:

فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله
“Hendaklah yang pertama kali engkau menyeru mereka kepadanya persaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah”. (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 7: Apa makna ungkapan : “laa ilaaha illallah”?

  • Jawaban:

Tidak ada yang disembah dengan haq kecuali Allah saja.

Dalil dari Al-Qur`an:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِل
Demikian itu karena Alloh adalah Dialah yang haq dan apa yang mereka seru selainnya adalah yang batil. (Al-Hajj: 62)

Dalil dari sunnah:

من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه
“Barang siapa yang berkata: “tidak ada Ilah yang haq disembah kecuali Allah, haramlah hartanya (untuk diambil) dan darahnya (untuk ditumpahkan)”. (HR. Muslim)

.

Soal 8: Apa makna tauhid dalam masalah sifat Allah?

  • Jawaban:

Mengukuhkan apa yang disifatkan Allah dan Rasul-Nya untuk diri-Nya.

Dalil dari Al-Qur`an:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada yang seperti Dia sesuatu-pun, dan Dia Maha Mendengar dan Melihat. (Asy-Syuraa: 11)

Dalil dari sunnah:

ينـزل ربنا تبارك وتعالى في كل ليلة إلى السماء الدنيا
“Rabb kita Yang Maha Agung dan Maha Tinggi setiap malam turun ke langit dunia”. (Muttafaqun ‘alaihi)[2]

.

Soal 9: Apa faedah tauhid bagi seorang muslim?

  • Jawaban:

Petunjuk di dunia dan keamanan di akherat.

Dalil dari Al-Qur`an:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka mendapatkan keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (Al-An’am: 82)

Dalil dari sunnah:

حق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاً
“Hak hamba terhadap Allah bahwa Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 10: Dimana Allah?

  • Jawaban :

Allah di atas langit, diatas Arsy.

Dalil dari Al-Qur`an:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas Arsy”. (Thaha: 5)[3]

Dalil dari sunnah:

إن الله كتب كتاباً إن رحمتي سبقت غضبي فهو مكتوب عنده فوق العرش
Sesungguhnya Allah telah menulis: (yang tertulis di dalamnya) “sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku kitab itu tertulis di sisi-Nya di atas Arsy”. (HR. Bukhari)

.

Soal 11: Apakah Allah bersama kita dengan ilmu-Nya atau dengan Dzat-Nya?

  • Jawaban :

Allah bersama kita dengan ilmu-Nya mendengar dan melihat.

Dalil dari Al-Qur`an:

قَالَ لا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
“Allah berfirman: jangan kalian berdua takut sungguh Aku bersama kalian berdua mendengar dan melihat.” (Thaha: 46)

Dalil dari sunnah:

إنكم تدعون سميعاً قريباً وهو معكم
“Sesungguhnya kalian menyeru Dzat Yang Maha Mendengar Maha Dekat dan Dia bersama kalian. Yaitu dengan Ilmu-Nya melihat dan mendengar kalian.” (HR. Muslim)

.

Soal 12: Apa dosa yang paling besar?

  • Jawaban:

Dosa yang paling besar adalah syirik menyekutukan Allah.

Dalil dari Al-Qur`an:

يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu kezhaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Dalil dari sunnah:

سئل صلى الله عليه وسلم أي الذنب أعظم قال : أن تدعو لله ندّاً وهو خلقك
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang dosa apa yang paling besar. Beliau bersabda: “Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu”. (HR. Muslim)

.

Soal 13: Apa syirik besar itu?

  • Jawaban:

Yaitu mengarahkan ibadah untuk selain Allah seperti do’a.

Dalil dari Al-Qur`an:

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلا أُشْرِكُ بِهِ أَحَداً
“Katakanlah tiada lain aku menyeru (berdoa) kepada Rabb-ku dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (Al-Jin: 20)

Dalil dari sunnah:

أكبر الكبائر الإشراك بالله
“Dosa yang paling besar dari dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah”. (HR. Bukhari)

.

Soal 14: Apa bahaya syirik besar?

  • Jawaban:

Syirik besar penyebab kekal di neraka.

Dalil dari Al-Qur`an:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka”. (Al-Maa`idah: 72)

Dalil dari sunnah :

من مات يشرك بالله شيئاً دخل النار
“Barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

.

Soal 15: Apakah amalan bermanfaat jika dibarengi dengan kesyirikan?

  • Jawaban:

Amal tidak bermanfaat jika dibarengi dengan syirik.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al-An’am: 88)

Dalil dari sunnah:

من عمل عملاً أشرك فيه معي غيري تركته وشركه

“Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang dia menyekutukan didalamnya selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya”. (HR. Muslim)

.

Soal 16: Apakah kesyirikan itu ada di kalangan kaum muslimin?

  • Jawaban:

Ya!, banyak dan amat di sayangkan.

Dalil dari Al-Qur`an :

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Yusuf: 106)

Dalil dari sunnah :

لا تقوم الساعة حتى تلحق قبائل من أمتي بالمشركين وحتى تعبد الأوثان
“Tidaklah terjadi kiamat sehingga beberapa kabilah dari umatku bergabung dengan musyrikin dan sehingga berhala disembah.” (HR. Tirmidzi)

.

Soal 17: Apa hukum berdoa kepada selain Allah seperti para wali?

  • Jawaban:

Berdoa kepada mereka suatu kesyirikan memasukkan ke neraka.

Dalil dari Al-Qur`an:

فَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ
“Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab”. (Asy-Syu’ara`: 213)

Dalil dari sunnah :

من مات وهو يدعو من دون الله ندّاً دخل النار
“Barang siapa mati dan dia menyeru selain Allah sebagai tandingan pastilah ia masuk neraka.” (HR. Bukhari)

.

Soal 18: Apakah do’a itu ibadah kepada Allah?

  • Jawaban:

Ya, doa adalah ibadah kepada Allah ta’ala.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Dalil dari sunnah:

الدعاء هو العبادة
“Doa itu ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Soal 19: Apakah orang mati mendengar doa?

  • Jawaban:

Orang-orang mati tidak mendengar doa.

Dalil dari Al-Qur`an :

إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى
“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar..” (An-Naml: 80)

وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (Fathir: 22)

Dalil dari sunnah:

إن لله ملائكة سياحين في الأرض يبلغون عن أمتي السلام
“Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat-Malaikat yang terbang ke berbagai tempat di bumi menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (HR. Ahmad)

.

Soal 20: Apakah kita minta bantuan kepada orang mati?

  • Jawaban:

Kita tidak minta bantuan kepada mereka, bahkan kita istighatsah kepada Allah.

Dalil dari Al-Qur`an:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
“Ingatlah ketika kalian istigatsah kepada Rabb kalian maka Dia mengabulkan bagi kalian”. (Al-Anfal: 9)

Dalil dari sunnah:

كان إذا أصابه هم أو غم قال : يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث
“Adalah Nabi jika terkena kesusahan dan kesedihan beliau berdoa : “wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Mengurusi Makhluk-Nya dengan rahmat-Mu aku beristighatsah”. (Hadits Hasan)

.

Soal 21: Apakah boleh minta pertolongan kepada selain Allah?

  • Jawaban:

Tidak boleh minta pertolongan kecuali kepada Allah.

Dalil dari Al-Qur`an:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (Al-Fatihah: 5)

Dalil dari sunnah:

إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله
“Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau memohon pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah”. (HR. Tirmidzi)

.

Soal 22: Apakah kita minta bantuan kepada yang hidup dan hadir?

  • Jawaban:

Ya, (yaitu) apa yang mereka mampu melakukannya.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah dalam masalah kebajikan dan taqwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al-Ma`idah: 2)

Dalil dari sunnah:

والله في عون العبد ما دام العبد في عون أخيه
“Allah senantiasa membantu seorang hamba, selama hamba tersebut membantu saudaranya”.

.

Soal 23: Apakah boleh nadzar untuk selain Allah?

  • Jawaban:

Tidak boleh nadzar kecuali untuk Allah.

Dalil dari Al-Qur`an:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Ali-Imran: 35)

Dalil dari sunnah:

من نذر أن يطيع الله فليطعه ومن نذر أن يعصيه الله فلا يعصه
“Siapa yang bernadzar untuk taat kepada Allah hendaklah ia mentaatinya (melaksanakan nadzarnya) dan barang siapa bernadzar untuk maksiat kepada Allah, maka janganlah ia mendurhakai-Nya (yaitu dengan tidak melaksanakan nadzarnya)”. (HR. Bukhari)

.

Soal 24: Apakah boleh menyembelih untuk selain Allah?

  • Jawaban:

Tidak boleh, karena hal itu termasuk syirik besar.
Dalil dari Al-Qur`an:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah (untukNya saja). (Al-Kautsar: 2)

Dalil dari sunnah:

لعن الله من ذبح لغير الله
“Semoga Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah”. (HR. Muslim)

.

Soal 25: Apakah boleh thawaf di kuburan?

  • Jawaban:

Tidak boleh thawaf kecuali di Ka’bah.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Dan thawaflah kalian di Rumah Atiq tersebut (Ka’bah)”. (Al-Hajj: 29)

Dalil dari sunnah:

من طاف بالبيت سبعا وصلى ركعتين كان كعتق رقبة
“Barang siapa yang thawaf di Baitullah tujuh kali dan shalat dua raka’at, adalah seperti memerdekakan budak”. (HR. Ibnu Majah)

.

Soal 26: Apakah boleh shalat sementara kuburan ada di depan kita?

  • Jawaban:

Tidak boleh shalat ke-arah kuburan.

Dalil dari Al-Qur`an:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Maka arahkanlah wajahmu ke Al-Masjidil Haram yaitu menghadaplah ke Ka’bah. (Al-Baqarah: 144)

Dalil dari sunnah:

لا تجلسوا على القبر ولا تصلّوا إليها
“Janganlah kalian duduk diatas kuburan dan janganlah shalat kepadanya”. (HR. Muslim)

.

Soal 27: Apa hukum melakukan sihir?

  • Jawaban:

Hukum melakukan sihir adalah kafir.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْر
“..Akan tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajari manusia sihir.” (Al-Baqarah: 102)

Dalil dari sunnah:

اجتنبوا الموبقات : الشرك بالله، والسحر
“Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan : syirik, sihir…..” (HR. Muslim)

.

Soal 28: Apakah kita boleh mempercayai dukun dan peramal?

  • Jawaban:

Kita tidak boleh mempercayai keduanya dalam memberitakan masalah ghaib.

Dalil dari Al-Qur`an:

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan”. (An-Naml: 65)

Dalil dari sunnah:

من أتى عرافاً أو كاهناً فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد
“Barang siapa yang mendatangi paranormal atau dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad)

Soal 29: Apakah ada yang mengetahui yang ghaib?

  • Jawaban:

Tidak ada satupun yang mengetahui yang ghaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalil dari Al-Qur `an:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ
“Dan di sisi-Nya kunci-kunci ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia”. (Al-An’am: 59)

Dalil dari sunnah:

لا يعلم الغيب إلا الله
“Tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Dia”. (HR. Thabarani)

.

Soal 30: Dengan hukum apa kaum muslimin wajib menghukumi?

  • Jawaban:

Mereka wajib menghukumi dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Dalil dari Al-Qur `an:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang yang kafir”. (Al-Maa`idah: 44)

Dalil dari sunnah:

الله هو الحكم وإليه المصير
“Allah adalah penentu hukum, dan kepada-Nya tempat kembali.” (HR. Abu Daud)

.

Soal 31: Apa hukum undang-undang yang bertentangan dengan Islam?

  • Jawaban:

Mengamalkannya hukumnya kafir, jika ia membolehkannya.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
“Dan hukumilah diantara mereka dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah”. (Al-Maa`idah: 49)

Dalil dari sunnah:

ومن لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم شديد
“Dan barang siapa yang pemimpin-pemimpin mereka tidak menghukumi dengan kitab Allah dan memilih dari apa yang Allah turunkan kecuali Allah jadikan permusuhan kuat diantara mereka.”

.

Soal 32: Apakah boleh bersumpah dengan selain Allah?

  • Jawaban:

Tidak boleh bersumpah kecuali dengan Nama Allah.

Dalil dari Al-Qur`an:

بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُن
“Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan..”. (At-Taghabun: 7)

Dalil dari sunnah:

من حلف بغير الله فقد أشرك
“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh ia telah musyrik”. (HR. Ahmad)

.

Soal 33: Apakah boleh menggantungkan kalung pengaman dan jimat?

  • Jawaban:

Tidak boleh menggantungkannya, karena hal tersebut termasuk syirik.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُو
“Dan jika menimpamu suatu bahaya, maka tidak ada yang bisa menghilangkan kecuali Dia”. (Al-An’am: 17)

Dalil dari sunnah:

من علق تميمة فقد أشرك
“Barang siapa menggantungkan azimat maka ia telah musyrik”. (HR. Ahmad)

.

Soal 34: Dengan apa kita bertawassul kepada Allah?

  • Jawaban:

Kita tawassul kepada Allah dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan amal shaleh.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Milik Allah-lah nama-nama yang baik maka berdo’alah dengannya”. (Al-A’raf: 18)

Dalil dari sunnah:

أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك
“Aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang dia adalah milik-Mu, yang Engkau beri nama dengannya akan Dzat-Mu”. (HR. Ahmad)

.

Soal 35: Apakah do’a memerlukan perantara makhluq?

  • Jawaban:

Doa tidak memerlukan perantara.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Jika hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan do’a orang yang berdo’a jika berdo’a kepada-Ku”. (Al-Baqarah: 186)

Dalil dari sunnah:

إنكم تدعون سميعاً قريباً وهو معكم
“Sesungguhnya engkau berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Dekat, dan Dia bersamamu”. (HR. Muslim)

.

Soal 36: Apa tugas yang diperankan Rasul?

  • Jawaban :

Tugas yang diperankan Rasul adalah menyampaikan wahyu.

Dalil dari Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. (Al-Maa`idah: 67)

Dalil dari sunnah:

اللهم اشهد
“Ya Allah saksikanlah.” (HR. Muslim, –ini adalah jawaban beliau atas ucapan sahabat yang berkata; “kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan amanah, dan menasehati”)

.

Soal 37: Dari siapa kita memohon syafa’at nabi?

  • Jawaban:

Kita memohon syafa’at Nabi dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalil dari Al-Qur`an:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعاً
“Katakanlah; hanya milik Allah-lah seruruh syafa’at”. (Az-Zumar: 44)

Dalil dari sunnah:

اَللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ
“Ya Allah jadikanlah dia (Rasul) pemberi syafa’at untukku”. (HR. At-Tirmidzi)

.

Soal 38: Bagaimana kita mencintai Allah dan Rasulullah?

  • Jawaban:

Cinta dengan bentuk ketaatan dan mengikuti perintah.

Dalil dari Al-Qur`an:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah) niscaya Allah mencintai kalian.” (Ali-Imran: 31)

Dalil dari sunnah:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين
“Tidaklah beriman seorang diantara kalian sehingga aku lebih ia cintai dari pada cintanya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)

.

Soal 39: Apakah boleh berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah?

  • Jawaban:

Kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam memuji Rasul.

Dalil dari Al-Qur `an:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku..”. (Al-Kahfi: 110)

Dalil dari sunnah :

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم فإنما أنا عبد فقولوا عبد الله ورسوله
“Jangan kalian melebih-lebihkan aku sebagaimana Nasrani melebih-lebihkan Isa bin Maryam, tiada lain aku adalah seorang hamba, maka katakanlah; “hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari)

.

Soal 40: Siapa makhluq pertama kali?

  • Jawaban:

Dari manusia Adam, dari benda pena.

Dalil dari Al-Qur`an:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِنْ طِينٍ
“Ingatlah ketika Rabb-Mu berfirman kepada para Malaikat; “sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)

Dalil dari sunnah:

إن أول ما خلق الله القلم
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi)

.

Soal 41: Dari apa diciptakan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam?

  • Jawaban:

Allah menciptakan Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dari nutfah.

Dalil dari Al-Qur`an:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَة
“Dia-lah yang menciptakan kalian dari tanah kemudian dari nutfah”. (Ghafir: 67)

Dalil dari sunnah:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوماً نطفة
“Sesungguhnya seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nutfah”. (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 42: Apa hukum jihad dijalan Allah?

  • Jawaban:

Jihad wajib dengan harta, jiwa dan lisan.

Dalil dari Al-Qur`an:

انْفِرُوا خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
“Berangkatlah jihad dalam kondisi ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian”. (At-Taubah: 41)

Dalil dari sunnah:

جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم
“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta kalian, jiwa kalian dan lidah kalian”. (HR. Abu Daud)

.

Soal 43: Apa wala’ untuk orang beriman?

  • Jawaban:

Yaitu cinta, menolong orang-orang yang beriman yang bertauhid.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْض
“Orang beriman laki dan perempuan sebagian mereka sebagai wali sebagian yang lainnya”. (At-Taubah: 71)

Dalil dari sunnah:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضاً
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lainnya seperti satu bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lainnya”. (HR. Muslim)

.

Soal 44: Apakah boleh berloyalitas kepada orang kafir dan menolong mereka?

  • Jawaban:

Tidak boleh berloyalitas kepada orang kafir dan menolong mereka.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُم
“Barang siapa mengambil mereka sebagai wali maka sesungguhnya dia termasuk dari golongan mereka”. (Al-Maa`idah: 51)

Dalil dari sunnah:

إن آل بني فلان ليسوا لي بأولياء
“Sesungguhnya keluarga bani fulan bukan waliku (karena mereka orang kafir)”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Soal 45: Siapa wali itu?

  • Jawaban:

Wali adalah orang beriman yang bertaqwa.

Dalil dari Al-Qur`an:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati”. (Yunus: 62)

Dalil dari sunnah:

إن وليي الله وصالح المؤمنين
“Sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang beriman yang shaleh”. (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 46: Untuk apa Allah menurunkan Al-Qur`an?

  • Jawaban:

Allah menurunkan Al-Qur`an untuk diamalkan.

Dalil dari Al-Qur`an:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاء
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan ikuti wali-wali selain-Nya”. (Al-A’raf: 3)

Dalil dari sunnah:

اقروا القرآن واعملوا به ولا تستكثروا به
“Bacalah Al-Qur`an dan amalkan, jangan engkau memperbanyak harta dengannya”. (HR. Ahmad)

.

Soal 47: Apakah kita mencukupkan diri dengan Al-Qur`an dari hadits.

  • Jawaban:

Kita tidak mencukupkan diri dengan Al-Qur`an dari hadits.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan telah kami turunkan peringatan kepadamu agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka”. (An-Nahl: 44)

Dalil dari sunnah:

ألا وإني أوتيت القرآن ومثله معه
“Ketauhilah sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan semisal dengannya”. (HR. Abu Daud)

.

Soal 48: Apakah kita mendahulukan satu ucapan diatas ucapan Allah dan rasul-Nya?

  • Jawaban:

Kita tidak mendahulukan satu ucapan diatas ucapan Allah dan Rasul-Nya.

Dalil dari Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului dihadapan Allah dan Rasul-Nya”. (Al-Hujurat: 1)

Dalil dari sunnah:

لا طاعة لأحد في معصية الله إنما الطاعة في المعروف
“Tidak ada ketaatan untuk seseorang dalam maksiat kepada Allah, tiada lain ketaatan itu ada dalam hal yang baik”. (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 49: Apa yang kita lakukan jika kita berselisih?

  • Jawaban:

Kita kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah.

Dalil dari Al-Qur`an:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya)..” (An-Nisa`: 59)

Dalil dari Sunnah:

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما إن تمسكتم بهما كتاب الله وسنة رسوله
“Aku telah tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh dengan keduanya yaitu kitab Allah dan sunnah rasul-Nya”.

.

Soal 50: Apa bid’ah dalam agama itu?

  • Jawaban:

Semua yang tidak ada dalil syar’i atasnya.

Dalil dari Al-Qur`an:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّه
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”. (Asy-Syuraa: 21)

Dalil dari sunnah:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
“Barang siapa yang mengada-adakan dalam perkara kami ini, apa yang bukan darinya maka ia tertolak”. (Muttafaqun ‘alaihi)

.

Soal 51: Apakah ada bid’ah hasanah (yang baik)?

  • Jawaban:

Tidak ada bid’ah hasanah.

Dalil dari Al-Qur’an:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu”. (Al-Maa`idah: 3)

Dalil dari sunnah:

إياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة
“Jauhilah oleh kalian semua yang diada adakan, karena semua yang diada adakan itu bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Daud)

.

Soal 52: Apakah dalam Islam ada sunnah yang baik?

  • Jawaban:

Ya seperti orang yang memulai perbuatan baik supaya ditiru.

Dalil dari Al-Qur`an:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
“Dan jadikanlah aku imam untuk orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqan: 74)

Dalil dari sunnah:

من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها من بعده
“Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang baik, baginya pahalanya dan pahala yang melakukan setelahnya”. (HR. Muslim)

.

Soal 53: Apakah cukup bagi seorang untuk memperbaiki diri sendiri?

  • Jawaban:

Harus memperbaiki diri sendiri dan keluarganya.

Dalil dari Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”. (At-Tahrim: 6)

Dalil dari sunnah:

إن الله تعالى سائل كل راع عما استرعاه أحفظ ذلك أم ضيعه
“Sesungguhnya Allah ta’ala akan meminta pertanggung-jawaban setiap pemimpin dari apa yang dipimpinnya, apakah menjaganya atau menyia-nyiakannya”.

.

Soal 54: Kapan kaum muslimin menang?

  • Jawaban:

Jika mengamalkan kitab Rabb mereka dan sunnah nabi mereka.

Dalil dari Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, Allah pasti menolong kalian dan meneguhkan kaki kalian”. (Muhammad: 7)

Dalil dari sunnah:

لا تزال طائفة من أمتي منصورين
“Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku menang tertolong”. (HR. Ibnu Majah)

.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


(1) Thaghut: ialah setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(2) Turun sesuai dengan keagungan-Nya dan kesucian-Nya.

(3) Bersemayam di atas Arsy ialah salah-satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya.

.

(Dinukil dari عقيدة المسلم “Aqidah Setiap Muslim”, Penulis: Syaikh Muhammad Jamil Zainu)

sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=459
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

Sepuluh Hal Pembatal Keislaman Seseorang

Posted on 23 Februari 2011. Filed under: Akidah, Nasehat | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

HAL- HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN

Segala puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala) , Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang terahir Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), para keluarga dan para Sahabat beliau, serta kepada orang- orang yang setia mengikuti petunjuk beliau.

Selanjutnya : ketahuilah, wahai saudaraku kaum muslimin, bahwa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah mewajibkan kepada seluruh hamba – hambaNya untuk masuk ke dalam agama Islam dan berpegang teguh denganya serta berhati –hati untuk tidak menyimpang darinya.

Allah juga telah mengutus NabiNya Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) untuk berdakwah ke dalam hal ini, dan memberitahukan bahwa barangsiapa bersedia mengikutinya akan mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang menolaknya akan sesat.

Allah juga mengingatkan dalam banyak ayat- ayat Al-Qur’an untuk menghindari sebab- sebab kemurtadan, segala macam kemusyrikan dan kekafiran.

Para ulama rahimahumullah telah menyebutkan dalam bab hukum kemurtadan, bahwa seorang muslim bisa di anggap murtad (keluar dari agama Islam) dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman, yang menyebabkan halal darah dan hartanya dan di anggap keluar dari agama Islam.

Yang paling berbahaya dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang di sebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama lainnya, dan kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit tambahan penjelasan untuk anda, agar anda dan orang – orang selain anda berhati hati dari hal ini, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.

Pertama:
Diantara sepuluh hal yang membatalkan keislaman tersebut adalah mempersekutukan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) ( syirik ) dalam beribadah.
Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari  syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” (An-Nisa’  : 116)

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya (kelak) ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun”. (Al- Maidah : 72).

Dan di antara perbuatan kemusyrikan tersebut adalah ; meminta do’a dan pertolongan kepada orang- orang yang telah mati, bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka.

Kedua:
Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah (Subhanahu wa Ta’ala), meminta do’a dan syafaat serta bertawakkal ( berserah diri ) kepada perantara tersebut.
Orang yang melakukan hal itu, menurut ijma’ ulama ( kesepakatan) para ulama, adalah kafir.

Ketiga :
Tidak menganggap kafir orang- orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan konsep mereka. Orang yang demikian ini adalah kafir.

Keempat:
Berkeyakinan bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari beliau lebih baik, seperti ; mereka yang mengutamakan aturan – aturan thaghut (aturan–aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang dari hukum Allah ), dan mengesampingkan hukum Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , maka orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir.

Kelima :
Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , meskipun ia sendiri mengamalkannya. Orang yang sedemikian ini adalah kafir. Karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah  menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. (Muhammad : 9)
Keenam:
Memperolok–olok sesuatu dari ajaran Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), atau memperolok – olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan agama Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka orang yang demikian menjadi kafir, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ . لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (At- Taubah : 65- 66).

Ketujuh :
Sihir di antaranya adalah ilmu guna-guna yang merobah kecintaan seorang suami terhadap istrinya menjadi kebencian, atau yang menjadikan seseorang mencintai orang lain, atau sesuatu yang di bencinya dengan cara syaitani dan orang yang melakukan hal itu adalah kafir, karena Allah (Subhanahu wa Ta’ala) telah berfirman :

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

“…sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. (Al-Baqarah : 102)

Kedelapan:
Membantu dan menolong orang–orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Al- Maidah: 51)

Kesembilan:
Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam) , maka yang berkeyakinan seperti ini adalah kafir. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali- Imran: 85).

Kesepuluh :
Berpaling dari ِِAgama Allah (Subhanahu wa Ta’ala); dengan tanpa mempelajari dan tanpa melaksanakan ajarannya. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling
daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As- Sajadah : 22).

Dalam hal- hal yang membatalkan keislaman ini, tak ada perbedaan hukum antara yang main-main, yang sungguh- sungguh (yang sengaja melanggar) ataupun yang takut, kecuali orang yang di paksa. Semua itu merupakan hal- hal yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Maka setiap muslim hendaknya menghindari dan takut darinya. Kita berlindung kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dari hal- hal yang mendatangkan kemurkaan Nya dan kepedihan siksaanNya. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada makhluk Nya yang terbaik, para keluarga dan para sahabat beliau. Dengan ini maka habis dan selesai kata-katanya. Rahimahullah.

Termasuk dalam nomor empat :
Orang yang berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang–undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam, atau bahwa syariat Islam tidak tepat untuk diterapkan pada abad ke dua puluh ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu terbatas dalam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur urusan kehidupan yang lain.

Juga orang yang berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah Ta’ala dan memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina (muhsan) yang telah kawin tidak sesuai lagi di masa kini.

Demikian juga orang yang berkeyakinan diperbolehkannya menerapkan hukum selain hukum Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam segi mu’amalat syar’iyyah, seperti perdagangan, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain sebagainya, atau dalam menentukan hukum pidana, atau lain-lainnya, sekalipun tidak disertai dangan keyakinan bahwa hukum- hukum tersebut lebih utama dari pada syariat Islam.

Karena dengan demikian ia telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) , menurut kesepakatan para ulama’. Sedangkan setiap orang yang telah menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dalam agama, seperti zina, minum arak, riba dan penggunaan perundang-undangan selain Syariat Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka ia adalah kafir, merurut kesepakatan para umat Islam.

Kami mohon kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala) agar memberi taufiq kepada kita semua untuk setiap hal yang di ridhai-Nya, dan memberi petunjuk kepada kita dan kepada seluruh umat Islam jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya Allah (Subhanahu wa Ta’ala) adalah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad (Shalallahu ‘alaihi Wassalam), kepada para keluarga dan para shahabat beliau.

 

________________________________________________________________________________
(Dinukil dari kitab نواقض الإسلام oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, edisi Indonesia Hal-hal yang membatalkan Keislaman)

sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=235

 


Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Rambu-rambu dalam Beribadah

Posted on 7 Februari 2011. Filed under: Manhaj, Nasehat | Tag:, , , , , , , , , , , , , , |

Kata ibadah tentu sangat akrab bagi kaum muslimin. Ibadah merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang muslim. Bahkan tujuan diciptakannya manusia dan jin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tiada lain hanya untuk beribadah kepadaNya.

Di tengah rutinitas menjalankan aktivitas ibadah, bisa jadi tidak semua muslim paham makna ibadah itu sendiri. Padahal, ketidakpahaman makna ibadah bisa mengakibatkan tertolaknya ibadah yang dilakukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al Ubudiyyah menerangkan, ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bisa terdiri dari ucapan maupun perbuatan, baik nampak maupun tidak.

Semua yang Allah cintai telah Allah bawakan dalam Al Qur’an dan diterangkan oleh RasulNya. Begitu pula apa yang Allah benci, telah Allah jelaskan. Sehingga di dalam Al Qur’an dan Al Hadits, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan suatu perbuatan karena Allah mencintainya dan Allah melarang sebuah perbuatan karena Allah membencinya. Karena itu, dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyyah mengatakan ibadah adalah taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan melakukan apa yang Allah perintahkan melalui lisan para RasulNya.

Pendapat Al Qurthuby bisa melengkapi penjelasan Ibnu Taimiyyah. Menurut Al Qurthuby, asal ibadah adalah kehinaan dan ketundukan. Karena itu amalan-amalan syar’i pada seorang mukallaf (seorang mukmin yang sudah terbebani syariat) disebut ibadah karena mereka mengamalkannya dalam keadaan tunduk dan menghinakan diri di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari dua pengertian ibadah tersebut, diperoleh penjelasan bahwa sesuatu dikatakan sebagai ibadah kepada Allah jika dilakukan pada segala yang dicintai dan diridhai Allah serta dilakukan dalam keadaan tunduk dan hina di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dari sini, dipahami pula bahwa ibadah terbagi ke dalam dua jenis, yaitu ibadah lahir dan ibadah batin. Ibadah lahir mencakup ucapan lisan dan perbuatan anggota badan seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan seterusnya.

Dalam melakukan ibadah, seseorang harus memiliki landasan agar ibadah tersebut diterima Allah. Dalam hal ini, para ulama menjelaskan, ada tiga landasan yang harus dimiliki seorang muslim dalam beribadah. Landasan pertama adalah mahabbah, yaitu rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, RasulNya Shalallahu Alaihi Wa Sallam, dan syariatNya. Landasan kedua adalah raja’, yaitu mengharap pahala dan rahmat Allah, dan yang ketiga adalah khauf, rasa takut dari siksa Allah dan khawatir akan nasib jelek di akhirat nanti.

Seorang ulama bernama Ibnu Rajab Al Hambaly mengatakan, ibadah hanya akan terbangun di atas tiga prinsip, yaitu khauf, raja’, dan mahabbah. Masing-masing dari ketiganya harus ada dan wajib menggabungkannya. Karena itu para ulama salaf mencela orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan salah satunya saja. Demikian Ibnu Rajab menerangkan. (Syarh Wasithiyyah karya Abdul Aziz Ar Rasyid hal. 76).

Sebagian ulama salaf bahkan mengatakan, barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan cinta, dia adalah zindiq (orang yang menyembunyikan kekafiran). Siapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya dengan rasa takut maka dia adalah harury (Khawarij, yang menganggap setiap yang berdosa besar telah kafir). Siapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan raja’ (penuh optimis), maka dia adalah murji’ (orang yang menganggap amal shaleh tidak berpengaruh terhadap imannya, selama masih ada iman di hatinya). Dan barangsiapa beribadah kepada Allah dengan cinta, takut, dan mengharap maka dialah orang yang bertauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Ma’arijul Qabul 2/437).

Jadi, pengakuan cinta kepada Allah tanpa disertai rasa hina, takut, mengharap, dan tunduk kepada Allah adalah pengakuan dusta. Karena itu, sering dijumpai orang yang berperilaku demikian seringkali terjatuh dalam maksiat dan dilakukan tanpa ia peduli. Demikian pula orang yang hanya memiliki sikap raja’ (mengharap, penuh optimis dengan ampunan Allah), jika terus dalam keadaan demikian akan berakibat berani melakukan maksiat dan merasa aman dari makar Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Dan orang yang hanya memiliki rasa takut dalam beribadah kepada Allah, jika terus dalam keadaan demikian akan berakibat su’udhan (buruk sangka) kepada Allah dan akan berputus asa dari rahmatNya.

Perlu diketahui dan diingat pula bahwa tidak semua ibadah yang dilakukan seorang hamba akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah baru akan menerima ibadah bila memenuhi syaratnya. Allah jelaskan dalam surat Al Kahfi ayat 110, artinya:
“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah hendaknya ia beramal shaleh dan tidak membuat sekutu di dalam ibadah kepada Rabb-nya sesuatupun.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan dalam ayat ini bahwa seseorang yang menghendaki pertemuan denganNya hendaklah melakukan dua hal.

Pertama, beramal shaleh menuruti syariat ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Hal ini mutlak dilakukan, sebab bila menyalahi contoh Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam akan ditolak karena terjerumus ke dalam bid’ah. Hal ini sebagaimana Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam jelaskan :
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintahku maka tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah).

Kedua, tidak membuat sekutu apapun dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Artinya, ia harus benar-benar ikhlas dalam ibadahnya. Hanya ia niatkan dan tujukan kepada Allah semata. Tidak kepada selainNya, baik benda-benda yang dikeramatkan atau makhluk-makhluk yang tidak mampu memberikan manfaat atau mudharat.

Orang yang melakukan kesyirikan dalam ibadahnya akan Allah tolak sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala terangkan dalam hadits Qudsi :
“Aku paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan ibadah yang ia menyekutukan Aku, maka aku akan meninggalkannya bersama sekutunya.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menerangkan di dalam Al Qur’an :
“Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kalian siapakah yang paling baik amalannya.” (Al Mulk : 2-3).

Perhatikan, Allah menyatakan yang paling baik amalannya bukan sekadar paling banyak amalannya, tetapi salah. Seorang ulama bernama Abu Ali Fudhail bin Iyadh berkata menafsiri ayat tersebut : “Yakni yang paling ikhlas dan paling benar”. Beliau ditanya, “Wahai Abu Ali, bagaimana yang paling ikhlas dan paling benar itu ?” Beliau menjawab, “sesungguhnya sebuah amalan jika ikhlas tapi tidak benar, tidak akan diterima. Dan jika benar tapi tidak ikhlas, tidak diterima hingga menjadi benar dan ikhlas (baru diterima). (Majmu’ Fatawa 11/6)

Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya akan menerima ibadah seorang hamba jika dilakukan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam dan dipersembahkan hanya untukNya semata. Ibadah itu juga dilakukan dengan dilandasi rasa cinta, penuh mengharap, dan juga takut. Dengan demikikan sempurnalah ibadah itu dan diharap Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerimanya. Wallahu A’lam.

 

Penulis: al-Ustadz Qomar Zainuddin, Lc
http://www.geocities.com/dmgto/ahkam201/rambu.htm
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...